TADABBUR SURAT MUHAMMAD (47) —Ayat 16–17

Oleh Masykur Sarmian

وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ حَتَّىٰ إِذَا خَرَجُوا مِنْ عِنْدِكَ قَالُوا لِلَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ آنِفًا ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ ۝ وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

“Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu, tetapi ketika mereka telah keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang-orang yang telah diberi ilmu, ‘Apa yang dikatakannya tadi ?’ Mereka itulah orang-orang yang telah dikunci hatinya oleh Allah dan mengikuti keinginannya. Adapun orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan kepada mereka ketakwaannya.”

—QS. Muhammad Ayat 16–17

Penjelasan Tematik

Ayat 16–17 menghadirkan sebuah perbandingan yang sangat tajam tentang dua jenis manusia yang sama-sama mendengar wahyu, tetapi menghasilkan keadaan hati yang berbeda. Yang satu mendengar tetapi tidak berubah. Yang lain mendengar, menerima, lalu semakin bertambah petunjuknya.

Inilah salah satu persoalan paling serius dalam perjalanan ilmu: mendengar tidak selalu berarti menerima, mengetahui tidak selalu berarti berubah, dan hadir di majelis ilmu tidak otomatis membuat hati menjadi lebih dekat kepada Allah.

Ayat 16 menggambarkan orang-orang yang datang mendengarkan Nabi Muhammad SAW:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ

“Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu…”

Mereka mendengar. Mereka berada di tempat yang sama. Mereka menerima informasi yang sama. Tetapi ketika keluar dari majelis, mereka justru bertanya:

مَاذَا قَالَ آنِفًا
“Apa yang dikatakannya tadi?”

Ini bukan sekadar masalah daya ingat. Konteks ayat menunjukkan adanya sikap tidak peduli terhadap pesan yang mereka dengar. Mereka hadir secara fisik, tetapi hati mereka tidak hadir.

Betapa relevannya gambaran ini dengan kehidupan kita. Seseorang bisa mendengar ceramah berkali-kali, membaca banyak buku, menghafal banyak ayat, bahkan mampu menjelaskan agama kepada orang lain, tetapi jika ilmu itu tidak mengubah akhlak dan keputusan hidupnya, maka ilmu tersebut belum menjadi hidayah yang hidup.

Al-Qur’an kemudian menjelaskan akar masalahnya:

طَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ

“Allah telah mengunci hati mereka.”
Kemudian:
وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ
“Dan mereka mengikuti hawa nafsunya.”

Urutannya sangat penting. Ketika seseorang terus-menerus memilih hawa nafsu daripada petunjuk, hati dapat menjadi semakin tertutup terhadap kebenaran. Bukan karena Allah menzalimi mereka, tetapi karena mereka terus memilih jalan yang menolak kebenaran hingga akhirnya hati kehilangan kepekaan.

Kemudian ayat 17 menghadirkan kebalikan yang sangat indah:

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى

“Adapun orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka.”

Inilah hukum spiritual yang sangat indah: hidayah yang diterima dengan sungguh-sungguh melahirkan hidayah yang lebih besar.

Orang yang mau belajar akan semakin mudah menerima pelajaran. Orang yang mau memperbaiki diri akan semakin peka terhadap kesalahan. Orang yang mulai mencintai ketaatan akan semakin mudah menikmati ketaatan.

Kemudian Allah berfirman:

وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

“Dan Dia menganugerahkan kepada mereka ketakwaannya.”

Hidayah akhirnya tidak berhenti sebagai pengetahuan. Ia berubah menjadi takwa, yaitu kesadaran yang membuat seseorang berhati-hati dalam berpikir, berbicara, memilih, dan bertindak karena ia sadar bahwa hidupnya berada dalam pengawasan Allah.

Di sinilah perbedaan kedua kelompok itu menjadi sangat jelas:
Yang satu mendengar lalu melupakan.Yang lain mendengar lalu bertumbuh.

Yang satu mendapatkan informasi tetapi tetap dikuasai hawa nafsu.
Yang lain mendapatkan petunjuk lalu semakin tunduk kepada Allah.

Dalam pendidikan modern, ini dapat dikaitkan dengan perbedaan antara information acquisition dan transformative learning. Informasi hanya menambah apa yang kita ketahui. Pembelajaran transformatif mengubah cara kita melihat diri sendiri dan kehidupan.

Al-Qur’an menghendaki yang kedua. Wahyu bukan sekadar untuk memenuhi kepala dengan pengetahuan, tetapi untuk mengubah manusia dari dalam.

Munāsabah dan Penguatan Dalil

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. As-Saff Ayat 2–3)

Ayat ini memperkuat bahwa kualitas ilmu tidak hanya diukur dari apa yang keluar dari lisan, tetapi dari apa yang diwujudkan dalam kehidupan.

Allah juga berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut Ayat 69)

Hidayah bertambah ketika manusia bersungguh-sungguh menjalaninya.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam agama.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa pemahaman agama adalah salah satu tanda kebaikan yang Allah kehendaki bagi seorang hamba. Namun pemahaman itu seharusnya mengantarkan kepada ketakwaan dan amal, bukan sekadar menambah perbendaharaan pengetahuan.

Pelajaran Kehidupan

Jangan ukur keberhasilan belajar agama dari berapa banyak yang kita dengar, tetapi dari berapa banyak yang berubah dalam diri kita.

Jika setelah mendengar ayat kita menjadi lebih jujur, berarti ayat itu hidup.
Jika setelah memahami larangan Allah kita mampu meninggalkan sesuatu yang salah, berarti ilmu itu bekerja.
Jika setelah mengetahui kelemahan diri kita semakin rendah hati, berarti hidayah sedang bertambah.

Tetapi jika ilmu semakin banyak sementara ego semakin besar, mudah menyalahkan orang lain, dan hati semakin sulit menerima nasihat, maka kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah ilmu ini sedang menjadi cahaya, atau justru menjadi bahan bakar bagi kesombongan?

Renungan Peradaban

Peradaban ilmu tidak akan lahir hanya dari masyarakat yang pandai mendengar, tetapi dari masyarakat yang mampu mengubah ilmu menjadi karakter dan tindakan.

Bangsa yang memiliki banyak sekolah tetapi tidak memiliki integritas hanya akan menghasilkan manusia yang pintar melakukan manipulasi. Bangsa yang memiliki banyak informasi tetapi tidak memiliki kebijaksanaan akan menghasilkan teknologi tanpa arah. Dan masyarakat yang memiliki banyak pengetahuan agama tetapi tidak memiliki ketakwaan dapat terjebak dalam perdebatan tanpa perubahan.

Karena itu, Surat Muhammad ayat 16–17 memberikan salah satu fondasi penting bagi Peradaban Qur’ani: ilmu harus bergerak dari telinga menuju hati, dari hati menuju karakter, dan dari karakter menuju amal.

Di situlah perbedaan manusia yang hanya mendengar kebenaran dengan manusia yang hidup di bawah bimbingan kebenaran.

Yang pertama keluar dari majelis dengan pertanyaan, “Apa yang tadi dikatakan ?” Yang kedua keluar dengan pertanyaan yang jauh lebih dalam:

“Setelah aku mengetahui kebenaran ini, apa yang harus berubah dalam hidupku?”

Wallahu A’lam
Samarinda, 11 September 2026

Loading