SAMARINDA — Menghadapi musim kemarau panjang yang memicu kekeringan dan ancaman karhutla, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menempuh ikhtiar lahir dan batin secara komprehensif. Setelah menggenjot langkah teknis penanggulangan darurat, Pemkot Samarinda menggelar aksi sosial penyaluran santunan bagi puluhan anak yatim sebelum memuncak pada pelaksanaan Salat Istisqa berjemaah.

Rangkaian kegiatan spiritual ini diawali di Musholla Ar Raudah, Balai Kota Samarinda, Kamis (10/9/2026). Puluhan anak yatim piatu dari berbagai kecamatan di Kota Tepian tampak hadir didampingi langsung oleh para camat setempat untuk menerima santunan.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menjelaskan bahwa pemberian sedekah kepada anak yatim merupakan bagian dari ikhtiar batiniah agar doa yang dipanjatkan masyarakat lekas diijabah oleh Allah SWT.

“Anak yatim dari seluruh kecamatan hadir sebagai bagian rangkaian kegiatan. Semoga sedekah ini menjadi pembuka berkah sebelum kita bersama-sama memanjatkan doa meminta hujan,” ujar Andi Harun.

Instruksi Resmi Salat Istisqa
Sebagai tindak lanjut, Sekretaris Daerah Kota Samarinda, Neneng Chamelia Shanti, telah menandatangani surat edaran resmi tertanggal 10 September 2026. Melalui surat tersebut, seluruh perangkat daerah di lingkungan Pemkot Samarinda diinstruksikan untuk ambil bagian.

Setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) diwajibkan menghadirkan kepala instansi beserta 15 stafnya, sementara seluruh pegawai baik Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun non-ASN di Sekretariat Daerah dipastikan hadir. Pelaksanaan ibadah sunnah memohon hujan ini dijadwalkan berlangsung di halaman parkir Kantor Wali Kota Samarinda pada Jumat pagi (11/9/2026) pukul 07.30 WITA, serta terbuka secara luas bagi masyarakat umum.

Andi Harun memaparkan, sebelum mengambil langkah memohon hujan melalui Salat Istisqa, Pemkot Samarinda telah mengoptimalkan berbagai upaya teknis di lapangan. Langkah-langkah tersebut mencakup patroli rutin pencegahan kebakaran lahan dan semak kering, penguatan koordinasi penanggulangan bencana, hingga komunikasi intensif dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menyiapkan dukungan helikopter jika sewaktu-waktu status darurat diberlakukan.

Kendati berbagai ikhtiar penanganan telah dikerahkan, curah hujan tetap menjadi hal paling mendesak yang dinantikan demi memutus mata rantai kekeringan di Samarinda.

“Berbagai upaya sudah dilakukan, tetapi hujan tetap paling kami nantikan. Melalui momentum Salat Istisqa ini, kita perbanyak istighfar, bersedekah, dan memohon kepada Allah SWT,” tutur Andi Harun. “Semoga Allah segera mengabulkan doa dan menurunkan hujan berkah bagi masyarakat Samarinda.” pungkasnya. (ja/mn)

Loading