PURWOKERTO — Angin siang berembus pelan masih terasa dingin di Taman Literasi Kancamas, Purwokerto. Di antara deretan karya rupa yang berjejer rapi, denyut kreativitas lintas generasi berdetak dalam harmoni. Ruang publik yang biasanya riuh oleh obrolan santai itu kini berubah menjadi sebuah altar permenungan visual lewat pameran seni rupa bertajuk “Cikal”.

Jumat, 24 Juli 2026 lalu, pameran ini resmi dibuka dengan sebuah kalimat yang menggugah dari seniman perempuan asal Yogyakarta, Lully Tutus. Di hadapan para pencinta seni, ia menyebut perhelatan ini bukan sekadar presentasi estetika visual semata.

“Sebuah kehormatan bagi saya dapat berdiri di hadapan karya-karya luar biasa yang tersaji dalam pameran bersama 5 perupa: Ghufron Najib, Sinung Rubianto, Dien Yodha, Risna Utami, dan Pupung Pursita,” ucap Lully membuka acara dengan penuh khidmat.

Berbagai lukisan hasil karya tangan dingin 5 pelukis asal Purwokerto dipamerkan.

Bagi Lully, pameran “Cikal” adalah ruang dialog yang berani membedah batas-batas kreativitas. Melalui tema tersebut, para seniman berhasil menerjemahkan kegelisahan, harapan, serta realitas sosial ke dalam bahasa rupa yang kaya makna. Setiap goresan kuas di Taman Literasi Kancamas mengajak pengunjung berhenti sejenak, merenung, dan melihat dunia dari perspektif yang baru.

Acara peresmian itu ditutup dengan sebuah pesan filosofis yang mendalam: “Semua berawal dari cita-cita yang besar, dimulai dari hal yang terkecil, dan dimulai dari saat ini.”

Menyapa Pengunjung, Merajut Interaksi

Dinamika pameran ini tidak hanya hidup di atas kanvas, tetapi juga di ruang interaksi pengunjung. Yuli Wijowati, perupa dan pelukis asal Teluk, Purwokerto, yang berkesempatan bertugas sebagai penerima tamu, menyambut setiap pengunjung dengan kehangatan khas lokal.

Yuli Wijowati, pelukis asal Teluk Purwokerto menunjukkan karya para pengunjung yang belajar melukis di kipas.

Menurut Yuli, antusiasme masyarakat cukup tinggi, terutama menjelang siang hingga sore hari.

“Pagi tadi anak-anak sekolah pada datang, bahkan ada yang langsung belajar melukis langsung, seperti melukis di atas kipas. Kalau hari libur, jauh lebih ramai lagi, biasanya mahasiswa datang sepulang kuliah,” tutur Yuli ramah sambil melayani para penikmat seni.

Yuli Wijowati saat memberikan frame lukisan bagi pengunjung yang hadir untuk melanjutkan melukis.
Pengunjung asik memainkan kanvas melanjutkan melukis dari frame yang ditorehkan Yuli Wijowati.

Ketika AI Mengetuk Pintu Studio Seniman

Di tengah semarak pameran, perbincangan hangat menyeruak jauh melampaui bingkai kanvas. Isu kehadiran Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dalam dunia seni rupa menjadi topik perdebatan yang tak ada habisnya di kancah global maupun lokal.

Ketegangan ini bukan isapan jempol. Di Hollywood, gelombang protes sempat memuncak ketika para penulis naskah melancarkan aksi mogok selama 148 hari hingga September 2023, menuntut agar AI dibatasi hanya untuk riset dan bukan menggantikan karya cipta manusia. Di belahan dunia lain, kekhawatiran serupa menghantui pekerja kreatif akibat AI generatif yang kerap mencaplok gaya seni tanpa izin.

Namun, di tengah kecemasan massal tersebut, respons berbeda ditunjukkan oleh salah satu peserta pameran, Sinung Rubianto.

Sinung Rubianto menjadikan AI “Asisten” Studio, Bukan Algojo Kreativitas. Bagi Sinung Rubianto—seniman rupa asal Purwokerto yang karyanya menghiasi dinding pameran—AI bukanlah musuh yang harus ditakuti, melainkan sekadar alat bantu.

Ia menyadari perdebatan soal apakah karya tanpa sentuhan manusia masih bisa disebut seni terus bergulir hangat. Kendati demikian, ia memilih jalan pragmatis yang tetap berpijak pada integritas manual.

“AI dimanfaatkan untuk membantu ide, kita tuangkan dalam bentuk manual. Masyarakat penikmat seni akan menilai manualnya, bukan print,” tegas Sinung saat ditemui di sela-sela pameran Cikal, Kamis (30/7/2026).

Sinung Rubianto, seniman seni rupa asal Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah.

Bagi Sinung, komputer atau generator cerdas hanyalah jembatan untuk menerjemahkan ide-ide liar di kepala. Eksekusi akhir tetap berada di tangan dingin seorang seniman.

Dari Majalah Anak hingga Dunia Ceria “Cikal”

Jejak kekaryaan Sinung sendiri terbentuk dari perjalanan panjang yang unik. Bibit melukisnya sudah tumbuh sejak sekolah dasar. Namun, saat menempuh studi di Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada 1992, ia justru “tersesat” ke ranah yang lebih dinamis: kartun, komik, dan karikatur.

Pada 1995, ia mulai mempublikasikan karya komiknya di Majalah Ceria, Semarang. Selepas lulus kuliah tahun 1999, Sinung hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan majalah anak Ina-Ina asuhan sastrawan Arswendo Atmowiloto. Tahun 2004, ia turut membidani lahirnya Majalah Sains Kuark Internasional, disusul keterlibatannya di berbagai media nasional seperti majalah Bobo, Anak Soleh, Kompas Minggu, hingga ilustrasi buku cerita anak.

Kini, dalam pameran “Cikal”, Sinung menghadirkan kembali dunia anak versi dirinya: ceria, padat, dan jujur. Segala bentuk kesedihan, kerutan wajah, atau pahitnya realita disulapnya menjadi keceriaan anak-anak. Baginya, imajinasi anak adalah cara paling tulus untuk melihat dunia.

Bagi masyarakat yang belum sempat berkunjung, pameran seni rupa “Cikal” di Taman Literasi Kancamas, Jalan Jend. Ahmad Yani, Purwokerto, masih menyisakan waktu tiga hari lagi dan akan resmi ditutup pada 1 Agustus 2026. Sebuah perjalanan visual dan spiritual yang patut disempatkan sebelum tirai pameran diturunkan.

Loading