Kurniawati, S.S., M.Hum.
Dosen Universitas Islam Corodoba Banyuwangi
KITA sering mengatakan bahwa siswa “kurang literasi” ketika mereka kesulitan menjawab soal bacaan. Namun, apakah persoalannya benar-benar terletak pada kemampuan membaca? Atau jangan-jangan kita sendiri belum cukup jelas mendefinisikan apa yang dimaksud dengan literasi?
Pertanyaan ini penting karena literasi bukan sekadar kemampuan membaca kata dan kalimat. Literasi mencakup kemampuan memahami informasi, membangun makna, menghubungkan gagasan, mengevaluasi sumber, dan menggunakan informasi secara tepat. Di tengah derasnya arus informasi, bahkan persiapan siswa menghadapi Tes Kemampuan Akademik yang sudah tahun kedua agendanya, kemampuan membaca tanpa kemampuan menilai justru dapat membuat seseorang semakin mudah tersesat.
Ketika Data PISA Berbicara
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan persoalan kemampuan membaca siswa Indonesia masih serius. Skor membaca Indonesia berada pada angka 359, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 476. Hanya sekitar 25% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih, sementara rata-rata OECD mencapai 74%. Pada level tertinggi, hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih, sedangkan rata-rata OECD sekitar 7%.
Angka tersebut tentu tidak semestinya diterjemahkan sebagai “siswa Indonesia tidak bisa membaca”. Justru kita perlu bertanya: membaca yang seperti apa?
PISA mendefinisikan reading literacy jauh melampaui kemampuan mengambil informasi eksplisit. Literasi membaca mencakup kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan teks untuk mencapai tujuan, mengembangkan pengetahuan, serta berpartisipasi dalam masyarakat.
Dari Membaca Teks hingga Membaca Makna
Pada textual literacy, siswa berhadapan dengan pertanyaan: Apa yang tertulis? Mereka menemukan informasi eksplisit, menentukan gagasan utama, mengenali detail, dan mengambil fakta dari teks.
Pada inferential literacy, pertanyaannya berubah: Apa yang dapat kita pahami dari sesuatu yang tidak dikatakan secara langsung? Siswa perlu menghubungkan informasi, membaca konteks, membuat kesimpulan, dan menangkap implikasi.
Sementara critical literacy membawa siswa pada pertanyaan yang lebih mendalam: Mengapa teks mengatakan demikian? Siapa yang berbicara? Perspektif siapa yang ditampilkan? Siapa yang tidak diberi ruang? Apakah informasi tersebut kredibel? Bagaimana bahasa membentuk cara pembaca memahami persoalan?
Maka, persoalan literasi bukan hanya apakah siswa mampu membaca teks, tetapi sejauh mana pembelajaran membuat mereka berpikir melalui teks.
Literasi di Tengah Banjir Informasi
Tantangan tersebut semakin kompleks karena anak-anak hari ini tidak hanya berhadapan dengan buku dan teks pelajaran, tetapi juga berita, video pendek, media sosial, iklan, infografik, konten digital, dan informasi yang dihasilkan artificial intelligence.
Dalam situasi ini, kemampuan membaca saja tidak cukup. Siswa perlu memahami informasi, menghubungkan berbagai sumber, mengenali konteks, memeriksa kredibilitas, membedakan fakta dan opini, serta menentukan informasi mana yang layak dipercaya.
Di sinilah tiga level literasi menjadi relevan. Textual literacy membantu memahami apa yang dikatakan. Inferential literacy membantu memahami apa yang dimaksudkan. Critical literacy mengajak mempertanyakan mengapa informasi disampaikan, siapa yang menyampaikannya, dan apakah informasi tersebut layak dipercaya.
Dengan kata lain, tantangan literasi hari ini bukan lagi sekadar information absorption, tetapi information judgment.
Sudahkah Guru Mengajarkan Literasi?
Di sinilah pertanyaan yang lebih tidak nyaman perlu diajukan: sudahkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan? atau sudahkah guru memahami level literasi yang sedang mereka ajarkan? Pertanyaan ini bukan tuduhan kepada guru, melainkan pertanyaan profesional tentang pedagogi. Kita tidak mungkin meminta guru meningkatkan literasi siswa jika literasi hanya dipahami sebagai “membaca lebih banyak”.
Siswa dapat diberikan teks setiap minggu dan mengerjakan puluhan soal bacaan. Mereka dapat diminta menemukan main idea, specific information, atau meaning of a word. Namun, jika sebagian besar aktivitas hanya meminta siswa mengambil informasi yang tersedia secara eksplisit, pembelajaran mungkin masih berhenti pada level textual. Kemampuan tersebut penting sebagai fondasi. Persoalannya muncul ketika fondasi dianggap sebagai bangunan yang sudah selesai.
Lebih problematis lagi ketika teks panjang atau soal sulit secara bahasa langsung dianggap sebagai HOTS. Panjang teks tidak otomatis menunjukkan kedalaman berpikir. Label HOTS juga tidak otomatis membuat pertanyaan menjadi kritis.
Pertanyaan “According to the text, what happened next?” berbeda dengan “Why do you think this happened?” dan berbeda pula dengan “Whose perspective is represented, and what might be missing?” Ketiganya menggunakan teks, tetapi menuntut proses berpikir yang berbeda.
Dari Membaca Teks ke Membaca Dunia
Karena itu, agenda literasi seharusnya tidak hanya bertanya: berapa banyak siswa membaca? Kita juga perlu bertanya: apa yang dilakukan siswa ketika membaca?
Guru memiliki posisi penting untuk menjadikan teks bukan sekadar bahan mencari jawaban, tetapi ruang membangun penalaran. Guru perlu merancang pertanyaan secara bertahap: menemukan informasi, menarik inferensi, hingga mengevaluasi gagasan, perspektif, dan kredibilitas informasi.
Hasil PISA lantas semestinya menjadi cermin untuk melihat bagaimana pendidikan mempersiapkan anak menghadapi dunia yang dibentuk oleh informasi.
Sebab persoalan hari ini bukan lagi apakah anak dapat membaca. Mereka berhadapan dengan informasi setiap hari. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah mereka tahu apa yang harus dipercaya, dipertanyakan, disimpulkan, diverifikasi, dan ditolak?
Jika literasi kita masih berhenti pada pertanyaan “Apa yang tertulis?”, kita mungkin sedang menghasilkan pembaca yang mampu menemukan informasi, tetapi belum tentu mampu memahami dunia. Literasi yang sesungguhnya bergerak lebih jauh: dari membaca teks, menuju membaca makna, dan akhirnya membaca secara kritis realitas yang dibentuk oleh teks.
Barangkali, persoalan literasi Indonesia tidak cukup dijawab dengan meminta siswa membaca lebih banyak. Kita perlu bertanya lebih berani: Sudahkah kita mengajarkan mereka cara membaca?
![]()

