Di sebuah sudut Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, suara tawa para lansia terdengar bersamaan dengan denting angklung dan aroma malam batik yang menghangat di atas kain putih. Tangan-tangan yang telah melewati puluhan tahun perjalanan hidup itu kini kembali bergerak perlahan, menggambar motif demi motif dengan penuh ketelitian.
Bagi sebagian orang, usia lanjut sering dianggap sebagai fase untuk berhenti. Namun di Sekolah Lansia Jatiasih atau SELASIH, para lansia justru menunjukkan bahwa hidup masih dapat terus berkembang.
SELASIH hadir bukan sekadar sebagai tempat berkumpul bagi lansia. Komunitas ini menjadi
ruang sosial baru bagi mereka yang sebelumnya mulai kehilangan aktivitas, relasi, bahkan rasa percaya diri setelah memasuki usia senja. Di tempat inilah para lansia belajar kembali untuk aktif, bersosialisasi, dan menemukan makna baru dalam keseharian mereka.
Berbagai kegiatan dilakukan secara rutin, mulai dari membatik, latihan seni, kelas pembelajaran, hingga aktivitas kreatif lainnya. Dari seluruh kegiatan tersebut, membatik
menjadi salah satu aktivitas yang paling berkembang. Kain-kain batik yang dihasilkan bukan hanya sekadar produk, tetapi juga menjadi simbol bahwa kreativitas tidak memiliki batas usia. Setiap motif yang dibuat menyimpan cerita kehidupan, pengalaman, serta semangat para lansia untuk tetap berkarya.
Namun di balik potensi tersebut, para lansia di SELASIH masih menghadapi keterbatasan
dalam memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat luas. Selama ini, hasil karya batik
lebih banyak dikenal melalui lingkungan sekitar dan promosi dari mulut ke mulut. Padahal, karya yang mereka hasilkan memiliki nilai budaya sekaligus nilai sosial yang besar.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa LSPR melalui program SAPA Lansia Vol. 2
menghadirkan sebuah inisiatif pemberdayaan berbasis digitalisasi dan publikasi media.
Program ini tidak hanya berfokus pada penyelenggaraan acara, tetapi juga membantu
membuka ruang eksposur yang lebih luas bagi para lansia agar karya dan aktivitas mereka
dapat dikenal masyarakat.
Melalui program ini, mahasiswa bersama para lansia membangun akun media sosial Batik
SELASIH, membuat katalog digital, mendokumentasikan proses kreatif, hingga
menyelenggarakan bazar dan pentas seni sebagai ruang apresiasi publik. Para lansia tidak lagi hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi menjadi pusat dari cerita yang dibagikan kepada masyarakat.
Salah satu momen yang paling berkesan hadir ketika para lansia berjalan di atas panggung
menggunakan hasil karya batik mereka sendiri dalam sebuah fashion show sederhana.
Dengan langkah perlahan namun penuh percaya diri, mereka menunjukkan bahwa usia tidak menghapus kemampuan seseorang untuk tampil, belajar, dan dihargai. Tepuk tangan yang memenuhi ruangan menjadi bentuk apresiasi atas perjalanan panjang yang mereka lalui.Program SAPA Lansia Vol. 2 juga menjadi ruang kolaborasi lintas generasi.
Mahasiswa berperan sebagai pendamping dalam proses publikasi digital, sementara para lansia membagikan pengalaman hidup, nilai, dan semangat yang mereka miliki. Hubungan yang terbangun bukan sekadar hubungan antara penyelenggara dan peserta, tetapi menjadi proses saling belajar yang mempertemukan dua generasi dalam satu ruang yang setara.
Lebih dari sekadar kegiatan sosial, SELASIH menunjukkan bahwa lansia tetap memiliki
potensi untuk berkembang apabila diberikan ruang, perhatian, dan kesempatan. Kehadiran
komunitas ini membuktikan bahwa produktivitas di usia lanjut tidak selalu diukur melalui pekerjaan formal atau kekuatan fisik, tetapi melalui kemampuan untuk terus berkarya, terhubung dengan orang lain, dan merasa bermakna di tengah masyarakat.
Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, SELASIH menjadi pengingat bahwa
semangat untuk belajar dan bertumbuh tidak pernah mengenal batas usia. Dari tangan-tangan para lansia di Jatiasih, lahir bukan hanya karya batik, tetapi juga cerita tentang harapan, keberanian, dan kehidupan yang terus berjalan.
Penulis ; Evangelyne Vi I. / Mahasiswi Public Relation Batch 27 LSPR
![]()

