TADABBUR SURAT MUHAMMAD (47) —Ayat 26–27

Oleh Masykur Sarmian

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ ۖ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ ۝ فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka berkata kepada orang-orang yang membenci apa yang diturunkan Allah, ‘Kami akan menaati kamu dalam sebagian urusan.’ Dan Allah mengetahui segala rahasia mereka. Maka bagaimana keadaan mereka ketika para malaikat mencabut nyawa mereka sambil memukul wajah dan punggung mereka ?”

—QS. Muhammad Ayat 26–27

Penjelasan Tematik

Setelah ayat 24–25 menjelaskan tentang hati yang tertutup dan manusia yang berbalik dari petunjuk setelah kebenaran menjadi jelas, ayat 26–27 memperlihatkan bagaimana penyimpangan itu berkembang menjadi kompromi dengan pihak yang memusuhi wahyu.

Allah berfirman:

سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ

“Kami akan menaati kamu dalam sebagian urusan.”

Kalimat ini menggambarkan bahaya sebuah kompromi yang pada awalnya mungkin terlihat kecil. Mereka tidak harus menolak seluruh agama sekaligus. Cukup dengan memberikan sebagian loyalitas kepada pihak yang/ memusuhi wahyu, sedikit demi sedikit prinsip dapat dikorbankan.

Di sinilah pentingnya/ membedakan antara kompromi dalam urusan teknis kehidupan dengan kompromi terhadap/ prinsip kebenaran. Islam mengenal musyawarah, perdamaian, kerja sama dalam kebaikan, dan hubungan sosial dengan siapa pun. Tetapi prinsip tauhid dan kebenaran tidak boleh dijual hanya demi kepentingan sesaat.

Masalah mereka bukan sekadar bekerja sama. Mereka memberikan ketaatan kepada orang-orang yang كرهوا ما نزّل الله—orang-orang yang membenci apa yang Allah turunkan.

Maka persoalan utamanya adalah arah loyalitas hati.

Seseorang bisa terlihat berdiri di tengah orang beriman, tetapi secara perlahan membangun ketergantungan kepada pihak yang justru memusuhi nilai yang ia yakini. Inilah yang membuat ayat ini sangat relevan dalam kehidupan sosial dan kepemimpinan: manusia harus berhati-hati agar kepentingan pragmatis tidak mengikis prinsip sedikit demi sedikit.

Kemudian Allah berfirman:

وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ

“Dan Allah mengetahui segala rahasia mereka.”

Manusia dapat menyembunyikan agenda dari manusia lain, tetapi tidak mungkin menyembunyikannya dari Allah.

Inilah penyeimbang yang sangat penting. Ketika manusia mulai bermain di wilayah manipulasi, Allah mengingatkan bahwa ada satu Pengawas yang tidak pernah dapat ditipu.

Di sini muncul pelajaran tentang integritas. Integritas sejati bukan sekadar melakukan hal yang benar ketika dilihat orang, tetapi tetap benar ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Ayat 27 kemudian membawa manusia kepada momen ketika seluruh kepura-puraan berakhir:

فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ

“Maka bagaimana keadaan mereka ketika para malaikat mencabut nyawa mereka…”

Jika di dunia seseorang masih dapat menyembunyikan niat, mencari pembenaran, membangun citra, atau mengelabui manusia, maka kematian menghapus seluruh ruang untuk berpura-pura.

Ayat ini menghadirkan gambaran keras tentang akibat yang mereka hadapi. Pesannya bukan sekadar tentang rasa sakit saat kematian, tetapi tentang berakhirnya seluruh kesempatan untuk memperbaiki pilihan hidup.

Munāsabah dan Penguatan Dalil

Ayat ini sangat erat dengan firman Allah:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya…”
(QS. Al-Mujadilah: 22)

Ayat ini berbicara tentang orientasi loyalitas iman, bukan larangan untuk berbuat baik kepada manusia yang berbeda keyakinan. Al-Qur’an sendiri membolehkan hubungan sosial yang adil dan baik. Yang menjadi persoalan adalah menjadikan permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya sebagai dasar keberpihakan hati.

Allah juga berfirman:

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.”
(QS. Hud Ayat 113)

Ayat ini memberi peringatan agar seorang mukmin tidak membiarkan kedekatan pragmatis dengan kezaliman perlahan mengubah prinsip moralnya.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa menipu kami, maka ia bukan bagian dari kami.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa kejujuran dan integritas merupakan bagian penting dari identitas seorang mukmin.

Pelajaran Kehidupan

Jangan menjual prinsip sedikit demi sedikit hanya karena menganggap pengorbanan itu kecil.

Banyak kerusakan besar bermula dari kalimat: “Hanya kali ini.” Setelah itu menjadi kebiasaan. Lalu menjadi pembenaran. Akhirnya menjadi karakter.

Karena itu, setiap kali berada dalam persimpangan antara kepentingan dan prinsip, tanyakan: “Jika keputusan ini terus kulakukan selama bertahun-tahun, akan menjadi manusia seperti apakah aku?”

Pertanyaan itu membantu kita melihat konsekuensi jangka panjang dari keputusan yang tampaknya kecil.

Renungan Peradaban

Peradaban tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Kadang ia melemah karena orang-orang di dalamnya mulai menganggap prinsip sebagai sesuatu yang bisa dinegosiasikan demi keuntungan jangka pendek.

Ketika kejujuran dapat ditukar dengan jabatan, amanah dapat ditukar dengan keuntungan, dan nilai dapat ditukar dengan popularitas, maka kerusakan sedang berlangsung dari dalam.

Peradaban Qur’ani membutuhkan manusia yang mampu membedakan antara fleksibilitas strategi dan kelemahan prinsip. Strategi boleh berubah sesuai keadaan. Cara boleh berkembang mengikuti zaman. Tetapi nilai yang menjadi fondasi tidak boleh kehilangan arah.

Allah mengetahui apa yang terlihat dan apa yang tersembunyi. Karena itu, integritas bukan sekadar citra di hadapan manusia. Integritas adalah kesetiaan kepada Allah ketika tidak ada manusia yang melihat.

Dan kematian adalah saat ketika seluruh topeng akhirnya jatuh.
Maka sebelum hari itu datang, masih ada kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri:

Apakah yang selama ini kita pertahankan benar-benar prinsip, atau hanya kepentingan yang kita beri nama prinsip?

Wallāhu A’lam
Samarinda, 16 September 2026

Loading