KAJIAN TEMATIK SURAT NUH—Ayat 21
Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم
قَالَ نُوحٌ رَّبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَن لَّمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا
“Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya selain kerugian.'”
—QS. Nuh Ayat 21
Penjelasan Tematik
Setelah Nabi Nuh mengajak kaumnya melihat tanda-tanda kebesaran Allah melalui penciptaan langit, bumi, matahari, bulan, serta perjalanan kehidupan manusia, ayat ini memperlihatkan sisi lain dari persoalan manusia : bukan karena kurangnya tanda, tetapi karena adanya penghalang dalam hati.
Masalah terbesar manusia sering kali bukan karena kebenaran tidak jelas, melainkan karena ada es sesuatu yang menghalangi seseorang untuk menerimanya.
Dalam ayat ini Nabi Nuh mengadu kepada Allah :
رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي
“Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku.”
Ungkapan ini menunjukkan bahwa perjuangan dakwah Nabi Nuh bukanlah perjuangan yang mudah. Setelah sekian lama mengajak manusia kembali kepada Allah, masih banyak yang memilih menolak.
Namun yang menarik, Nabi Nuh tidak mengeluhkan kesulitan pribadinya. Ia tidak mengadu tentang hinaan, penolakan, atau penderitaan yang dialaminya.
Ia menyampaikan masalah yang lebih mendasar : manusia telah berpaling dari kebenaran karena mengikuti jalan yang salah.
Penolakan Terhadap Kebenaran Sering Berasal dari Ikatan Dunia
Allah menggambarkan penyebab lain dari penolakan mereka :
وَاتَّبَعُوا مَن لَّمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا
“Dan mereka mengikuti orang-orang yang hartanya dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya kecuali kerugian.”
Ayat ini memberikan gambaran tentang salah satu penyakit manusia sepanjang zaman : menjadikan ukuran kebenaran berdasarkan kekuatan dunia.
Mereka mengikuti orang-orang yang dianggap besar karena harta, keturunan, pengaruh, dan kedudukan. Padahal semua itu tidak selalu menunjukkan kemuliaan seseorang di hadapan Allah.
Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa harta dan keluarga itu buruk. Justru keduanya dapat menjadi nikmat besar jika membawa manusia semakin dekat kepada Allah.
Yang menjadi masalah adalah ketika nikmat berubah menjadi pusat kesombongan dan membuat manusia merasa tidak membutuhkan Tuhan.
Ilusi Kesuksesan Dunia
Manusia sering tertipu oleh apa yang terlihat.
Seseorang yang memiliki kekayaan besar dianggap berhasil.
Seseorang yang memiliki banyak pengikut dianggap benar.
Seseorang yang memiliki kedudukan tinggi dianggap mulia.
Padahal ukuran keberhasilan dalam pandangan Allah tidak hanya terletak pada apa yang dimiliki, tetapi pada bagaimana seseorang menggunakan apa yang dimilikinya.
Harta dapat menjadi jalan kemuliaan ketika digunakan untuk kebaikan.
Namun harta juga dapat menjadi sumber kehancuran ketika melahirkan kesombongan.
Dalam psikologi modern, fenomena ini dekat dengan konsep :
status bias atau halo effect, yaitu kecenderungan manusia menilai seseorang lebih baik hanya karena melihat atribut luarnya seperti kekayaan, jabatan, atau popularitas.
Padahal penampilan luar tidak selalu menggambarkan kualitas batin seseorang.
Ketika Nikmat Tidak Menghasilkan Kedekatan kepada Allah
Ayat ini menggunakan ungkapan yang sangat kuat :
إِلَّا خَسَارًا
“Kecuali kerugian.”
Ini menunjukkan bahwa sesuatu yang secara lahiriah tampak sebagai keuntungan dapat berubah menjadi kerugian jika menjauhkan manusia dari Allah.
Harta yang membuat seseorang lupa bersyukur adalah kerugian.
Kedudukan yang membuat seseorang merendahkan orang lain adalah kerugian.
Ilmu yang membuat seseorang sombong adalah kerugian.
Popularitas yang membuat seseorang kehilangan keikhlasan adalah kerugian.
Karena nilai sebuah nikmat bukan hanya pada jumlahnya, tetapi pada arah penggunaannya.
Bahaya Mengikuti Figur Tanpa Ukuran Kebenaran
Ayat ini juga memberikan pelajaran tentang pentingnya memilih panutan.
Nabi Nuh melihat bahwa kaumnya tidak hanya menolak kebenaran, tetapi juga mengikuti para tokoh yang sebenarnya membawa mereka semakin jauh dari Allah.
Dalam kehidupan modern, manusia tetap menghadapi persoalan yang sama.
Banyak orang mengikuti seseorang bukan karena kebenaran yang dibawanya, tetapi karena kekuatan simbol yang melekat padanya.
√ Ada yang mengikuti karena popularitas.
√ Ada yang mengikuti karena kekayaan.
√ Ada yang mengikuti karena pengaruh sosial.
Padahal seorang pemimpin, tokoh, atau figur harus dinilai dari nilai, akhlak, dan kebenaran yang dibawanya.
Bukan hanya dari seberapa besar dunia berada di belakangnya.
Pelajaran Kehidupan
Ayat ini mengajarkan bahwa manusia harus berhati-hati terhadap sesuatu yang tampak besar tetapi sebenarnya kosong.
Tidak semua yang banyak adalah berkah.
Tidak semua yang terkenal adalah benar.
Tidak semua yang kaya adalah mulia.
Ukuran kemuliaan manusia tetap kembali kepada hubungan dirinya dengan Allah.
Karena pada akhirnya, semua yang dimiliki manusia akan ditinggalkan.
Harta akan habis.
Jabatan akan berakhir.
Popularitas akan berlalu.
Yang tetap tinggal hanyalah kualitas jiwa dan amal yang dibawa menghadap Allah.
Saudara…
Ayat ini mengajak kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah nikmat yang Allah berikan membuat kita semakin dekat kepada-Nya ?
Ataukah justru membuat kita merasa cukup tanpa membutuhkan-Nya ?
Sebab yang paling berbahaya bukan ketika seseorang tidak memiliki banyak.
Tetapi ketika seseorang memiliki banyak, lalu kehilangan kesadaran kepada siapa semua itu berasal.
Nabi Nuh telah melihat satu kenyataan besar dalam perjalanan dakwahnya :
Bahwa manusia kadang tidak menolak kebenaran karena tidak melihat bukti.
Mereka menolak karena hati mereka telah terikat oleh sesuatu yang mereka anggap lebih besar daripada Allah.
Maka jangan biarkan dunia menjadi tirai yang menghalangi cahaya.
√ Jadikanlah harta sebagai alat untuk berbuat baik.
√ Jadikanlah kedudukan sebagai amanah untuk melayani.
√ Jadikanlah ilmu sebagai jalan untuk semakin tunduk.
Karena segala sesuatu yang tidak membawa manusia lebih dekat kepada Allah, pada akhirnya hanya akan menjadi beban dalam perjalanan pulang.
Wallahu A’lam.
Samarinda, 12 Juli 2026
![]()

