TADABBUR SURAT MUHAMMAD (47) —Ayat 22–23

Oleh Masykur Sarmian

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ ۝ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ

“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah, lalu Dia menjadikan mereka tuli dan membutakan penglihatan mereka.”

—QS. Muhammad Ayat 22–23

Penjelasan Tematik

Setelah ayat 20–21 membicarakan kejujuran dalam menerima amanah dan kesediaan menghadapi tuntutan perjuangan, ayat 22–23 membawa kita kepada ujian berikutnya: apa yang terjadi ketika manusia memperoleh kekuasaan?

Pertanyaan Allah sangat tajam:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ

“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa…”

Kekuasaan di sini bukan hanya jabatan politik. Ia mencakup setiap bentuk kemampuan untuk menentukan keadaan orang lain: kepemimpinan, kekayaan, jabatan, pengaruh, otoritas dalam keluarga, bahkan pengaruh sosial.

Sebab karakter manusia sering kali tidak benar-benar terlihat ketika ia lemah. Karakter justru tampak ketika ia memiliki kekuatan untuk berbuat sesuatu tetapi memilih bagaimana menggunakan kekuatan itu.

Allah kemudian menyebut dua kerusakan besar:

أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ

“Kamu berbuat kerusakan di bumi.”

Dan:

وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
“Dan memutuskan hubungan kekeluargaan.”

Menarik bahwa Al-Qur’an menghubungkan kerusakan sosial dengan putusnya hubungan keluarga. Seolah Allah ingin menunjukkan bahwa kehancuran sebuah masyarakat tidak selalu dimulai dari perang besar. Ia dapat dimulai dari sesuatu yang sangat dekat: rusaknya hubungan antarmanusia.

Keluarga adalah sel pertama masyarakat. Ketika kasih sayang, silaturahmi, kepercayaan, dan kepedulian mulai hilang dari keluarga, kerusakan itu perlahan dapat meluas ke masyarakat.

Dalam psikologi sosial dikenal konsep social cohesion, yaitu tingkat keterikatan, kepercayaan, dan rasa memiliki di antara anggota masyarakat. Masyarakat dengan kohesi yang kuat lebih mampu menghadapi krisis karena manusia merasa memiliki satu sama lain. Sebaliknya, ketika hubungan sosial dipenuhi kecurigaan, konflik, dan pengkhianatan, masyarakat menjadi rapuh meskipun secara material terlihat kuat.

Lebih jauh, kekuasaan yang tidak dikendalikan oleh moral dapat melahirkan abuse of power. Seseorang mulai menggunakan kedudukannya bukan untuk melayani, tetapi untuk menguasai. Kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan bersama. Kerabat diputus, lawan disingkirkan, dan orang-orang yang tidak sejalan diperlakukan sebagai musuh.

Karena itu, ayat ini sebenarnya mengajarkan sebuah prinsip kepemimpinan yang sangat dalam:

Kekuasaan adalah ujian karakter.

Ketika seseorang mendapatkan kekuasaan, pertanyaannya bukan hanya “Apa yang dapat ia lakukan ?” tetapi “Apa yang ia pilih untuk tidak lakukan karena takut kepada Allah?”

Ayat 23 kemudian menggambarkan akibatnya:

لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ

“Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah, lalu Dia menjadikan mereka tuli dan membutakan penglihatan mereka.”

Yang dimaksud bukan semata-mata kehilangan kemampuan fisik untuk mendengar dan melihat. Maknanya adalah tertutupnya kemampuan batin untuk menerima kebenaran dan melihat jalan yang benar.

Mereka mendengar nasihat, tetapi tidak mengambil pelajaran. Mereka melihat kerusakan, tetapi tidak merasa bersalah. Mereka menyaksikan penderitaan orang lain, tetapi hati mereka tidak tergerak.

Inilah bentuk kebutaan yang paling berbahaya : mata masih melihat, tetapi hati tidak lagi mampu membaca kebenaran.

Munāsabah dan Penguatan Dalil

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat.”
(QS. An-Nahl Ayat 90)

Ayat ini sangat kuat sebagai kebalikan dari QS. Muhammad 22. Jika ayat Muhammad memperingatkan tentang kerusakan dan pemutusan hubungan, An-Nahl mengajarkan keadilan, ihsan, dan kepedulian kepada kerabat sebagai fondasi masyarakat.

Allah juga berfirman:

وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

“Orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah perjanjian itu diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan, dan berbuat kerusakan di bumi, mereka itulah yang memperoleh laknat dan tempat kembali yang buruk.”
(QS. Ar-Ra’d Ayat 25)

Rasulullah Muhammad SAW juga bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan betapa seriusnya Islam menjaga silaturahmi. Hubungan keluarga bukan sekadar persoalan sosial, tetapi bagian dari tanggung jawab keimanan.

Pelajaran Kehidupan

Jangan menilai seseorang hanya dari bagaimana ia memperlakukan orang yang ia butuhkan. Lihat bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak lagi dapat memberinya keuntungan.

Jabatan akan berganti. Kekayaan dapat berkurang. Pengaruh dapat hilang. Tetapi karakter akan terus mengikuti seseorang.

Karena itu, ketika Allah memberi kita kekuasaan sekecil apa pun, jadikan ia sarana memperbaiki keadaan, bukan kesempatan membalas dendam.

Dan jika terjadi konflik dalam keluarga, jangan buru-buru memutuskan hubungan. Berikan ruang untuk komunikasi, maaf, dan rekonsiliasi. Tidak semua perbedaan harus berakhir dengan permusuhan.

Renungan Peradaban

Ayat 22–23 sesungguhnya berbicara tentang arsitektur kehancuran sebuah peradaban.

Sebuah bangsa dapat memiliki sumber daya alam yang besar, teknologi yang maju, tentara yang kuat, dan ekonomi yang berkembang. Tetapi jika manusianya saling mengkhianati, keluarga terpecah, kepercayaan hilang, dan kekuasaan digunakan untuk menindas, maka fondasi peradaban sedang runtuh.

Peradaban tidak hanya dibangun oleh institusi. Ia dibangun oleh hubungan manusia.

Ketika keluarga kuat, lahir manusia yang memiliki akar. Ketika masyarakat saling percaya, lahir kerja sama. Ketika pemimpin amanah, lahir keadilan. Dan ketika keadilan tumbuh, masyarakat memiliki alasan untuk menjaga negaranya.

Sebaliknya, ketika kekuasaan melahirkan kesombongan, hubungan keluarga diputus, dan masyarakat kehilangan kepercayaan, kehancuran sebenarnya sudah dimulai—meskipun gedung-gedung masih berdiri.

Karena itu, ayat ini memberikan satu pertanyaan yang layak dibawa oleh setiap orang yang memperoleh kekuasaan:
“Jika suatu hari Allah memberiku kemampuan untuk menentukan nasib orang lain, apakah aku akan menjadi sumber keselamatan bagi mereka, atau justru menjadi sebab kerusakan ?”

Wallahu A’lam
Samarinda, 14 September 2026

Loading