SAMARINDA — Ada yang berbeda dari pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2, Jalan Stadion Utama Palaran, Kelurahan Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, Samarinda. Alih-alih sekadar pengenalan lingkungan biasa, sekolah yang menaungi anak-anak dari berbagai latar belakang rentan ini menggelar asesmen akademik komprehensif serta pemeriksaan kesehatan menyeluruh.

Langkah taktis ini diambil bukan tanpa alasan. Kepala Sekolah Rakyat Samarinda jenjang SD, Pahrizal, mengungkapkan bahwa asesmen yang berlangsung selama dua pekan ini menjadi kunci utama untuk memetakan kondisi riil para peserta didik, mengingat sebagian di antaranya merupakan anak-anak yang sempat putus sekolah atau bahkan belum pernah mengenyam pendidikan formal sama sekali.

Pahrizal, Kepala Sekolah Rakyat Samarinda, jenjang SD.(foto: jalia/jurnalborneo)

“Kami melakukan asesmen agar setiap anak memperoleh penempatan kelas sesuai kemampuan belajarnya masing-masing,” ujar Pahrizal, Jumat (31/7/2026).

*Uji “Calistung” hingga Deteksi Dini Stunting*

Dalam asesmen akademik tersebut, para guru diterjunkan langsung untuk menguji kemampuan dasar peserta didik, mulai dari membaca, menulis, hingga berhitung (calistung). Hasil dari pengujian ini akan menjadi landasan mutlak bagi pihak sekolah dalam menentukan jenjang pembelajaran yang paling efektif dan manusiawi bagi perkembangan psikologis serta intelektual anak.

“Kemampuan membaca, menulis, berhitung menjadi dasar menentukan jenjang belajar peserta didik sejak awal,” imbuhnya.

Tidak berhenti pada aspek akademik, gerak cepat juga dilakukan pada sektor kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Seluruh siswa wajib melalui prosedur pemeriksaan fisik—mulai dari pengukuran tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, hingga lingkar perut—sebelum diizinkan memasuki asrama.

Pahrizal menegaskan bahwa pemantauan kesehatan ini merupakan instrumen penting dalam mendukung program pencegahan stunting secara berkelanjutan. Seluruh data kesehatan fisik anak nantinya akan direkap dan dilaporkan secara berkala kepada Kementerian Sosial sebagai instrumen evaluasi tumbuh kembang peserta didik berasrama tersebut.

Melalui kombinasi asesmen akademik dan pemantauan kesehatan yang ketat ini, Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 optimis dapat merancang kurikulum pembinaan yang tepat sasaran, memberikan rumah kedua yang layak, serta mengembalikan hak-hak belajar anak-anak bangsa menuju masa depan yang lebih cerah.(ja/mn)

Loading