Dr. Hartono, S.H.I., M.S.I.

Dewan Taujih Ponpes Miftahul Ulum Syaikhina Ismail Al-Zain Muara Wahau dan Dosen STAIS Kutai Timur

PERINGATAN Maulid Nabi Muhammad SAW selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Ia bukan sekadar sebuah momentum untuk mengenang kelahiran seorang manusia mulia, tetapi juga menjadi ruang untuk kembali bercermin: sejauh mana kita telah menghadirkan akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, mencintai Rasulullah bukan hanya dengan memperbanyak pujian dan selawat, tetapi juga dengan berusaha mengikuti jalan hidup, akhlak, dan keteladanan yang beliau wariskan kepada umatnya.

Pesan itulah yang terasa kuat dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung dengan penuh khidmat dan semarak. Dengan mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah untuk Mewujudkan Generasi yang Berilmu dan Berakhlak Mulia”, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi momentum pendidikan moral dan spiritual bagi seluruh jamaah, khususnya bagi para santri sebagai generasi penerus.

Hadir sebagai pengisi tausiyah, Kiai Hamza Arfa, S.Ag., M.Pd., Pemangku Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Syaikhina Ismail Al-Zain Muara Wahau. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan dengan penuh khidmat bahwa peringatan Maulid Nabi merupakan salah satu bentuk kecintaan umat kepada Rasulullah Muhammad SAW. Kecintaan itu menemukan maknanya karena Rasulullah adalah sosok yang menghadirkan uswah hasanah, contoh terbaik dan keteladanan yang paripurna bagi umat manusia.

Allah SWT bahkan menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi orang-orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah. Karena itu, Maulid seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Maulid mestinya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah meneladani kejujuran Rasulullah? Apakah kita sudah meniru kasih sayangnya? Apakah kita sudah belajar tentang kesabaran, amanah, kerendahan hati, keberanian, keadilan, dan kepedulian sosial yang beliau tunjukkan sepanjang hidupnya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi penting, terutama ketika kehidupan sosial hari ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi memang memberikan banyak kemudahan, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan tantangan terhadap karakter generasi muda. Pengetahuan berkembang begitu cepat, tetapi tidak selalu berjalan seiring dengan kedewasaan moral.

Di sinilah tema Maulid tersebut menemukan relevansinya. Generasi yang dibutuhkan bukan hanya generasi yang pintar, tetapi generasi yang berilmu sekaligus berakhlak. Kecerdasan tanpa akhlak dapat kehilangan arah. Ilmu tanpa moral dapat digunakan untuk kepentingan yang keliru. Sebaliknya, akhlak tanpa ilmu juga dapat membuat seseorang sulit menghadapi perubahan zaman.

Rasulullah SAW telah memberikan contoh bahwa ilmu dan akhlak tidak boleh dipisahkan. Beliau adalah seorang pendidik, pemimpin, negarawan, sekaligus manusia yang memiliki keluhuran budi. Beliau mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang bukan semata-mata karena status, kekuasaan, kekayaan, atau keturunannya, tetapi karena kualitas iman, ilmu, amal, dan akhlaknya.

Dalam tausiyahnya, Kiai Hamza juga mengingatkan tentang pesan Rasulullah SAW kepada umatnya agar senantiasa berpegang kepada dua pedoman utama, yakni Al-Qur’an dan hadis. Pesan tersebut terasa semakin penting di tengah kehidupan yang penuh dengan perubahan dan berbagai arus pemikiran. Al-Qur’an dan hadis bukan hanya untuk dibaca, tetapi harus dipahami, dihayati, dan diwujudkan dalam kehidupan. Menariknya, pesan tersebut disampaikan di tengah suasana Maulid yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat.

Para wali santri, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah desa, serta pihak keamanan turut hadir. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pendidikan akhlak bukan hanya menjadi tanggung jawab pesantren atau lembaga pendidikan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama.

Suasana acara pun berlangsung sangat meriah. Opening dan berbagai tampilan kreasi santriwan-santriwati dipersiapkan dengan baik, didukung audio visual dan sound system yang mumpuni. Kreativitas para santri menjadi bagian menarik dari rangkaian kegiatan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan pesantren tidak identik dengan pembelajaran agama dalam pengertian yang sempit.

Pesantren juga dapat menjadi ruang tumbuhnya kreativitas, keberanian tampil dengan adegan drama, kemampuan berkomunikasi, kerja sama, dan kepercayaan diri menjadi bekal yang sempurna dikemudian hari. Namun di balik kemeriahan tersebut, terdapat pesan yang jauh lebih penting, pendidikan harus melahirkan manusia yang memiliki karakter.

Santri tidak cukup hanya mampu membaca dan menghafal teks keagamaan, mereka harus mampu menjadikan nilai-nilai agama sebagai perilaku nyata, kejujuran harus menjadi karakte, kesantunan harus menjadi kebiasaan, tanggung jawab harus menjadi sikap dan kepedulian terhadap sesama harus menjadi bagian dari kehidupan.

Ada satu hal yang membuat peringatan Maulid tersebut terasa semakin personal. Kiai Hamza Arfa bukanlah sosok yang asing bagi penulis. Beliau adalah salah seorang guru yang pernah mengajar penulis pada rentang tahun 1998–2001 di Pondok Pesantren Ribatul Khail Tenggarong. Karena itu, perjumpaan dalam momentum Maulid ini bukan hanya menjadi pertemuan antara seorang penceramah dan jamaah, tetapi juga menghadirkan kembali hubungan antara guru dan murid yang dipertemukan oleh perjalanan waktu yang begitu Panjang dan romantic, “terimakasih guru, terimakasih atas segala ilmu dan do’a yang panjenengan berikan serta langitkan untuk murid mu ini”.

Seorang guru mungkin lupa kepada banyak murid yang pernah diajarnya. Namun bagi seorang murid, guru sering kali meninggalkan jejak yang tidak mudah hilang. Ilmu yang diberikan, nasihat yang disampaikan, dan keteladanan yang ditunjukkan dapat menjadi bekal yang terus hidup jauh setelah masa belajar berakhir.

Kini, Kiai Hamza mengabdikan dirinya sebagai Khodimul Ma’had sekaligus Pemangku Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Syaikhina Ismail Al-Zain Muara Wahau. Pesantren yang baru berjalan sekitar tiga tahun tersebut telah memiliki sekitar 300 santri atau anak didik. Angka tersebut tentu bukan sekadar jumlah, tetapi merupakan amanah besar.

Di tangan pesantrenlah sebagian generasi muda ditempa, dididik, dan dipersiapkan untuk menghadapi masa depan. Di penghujung tausiyah, Kiai Hamza memohon doa agar pesantren yang diasuhnya senantiasa diberikan keberlangsungan, keberkahan, dan kemampuan untuk terus memberikan manfaat bagi masyarakat. Harapan tersebut sangat layak mendapatkan dukungan.

Sebab, membangun pesantren pada hakikatnya bukan hanya membangun gedung, tetapi membangun manusia, membangun generasi berarti menanam masa depan. Karena itu, doa untuk pesantren tersebut sesungguhnya adalah doa untuk masa depan generasi. Semoga Pondok Pesantren Miftahul Ulum Syaikhina Ismail Al-Zain terus tumbuh menjadi lembaga pendidikan yang melahirkan generasi berilmu, beriman, berkarakter, dan berakhlak mulia.

Semoga jumlah santrinya terus bertambah, kualitas pendidikannya semakin baik, para pemangku pengasuh dan gurunya diberikan kekuatan, serta seluruh ikhtiarnya menjadi ziyadatul khair/tambahan kebaikan yang terus berkembang dan memberikan manfaat luas.

Pada akhirnya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya membawa kita pada satu kesadaran sederhana tetapi mendalam, mencintai Rasulullah berarti berusaha menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan kita. Selawat yang kita lantunkan harus menemukan bentuknya dalam perilaku.

Kisah kehidupan beliau harus menjadi inspirasi dalam tindakan. Dan kecintaan kepada beliau harus melahirkan komitmen untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga bersih hatinya dan mulia akhlaknya. Sebab, dunia boleh berubah, teknologi boleh berkembang, zaman boleh bergerak semakin cepat, tetapi kebutuhan manusia terhadap keteladanan tidak pernah berubah.

Dan di antara seluruh teladan yang pernah hadir dalam sejarah manusia, Rasulullah Muhammad SAW tetap menjadi teladan utama. Maulid bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah. Maulid adalah momentum untuk menghidupkan kembali akhlak Rasulullah dalam diri, keluarga, lembaga pendidikan, dan kehidupan masyarakat. Dari sanalah generasi berilmu dan berakhlak mulia dapat benar-benar diwujudkan.

Loading