TADABBUR SURAT MUHAMMAD (47) —Ayat 24–25
Oleh Masykur Sarmian
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَىٰ لَهُمْ
“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci? Sesungguhnya orang-orang yang berbalik ke belakang setelah nyata bagi mereka petunjuk, setan telah mempengaruhi mereka dan memanjangkan angan-angan mereka.”
—QS. Muhammad Ayat 24–25
Penjelasan Tematik
Setelah ayat 22–23 memperingatkan tentang kerusakan yang lahir ketika manusia berkuasa hingga memutus hubungan dan menutup diri dari kebenaran, ayat 24 membawa kita langsung kepada sumber penyakit yang lebih dalam: hati yang tidak lagi mau bertadabbur terhadap Al-Qur’an.
Pertanyaan Allah sangat menggugah:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ?”
Perhatikan kata yang digunakan: yatadabbarūn—bukan sekadar membaca, bukan sekadar mendengar, dan bukan sekadar menghafal. Tadabbur mengandung makna merenungkan secara mendalam, melihat akibat dan konsekuensi dari sebuah petunjuk, lalu membiarkan petunjuk itu memengaruhi cara seseorang memahami dan menjalani kehidupan.
Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya meminta manusia membuka mushaf, tetapi juga membuka hati.
Karena itu pertanyaan berikutnya menjadi sangat tajam:
أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Ataukah hati mereka sudah terkunci?”
Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa masalahnya adalah kurangnya kecerdasan. Masalahnya adalah hati yang tertutup.
Seseorang dapat memiliki pendidikan tinggi, membaca banyak buku, menguasai bahasa, bahkan mampu mendiskusikan agama secara intelektual, tetapi jika hatinya tidak bersedia tunduk kepada kebenaran, maka ilmu itu belum tentu membawanya kepada petunjuk.
Tadabbur berarti membiarkan Al-Qur’an bertanya balik kepada diri kita. Ketika membaca ayat tentang kejujuran, kita tidak hanya bertanya, “Apa makna ayat ini?” tetapi juga, “Di bagian mana hidupku masih tidak jujur?” Ketika membaca tentang amanah, kita bertanya, “Apa amanah yang sedang aku khianati?” Ketika membaca tentang kesombongan, kita bertanya, “Apakah aku sedang melihat kesalahan orang lain tetapi gagal melihat penyakit diriku sendiri?”
Di situlah Al-Qur’an berubah dari bacaan menjadi cermin.
Ayat 25 kemudian menunjukkan bahwa penutupan hati dapat membawa manusia kepada penyimpangan:
إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى
“Sesungguhnya orang-orang yang berbalik ke belakang setelah nyata bagi mereka petunjuk…”
Ini menunjukkan bahwa bahaya terbesar bukan hanya belum menemukan petunjuk, tetapi sudah mengetahui petunjuk lalu memilih berpaling darinya.
Kemudian Allah menyebut pengaruh setan:
الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَىٰ لَهُمْ
“Setan telah mempengaruhi mereka dan memanjangkan angan-angan mereka.”
Setan tidak selalu datang dengan ajakan yang terlihat buruk. Ia dapat datang melalui penundaan: nanti saja berubah, nanti saja bertobat, nanti saja memperbaiki diri. Ia membuat manusia merasa masih memiliki banyak waktu.
Inilah yang membuat tadabbur menjadi sangat penting. Tadabbur memaksa manusia keluar dari auto-pilot kehidupan dan berhenti sejenak untuk bertanya: ke mana sebenarnya hidupku sedang berjalan?
Munāsabah dan Penguatan Dalil
Allah berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”
(QS. Sad Ayat 29)
Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an adalah tadabbur. Jadi membaca Al-Qur’an tanpa usaha memahami dan menghayati pesan perubahan yangi dikandungnya belum mencapai tujuan yang sempurna.
Allah juga berfirman:
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
“Barang siapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih, Kami biarkan setan menemaninya, maka ia menjadi teman yang selalu menyertainya.”
(QS. Az-Zukhruf Ayat 36)
Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang mengingat Rabb-nya dengan orang yang tidak mengingat Rabb-nya seperti orang hidup dan orang mati.”
(HR. Al-Bukhari)
Hadis ini memperlihatkan bahwa hubungan dengan wahyu dan zikir bukan sekadar aktivitas ritual, tetapi sesuatu yang menghidupkan hati.
Pelajaran Kehidupan
Jangan puas hanya karena kita sudah membaca Al-Qur’an. Tanyakan kepada diri sendiri: “Apakah Al-Qur’an sudah membaca diriku ?”
Sebab membaca Al-Qur’an membuat kita melihat ayat, sedangkan tadabbur membuat kita melihat diri sendiri melalui ayat. Jika membaca ayat tentang kesabaran tetapi kita tetap mudah marah, berarti ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Jika membaca ayat tentang memaafkan tetapi hati terus menyimpan dendam, berarti ayat itu belum selesai bekerja dalam diri kita.
Tadabbur adalah keberanian untuk membiarkan Al-Qur’an menyentuh wilayah yang paling sulit: ego kita sendiri.
Renungan Peradaban
Peradaban Qur’ani tidak lahir hanya dari banyaknya mushaf, masjid, sekolah, atau majelis ilmu. Ia lahir ketika Al-Qur’an benar-benar membentuk manusia.
Jika Al-Qur’an hanya dibaca tetapi tidak ditadabburi, masyarakat dapat menjadi religius secara simbolik tetapi tidak Qur’ani dalam perilaku. Ayat tentang keadilan terdengar indah, tetapi ketidakadilan tetap berlangsung. Ayat tentang amanah dibaca setiap hari, tetapi pengkhianatan tetap dianggap biasa. Ayat tentang persaudaraan dikumandangkan, tetapi masyarakat terus terpecah oleh kepentingan.
Karena itu, proyek besar membangun peradaban harus dimulai dari menghidupkan kembali tradisi tadabbur: membaca ayat, memahami maknanya, menghubungkannya dengan realitas, lalu mengubahnya menjadi karakter dan tindakan.
Dan di sinilah ayat 24–25 menjadi sangat penting bagi perjalanan kita bersama Al-Qur’an:
Jangan hanya membuka mushaf. Bukalah hati.
Sebab Al-Qur’an yang berada di tangan dapat menerangi jalan, tetapi Al-Qur’an yang masuk ke dalam hati dapat mengubah manusia yang berjalan di atasnya.
Wallāhu A’lam
Samarinda, 15 September 2026
![]()

