TADABBUR SURAT AL-WĀQI’AH —Ayat 26
Oleh Masykur Sarmian
إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا
_”Kecuali perkataan salam, salam.”_
—QS. Al-Wāqi’ah: 26
Penjelasan Tematik
Ayat ini merupakan kelanjutan langsung dari ayat sebelumnya. Allah terlebih dahulu meniadakan dua jenis komunikasi yang merusak: laghw, perkataan yang sia-sia, dan ta’tsīm, perkataan yang mengandung dosa. Setelah itu Allah menghadirkan satu jenis perkataan yang justru memenuhi ruang kehidupan mereka:
سَلَامًا سَلَامًا
“salam, salam”
Seolah-olah Al-Qur’an sedang menunjukkan sebuah formula sederhana tentang kebahagiaan sosial: hilangkan kata-kata yang merusak, lalu hidupkan kata-kata yang mendamaikan.
Kata salām berasal dari akar kata yang berkaitan dengan keselamatan, kedamaian, dan terbebas dari gangguan. Ketika seorang Muslim mengucapkan assalāmu ‘alaikum, ia bukan sekadar mengucapkan sapaan. Ia sedang menyampaikan sebuah deklarasi moral: aku tidak datang untuk menyakitimu; aku mendoakan keselamatan untukmu.
Ini menjadi sangat penting karena manusia membutuhkan bukan hanya makanan, tempat tinggal, dan keamanan fisik, tetapi juga psychological safety, rasa aman secara psikologis. Dalam psikologi organisasi, istilah ini digunakan untuk menggambarkan keadaan ketika seseorang merasa aman untuk berbicara, bertanya, menyampaikan pendapat, atau mengakui kesalahan tanpa takut dipermalukan atau diserang.
Bayangkan sebuah keluarga yang memiliki rumah megah tetapi setiap anggota takut berbicara. Bayangkan sebuah organisasi yang memiliki gedung besar tetapi bawahannya takut menyampaikan kebenaran. Bayangkan sebuah masyarakat yang bebas berbicara tetapi setiap perbedaan pendapat berubah menjadi penghinaan. Secara fisik mungkin mereka aman, tetapi secara psikologis mereka hidup dalam ketakutan.
Al-Qur’an menghadirkan surga sebagai tempat yang bahkan bahasanya adalah salam.
Allah berfirman:
تَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ
“Ucapan penghormatan mereka di dalamnya adalah salam.”
(QS. Ibrāhīm: 23)
Dan Allah berfirman:
سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ
“Salam, sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Penyayang.”
(QS. Yāsīn: 58)
Ini luar biasa. Puncak kenikmatan surga bukan hanya makanan dan tempat tinggal, tetapi salam yang datang dari Rabb Yang Maha Penyayang.
Dengan demikian, salām bukan sekadar kata. Ia adalah atmosfer kehidupan.
Munāsabah dan Penguatan Dalil
Allah berfirman:
وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ
“Dan penghormatan mereka di dalamnya adalah salam.”
(QS. Ibrāhīm: 23)
Allah juga berfirman:
وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ
“Para malaikat masuk menemui mereka dari setiap pintu, seraya berkata, ‘Keselamatan atas kalian karena kesabaran kalian.'”
(QS. Ar-Ra’d: 23–24)
Perhatikan bahwa salam di surga dikaitkan dengan kesabaran. Seakan-akan ketenangan akhirat merupakan buah dari kesabaran yang dijalani manusia ketika hidup di dunia.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kalian melakukannya, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa salam bukan sekadar etika, tetapi salah satu mekanisme membangun cinta sosial.
Ketika salam disebarkan, manusia mengirimkan pesan bahwa orang lain aman dari dirinya. Dari rasa aman lahir kepercayaan, dari kepercayaan lahir kedekatan, dari kedekatan lahir persaudaraan.
Pelajaran Kehidupan
Mulailah dari hal yang sederhana: biasakan mengucapkan salam dengan tulus. Ketika masuk rumah, ketika bertemu saudara, ketika memulai pertemuan, bahkan ketika berkomunikasi melalui ruang digital, hadirkan semangat salam.
Tetapi jangan berhenti pada ucapan. Jadilah orang yang menghadirkan salam.
Jangan membuat orang takut karena kemarahan kita. Jangan membuat keluarga berjalan di atas kulit telur karena takut salah bicara. Jangan membuat bawahan takut menyampaikan kebenaran. Jangan membuat teman merasa harus selalu menyenangkan kita agar tidak diserang.
Orang yang benar-benar membawa salam bukan hanya orang yang mengatakan “assalāmu ‘alaikum”, tetapi orang yang membuat kehadirannya menjadi keselamatan bagi orang lain.
Renungan Peradaban
Peradaban yang sehat adalah peradaban yang mampu mengubah ruang konflik menjadi ruang dialog.
Hari ini dunia memiliki teknologi komunikasi yang luar biasa. Manusia dapat berbicara kepada jutaan orang dalam hitungan detik. Tetapi kemampuan berbicara tidak otomatis membuat manusia mampu berdialog. Bahkan teknologi dapat memperbesar kebencian ketika komunikasi tidak disertai adab.
Karena itu, peradaban Qur’ani membutuhkan budaya salam: budaya yang berbeda pendapat tanpa saling menghancurkan, mengkritik tanpa menghina, tegas tanpa zalim, dan berdebat tanpa kehilangan kehormatan.
Kita tidak harus sepakat dalam segala hal untuk hidup berdampingan. Tetapi kita harus mampu memastikan bahwa perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Al-Wāqi’ah memberikan gambaran yang sangat indah: di tempat tujuan terakhir manusia, setelah semua hiruk-pikuk dunia berakhir, kata-kata yang tersisa hanyalah salam.
Maka barangkali pertanyaan yang layak kita bawa pulang dari ayat ini adalah :
Ketika orang-orang selesai berbicara tentang kita, apakah yang tersisa dari kehadiran kita: luka atau salam?
Apakah orang merasa lebih tenang setelah bertemu kita, atau justru lebih berat?
Apakah rumah menjadi lebih damai karena kita, atau lebih tegang?
Apakah kehadiran kita menjadi jembatan, atau justru menjadi sumber pertengkaran?
Sebab jika surga adalah negeri salām, maka perjalanan menuju ke sana seharusnya dimulai dengan belajar menjadi manusia yang membawa salam.
Wallāhu A’lam
Samarinda, 16 Oktober 2026
![]()

