KAJIAN TEMATIK SURAT NUH—Ayat 20
Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم
لِّتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا
“Agar kamu dapat menempuh jalan-jalan yang luas di bumi itu.”
—QS. Nuh Ayat 20
Penjelasan Tematik
Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya ketika Allah menjelaskan bahwa bumi telah dijadikan sebagai hamparan yang nyaman bagi kehidupan manusia.
Jika pada ayat 19 Allah menggambarkan bumi sebagai tempat manusia berpijak dan menjalani kehidupan, maka pada ayat 20 Allah melanjutkan dengan menjelaskan fungsi manusia sebagai makhluk yang diberi kemampuan untuk bergerak, menjelajah, mencari, dan membangun kehidupan di atas bumi.
Allah berfirman:
لِّتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا
“Agar kamu dapat menempuh jalan-jalan yang luas di bumi itu.”
Ayat ini mengandung pesan yang sangat dalam. Allah tidak menciptakan bumi hanya untuk menjadi tempat manusia tinggal, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang luas.
Bumi adalah sekolah kehidupan yang di dalamnya manusia diperintahkan untuk bergerak, mengamati, mengambil pelajaran, dan menemukan berbagai rahasia kebesaran Allah.
Manusia bukan makhluk yang diciptakan untuk hidup dalam keterbatasan dan ketakutan. Ia diberi akal, kemampuan berpikir, rasa ingin tahu, dan kekuatan untuk membuka jalan-jalan baru dalam kehidupan.
Manusia Adalah Makhluk yang Selalu Berjalan
Kata تَسْلُكُوا (taslukuu) memiliki makna menempuh, memasuki, atau menjalani sebuah jalan. Kata ini menggambarkan bahwa kehidupan manusia pada hakikatnya adalah sebuah perjalanan.
Manusia berjalan secara fisik di atas bumi, tetapi sesungguhnya ia juga sedang berjalan dalam perjalanan intelektual, spiritual, dan peradaban.
Ia berjalan mencari ilmu, karena manusia tidak akan berkembang tanpa pengetahuan. Ia berjalan mencari rezeki, karena Allah memerintahkan manusia untuk berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ia berjalan melalui pengalaman, karena setiap peristiwa adalah guru yang membentuk kedewasaan. Dan pada akhirnya, seluruh perjalanan itu akan berujung kepada satu tujuan besar, yaitu kembali kepada Allah SWT.
Karena itu, manusia yang berhenti belajar sebenarnya telah berhenti bertumbuh. Walaupun tubuhnya masih bergerak, jiwanya telah kehilangan arah.
Bumi yang Luas Menunjukkan Luasnya Potensi Manusia
Allah menggunakan ungkapan :
سُبُلًا فِجَاجًا
“Jalan-jalan yang luas.”
Kata fijaajan menggambarkan sesuatu yang terbuka, lapang, dan memiliki ruang yang luas untuk dilalui.
Ini menunjukkan bahwa kehidupan yang Allah berikan kepada manusia memiliki banyak kemungkinan.
Allah tidak menciptakan semua manusia dengan kemampuan yang sama, karena setiap manusia memiliki jalan pengabdian yang berbeda.
Ada yang Allah beri kemampuan dalam ilmu pengetahuan. Ada yang diberi kekuatan dalam kepemimpinan.
Ada yang memiliki keahlian dalam perdagangan, pendidikan, teknologi, pelayanan sosial, dan berbagai bidang lainnya.
Keragaman potensi manusia bukan alasan untuk saling merasa lebih tinggi, tetapi merupakan tanda keluasan rahmat Allah.
Peradaban besar tidak pernah dibangun oleh satu jenis kemampuan saja, melainkan oleh manusia-manusia yang saling melengkapi dalam kebaikan.
Perjalanan Adalah Awal Lahirnya Peradaban
Jika kita melihat sejarah manusia, hampir seluruh kemajuan peradaban lahir dari keberanian manusia untuk bergerak.
Manusia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mencari ilmu, membuka perdagangan, membangun kota, mengembangkan teknologi, dan menemukan berbagai rahasia alam.
Semua itu berawal dari kemampuan manusia untuk berjalan dan membaca tanda-tanda Allah di alam semesta.
Dalam psikologi modern terdapat konsep:
exploration behavior, yaitu dorongan alami manusia untuk menjelajah, mencari pengalaman baru, dan memperluas pemahaman tentang dunia. Dorongan inilah yang membuat manusia mampu belajar dan berkembang.
Namun Al-Qur’an memberikan arah yang lebih tinggi. Perjalanan manusia tidak boleh berhenti pada ambisi menguasai dunia, tetapi harus membawa manusia semakin mengenal kebesaran Allah.
Sebab ilmu tanpa kesadaran kepada Allah dapat melahirkan kesombongan, sedangkan ilmu yang dibimbing iman akan melahirkan rasa syukur dan tanggung jawab.
Perjalanan Sejati Melibatkan Mata, Akal, dan Hati
Ada perbedaan antara seseorang yang sekadar berjalan dengan seseorang yang melakukan perjalanan.
Banyak manusia berpindah tempat, tetapi tidak mendapatkan hikmah. Mereka melihat banyak hal, tetapi tidak bertambah kesadaran.
Mereka mengunjungi berbagai negeri, tetapi tidak semakin mengenal siapa yang menciptakan semua keindahan itu.
Al-Qur’an mengajarkan bahwa perjalanan yang sebenarnya bukan hanya perjalanan tubuh, tetapi perjalanan hati.
Ketika manusia melihat gunung, ia tidak hanya melihat keindahan alam, tetapi merasakan kebesaran Allah.
Ketika melihat luasnya lautan, ia tidak hanya melihat hamparan air, tetapi menyadari betapa kecil dirinya di hadapan Sang Pencipta.
Ketika melihat perbedaan manusia dan bangsa-bangsa, ia tidak hanya melihat perbedaan budaya, tetapi memahami bahwa semua itu adalah bagian dari hikmah Allah dalam menciptakan kehidupan.
Perjalanan yang benar adalah perjalanan yang memperluas pandangan mata sekaligus memperdalam kesadaran jiwa.
Pelajaran Kehidupan
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang muslim harus menjadi manusia yang terus bergerak dan berkembang.
Jangan membatasi diri hanya karena ketakutan, pengalaman buruk, atau anggapan bahwa diri tidak mampu.
Allah telah membentangkan bumi dengan jalan-jalan yang luas agar manusia menemukan potensi terbaik yang telah Allah titipkan kepadanya.
Namun keluasan jalan bukan berarti semua jalan benar.
Ada jalan yang membawa manusia semakin dekat kepada Allah, tetapi ada pula jalan yang menjauhkan manusia dari tujuan penciptaannya.
Karena itu manusia membutuhkan petunjuk. Sebab kehidupan bukan hanya tentang seberapa cepat seseorang berjalan, tetapi ke mana arah perjalanan itu menuju.
Orang yang memiliki arah yang benar akan sampai kepada tujuan meskipun langkahnya perlahan. Tetapi orang yang salah arah, semakin cepat berjalan justru semakin jauh dari tujuan.
Saudara…
Allah membentangkan bumi yang luas bukan agar manusia hidup dalam ketakutan dan keterbatasan.
Allah memberikan ruang agar manusia berani belajar, berusaha, dan menemukan tanda-tanda kebesaran-Nya.
Namun di tengah luasnya dunia, manusia harus tetap menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang hamba.
Setinggi apa pun ilmu yang dicapai, manusia tetap membutuhkan petunjuk Allah. Sebesar apa pun peradaban yang dibangun, semuanya tetap berada dalam kehendak Allah.
Maka berjalanlah di bumi dengan rendah hati. Jelajahilah dunia dengan rasa ingin tahu.
Bangunlah kehidupan dengan tanggung jawab.
Karena setiap langkah manusia di atas bumi bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi bagian dari perjalanan panjang menuju Allah.
Dan manusia yang paling beruntung bukanlah orang yang paling jauh menjelajah dunia, melainkan orang yang setiap langkahnya membuat dirinya semakin dekat kepada Tuhannya.
Wallahu A’lam.
Samarinda, 11 Juli 2026
![]()

