SAMARINDA — Air itu dulu jernih. Ia memantulkan birunya langit Samarinda, menjadi jalur bagi perahu-perahu nelayan yang membawa rezeki, serta menyediakan air mandi yang menyegarkan bagi siapa saja yang menggantungkan hidup padanya. Karang Mumus, dengan bentangan sepanjang 34,7 kilometer, pernah menjadi nadi yang berdenyut di tengah kota.
Namun waktu mengalir membawa perubahan yang keliru. Tangan-tangan manusia perlahan merusak wajahnya. Sampah berjatuhan dari jembatan, tumpah dari kendaraan, dan menumpuk dari rumah-rumah yang merapat tanpa jarak di bibir air. Sungai yang semestinya menjadi sumber kesejahteraan justru terbebani beban yang tak seharusnya.
Perahu tak lagi leluasa melintas. Air yang dulunya bening berubah keruh, mengeluarkan bau menyengat, hingga sungai perlahan dipandang sebelah mata—hanya sebagai selokan raksasa pembuangan limbah.
Ironisnya, ketika banjir datang menghantam, banyak yang menuding sungai sebagai pesakitan. Padahal, air tidak pernah berniat jahat. Yang berubah adalah perangai manusia yang merampas ruang hidupnya, meluruskan alurnya, mempersempit sempadannya, dan mendirikan bangunan di atas badannya seolah alam adalah benda mati yang bisa diatur semau hati.
Jalan Sunyi Seorang Mantan Wartawan
Di tengah kelalaian kolektif itu, ada seseorang yang menolak untuk menutup mata. Ia adalah Misman, lahir di Samarinda, 4 April 1959. Mantan wartawan yang puluhan tahun menulis, mengisahkan, dan menyerukan pentingnya menjaga Sungai Karang Mumus (SKM) lewat lembaran berita.
Namun, ia sadar, kata-kata di atas kertas sering kali berhenti sebagai wacana. Warga tetap melempar sampah, bangunan tetap berdiri rapat, dan ketidakpedulian terus dibiarkan mengakar.
Hingga pada Juli 2015, sebuah keputusan besar diambil. Misman menepi dari rutinitas jurnalistiknya. Ia memilih berjalan seorang diri di pinggir sungai, menunduk, dan memungut sampah helai demi helai.

Ia tidak berteriak marah kepada pembuang sampah. Ia memilih jalan yang sunyi namun menampar, datang memungut tepat di tempat seseorang membuang sampah, tepat di hadapan orang itu, dengan kesederhanaan yang memalukan kesalahan.
“Helai demi helai sampah yang kupungut adalah embrio yang kelak akan tumbuh besar untuk kelayakan sungai,” kenang Misman.
Dari langkah sunyi seorang diri, gelombang itu membesar. Bersama rekan-rekan sepaham dan sejumlah jurnalis yang terketuk hatinya, ia merintis Gerakan Memungut Sehelai Sampah (GMSS) SKM Samarinda, dan diamanahkan sebagai nakhodanya.
Hari berganti bulan, kesendirian itu menjelma menjadi keramaian kepedulian. Komunitas, mahasiswa, jajaran TNI-Polri, hingga warga dari luar daerah berdatangan. Kini, lebih dari 50 ribu orang telah ambil bagian dalam gerakan meruntuhkan budaya buang sampah sembarangan ini.

Tak sekadar memungut sampah, mereka juga mendirikan Sekolah Sungai Karang Mumus (Sesukamu)—sebuah ruang edukasi bagi masyarakat untuk memahami ekosistem air. Pemerintah Kota Samarinda pun turut merespons dengan menerjunkan Dinas Lingkungan Hidup, menurunkan perahu pembersih, dan bergotong royong mengembalikan fungsi ekologis sungai.
Bagi Misman, perjuangan ini bukan sekadar membersihkan pandangan mata, melainkan mengembalikan esensi sungai yang sejati. Ia menyayangkan tren normalisasi yang kerap mengubah sungai menjadi sekadar kanal beton.
“Meluruskan alur serta menutup tepian sungai dengan beton justru akan mengganggu kehidupan biota air, sehingga hal ini justru memutus rantai ekosistem yang sudah terbentuk secara alami,” ujarnya.
Banjir, kata dia, bukan karena bentuk sungai yang berkelok, melainkan akibat hancurnya Daerah Aliran Sungai (DAS) di bagian hulu—pohon-pohon yang ditebang dan rawa yang diuruk tanpa perhitungan ekologis.
Kini, meski sampah masih kerap terlihat tersangkut di tepian, wajah Karang Mumus perlahan bangkit. Ia bersiap menapaki babak baru sebagai jantung ekowisata kota.
Bertepatan dengan momentum Hari Sungai Nasional setiap tanggal 27 Juli, kisah Karang Mumus dan ketekunan Misman mengingatkan kita satu hal: sungai bukan sekadar saluran air, melainkan tubuh yang bernapas. Dan mereka yang merawatnya hari ini adalah pahlawan sunyi yang mengembalikan masa depan bumi.(*/mn)
![]()

