SAMARINDA – Selama ini, kita terbiasa membaca sebuah kota melalui peta digital, deretan angka statistik, atau narasi besar tentang pembangunan infrastruktur. Namun, pernahkah kita mencoba membaca kota melalui aroma masakan di dapur masa kecil, hiruk-pikuk gang sempit di samping rumah, atau sekadar ingatan tentang sudut jalan yang kini telah berubah rupa?

Cara pandang yang lebih intim inilah yang coba ditawarkan dalam gelaran Samarinda Graphic Memoir Exhibition 2026. Pameran yang akan berlangsung pada 11–19 April 2026 ini akan menyulap Gedung Samarinda Design Hub di kawasan Sempaja menjadi sebuah “perpustakaan ingatan” visual warga kota.

FRAGMEN YANG MENGHIDUPKAN KOTA

Alih-alih menyajikan citra tunggal tentang Samarinda, pameran ini justru merajut kota dari fragmen-fragmen pengalaman personal. Lebih dari 200 karya dari 20 kreator lokal akan dipajang, mulai dari bentuk graphic memoir, komik pendek, ilustrasi naratif, hingga eksplorasi zine.

Setiap goresan merupakan usaha para kreator untuk merekam relasi mereka dengan Samarinda. Ada cerita tentang kehangatan keluarga, dinamika lingkungan tempat tinggal, hingga refleksi mendalam atas perubahan ruang kota yang terjadi begitu cepat. Melalui perpaduan teks dan visual yang simultan, pengunjung diajak untuk masuk ke dalam pengalaman yang reflektif dan empatik.

Sosok di balik gerakan ini adalah Ramadhan S. Pernyata. Sebagai seorang akademisi, praktisi desain, sekaligus ilustrator, ia percaya bahwa segala sesuatu yang besar seringkali bermula dari tarikan garis yang sederhana.

“Semua berangkat dari menggambar. Dari gambar, lahir berbagai bentuk—karya, tulisan, dan pameran. Melalui pameran ini, kami ingin menghadirkan Samarinda sebagai ruang hidup yang dibentuk oleh ingatan dan pengalaman warganya,” ujar Ramadhan, yang juga merupakan Founder Samarinda Design Hub, Selasa (31/3/2026) di galerinya yang terletak di perumahan TVRI Jalan Wahid Hasyim 2 Samarinda Barat.

Bagi Ramadhan, menggambar bukan sekadar aktivitas estetika, melainkan cara untuk memahami ruang hidup dan membagikan “suara” dari dalam diri yang sering kali luput dari catatan resmi birokrasi.

RUANG MERENUNG BAGI PUBLIK

Pameran ini terbuka luas bagi pelajar, mahasiswa, pelaku industri kreatif, hingga masyarakat umum. Dengan tiket masuk seharga Rp25.000, pengunjung tidak hanya akan melihat karya seni, tetapi juga diajak untuk menemukan keterhubungan (relatabilitas) dengan cerita-cerita yang dihadirkan. Mungkin saja, salah satu komik pendek yang terpajang adalah potongan masa lalu yang juga pernah pengunjung alami.

Terletak di Gedung Samarinda Design Hub (Graha TVRI Asri/Griya Karpet Salma Shofa), Sempaja, pameran ini menjadi undangan bagi siapa saja yang ingin berhenti sejenak dari rutinitas dan mencoba memahami bahwa kota bukan sekadar tempat tinggal.

Samarinda adalah kumpulan cerita yang hidup, berubah, dan terus bertaut melalui ingatan kolektif warganya. Informasi lebih lanjut mengenai pameran ini dapat dipantau melalui akun Instagram @samarindadesignhub_.(rls/mn)

Loading