ROKAN HILIR — Minyak jelantah yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah tak berguna dan dibuang sembarangan kini disulap menjadi produk bernilai ekonomis. Sebanyak 25 warga dari tiga desa di Kecamatan Bangko Pusako, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, mendapat pembekalan keterampilan mengolah minyak jelantah menjadi sabun dan lilin aromaterapi melalui program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) MALIKA 2.0 (Mari Kelola Jelantah Kita) yang diinisiasi oleh PT Patra Drilling Contractor (PDC).

Pelatihan yang berlangsung pada 14–16 Juli 2026 ini melibatkan warga dari Desa Bangko Bakti, Desa Bangko Jaya, dan Desa Bangko Permata. Selama tiga hari kegiatan, para peserta tidak hanya diedukasi mengenai dampak buruk pembuangan minyak jelantah terhadap lingkungan, tetapi juga dilatih langsung teknik penanganan dan pengolahan limbah hingga menghasilkan 12 liter produk bernilai guna.
Program MALIKA 2.0 merupakan pengembangan lanjutan dari program serupa yang pertama kali sukses dilaksanakan oleh PDC pada tahun 2025 lalu. Pada pelaksanaannya tahun ini, cakupan wilayah diperluas ke tiga desa serta dilengkapi dengan komitmen pendampingan intensif selama tiga bulan ke depan guna memperkuat keterampilan peserta dan menjaga keberlanjutan program.
Sebagai perusahaan penunjang energi yang memiliki lini bisnis Food & Lodging Services (FLS)—mengelola layanan katering dan housekeeping di berbagai wilayah operasi migas—PDC menghasilkan limbah minyak jelantah yang menuntut pengelolaan secara bertanggung jawab. Berangkat dari pengalaman operasional tersebut, PDC berinisiatif membagikan praktik baiknya kepada masyarakat sekitar.
Assistant Manager Food & Lodging Services PDC, Febriyanti Lestari Rahayu, menjelaskan bahwa program ini bertujuan mengubah paradigma masyarakat terhadap limbah rumah tangga.
“Melalui MALIKA 2.0, kami ingin membagikan pengalaman PDC dalam mengelola minyak jelantah secara bertanggung jawab. Masyarakat kami ajak untuk tidak lagi melihat jelantah semata sebagai limbah, tetapi sebagai bahan yang masih dapat diolah menjadi produk bermanfaat,” ujar Febriyanti.
Komitmen PT PDC dalam memberdayakan masyarakat tidak berhenti sekadar pada sesi pelatihan kelas. Guna memastikan program ini berjalan mandiri, perusahaan turut memberikan dukungan berupa pasokan bahan baku pembuatan lilin aromaterapi dan sabun, termasuk minyak jelantah, agar peserta dapat terus mempraktikkan keterampilannya secara bertahap.

Langkah nyata ini mendapat apresiasi hangat dari Kepala Desa Bangko Jaya, Suhadi. Ia menilai pelatihan tersebut sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat yang selama ini kerap kebingungan mengelola limbah dapur.
“Selama ini masih banyak minyak jelantah yang dibuang begitu saja tanpa memahami dampaknya terhadap lingkungan. Melalui pelatihan ini, masyarakat belajar mengelolanya menjadi produk yang memiliki nilai guna. Kami berharap pengetahuan tersebut dapat terus diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat di ketiga desa,” ungkap Suhadi mengapresiasi.

Melalui integrasi pengalaman perusahaan dan program TJSL ini, PT PDC optimis MALIKA 2.0 tidak hanya berhasil menumbuhkan kesadaran lingkungan, tetapi juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Ke depan, program ini diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru yang berkelanjutan bagi masyarakat di wilayah operasi migas.(mn)
![]()

