TADABBUR SURAT AL-WĀQI’AH —Ayat 25
Oleh Masykur Sarmian
لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا
_”Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa.”_
—QS. Al-Wāqi’ah : 25
Penjelasan Tematik
Setelah Allah menggambarkan kenikmatan yang begitu lengkap bagi As-Sābiqūn, mulai dari tempat tinggal yang mulia, kebersamaan yang damai, pelayanan yang sempurna, minuman, makanan, hingga pasangan yang indah, tiba-tiba perhatian Al-Qur’an diarahkan kepada sesuatu yang justru tidak ada di dalam surga:
لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا
“perkataan sia-sia dan perkataan yang mengandung dosa.”
Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan yang sempurna bukan hanya tentang apa yang dimiliki, tetapi juga tentang terbebasnya manusia dari segala sesuatu yang selama ini merusak ketenangan jiwa.
Kata لَغْو berarti perkataan atau perbuatan yang tidak memiliki nilai yang benar, tidak membawa manfaat, bahkan dapat menjadi sesuatu yang mengganggu. Sedangkan تَأْثِيم berkaitan dengan perkataan yang mengandung dosa, celaan, kebohongan, penghinaan, atau ucapan yang menyeret manusia kepada kesalahan. Dengan demikian, Allah sedang menggambarkan sebuah lingkungan yang seluruh komunikasinya bersih dari kebisingan moral.
Ini sangat menarik jika dibandingkan dengan kehidupan manusia di dunia. Banyak penderitaan manusia sebenarnya tidak berasal dari kekurangan materi, tetapi dari kata-kata. Satu ucapan dapat menghancurkan harga diri seseorang. Satu tuduhan dapat merusak keluarga. Satu fitnah dapat menghancurkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun. Satu kalimat kasar dari orang yang kita cintai dapat menetap dalam ingatan jauh lebih lama daripada yang kita bayangkan.
Psikologi modern mengenal istilah rumination, yaitu kecenderungan pikiran mengulang-ulang pengalaman atau perkataan yang menyakitkan. Seseorang mungkin sudah meninggalkan tempat kejadian bertahun-tahun lalu, tetapi satu kalimat yang pernah didengarnya masih terus hidup dalam pikirannya. Ia mengingatnya kembali, menafsirkannya kembali, lalu merasakan kembali luka yang sama. Inilah salah satu alasan mengapa kualitas komunikasi sangat menentukan kesehatan hubungan dan kesejahteraan psikologis.
Al-Qur’an sejak awal menempatkan lisan sebagai sesuatu yang harus dijaga. Allah berfirman:
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sungguh, setan menimbulkan perselisihan di antara mereka.”
(QS. Al-Isrā’: 53)
Perhatikan bahwa Allah tidak hanya memerintahkan perkataan yang benar, tetapi الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ — perkataan yang paling baik. Ada kalanya seseorang mengatakan sesuatu yang benar, tetapi cara menyampaikannya melukai. Ada pula perkataan yang secara fakta benar, tetapi disampaikan dengan kesombongan sehingga menjadi sebab pertengkaran. Islam tidak hanya mendidik manusia agar benar dalam isi, tetapi juga baik dalam cara.
Karena itu, surga dalam ayat ini dapat dipahami sebagai gambaran tentang lingkungan komunikasi yang telah mencapai kesempurnaan. Tidak ada gosip, tidak ada penghinaan, tidak ada fitnah, tidak ada perkataan yang sia-sia, tidak ada ucapan yang sengaja menyakiti. Manusia menikmati kebahagiaan tanpa harus membayar kenikmatan itu dengan konflik verbal.
Munāsabah dan Penguatan Dalil
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
“Dan orang-orang yang berpaling dari perkataan dan perbuatan yang tidak berguna.”
(QS. Al-Mu’minūn: 3)
Ayat ini menunjukkan bahwa karakter penghuni surga telah dibentuk sejak dunia. Mereka bukan orang yang baru belajar meninggalkan laghw setelah masuk surga. Mereka telah melatih dirinya untuk menjauhi perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat selama hidup.
Allah juga berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qāf: 18)
Ayat ini menanamkan kesadaran bahwa komunikasi manusia tidak pernah benar-benar hilang tanpa pertanggungjawaban. Kata-kata yang dianggap sepele oleh manusia tetap berada dalam pengetahuan Allah.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan prinsip komunikasi yang sangat sederhana tetapi sangat dalam. Tidak semua yang kita pikirkan harus diucapkan. Tidak semua yang kita ketahui harus disebarkan. Tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang kasar. Kadang-kadang diam adalah bentuk kedewasaan ketika perkataan hanya akan menambah kerusakan.
Pelajaran Kehidupan
Kita sering menganggap dosa lisan sebagai sesuatu yang kecil karena tidak meninggalkan bekas yang terlihat. Padahal luka karena kata-kata dapat bertahan sangat lama. Karena itu, sebelum berbicara, biasakan bertanya kepada diri sendiri: apakah perkataan ini benar, apakah bermanfaat, apakah waktunya tepat, dan apakah cara penyampaiannya akan membawa kebaikan? Kemampuan berhenti sejenak sebelum berbicara merupakan bentuk response inhibition, yaitu kemampuan mengendalikan respons spontan sebelum berubah menjadi tindakan. Orang yang matang bukan orang yang selalu memiliki jawaban, tetapi orang yang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus menahan diri.
Dalam kehidupan keluarga, prinsip ini sangat penting. Banyak rumah tangga tidak hancur karena satu masalah besar, tetapi karena akumulasi kata-kata kecil yang merendahkan, menyindir, membandingkan, dan menyakiti. Demikian pula persahabatan dapat rusak bukan karena satu peristiwa besar, melainkan karena ucapan yang terus-menerus membuat seseorang merasa tidak dihargai. Karena itu, menjaga lisan sebenarnya adalah salah satu bentuk menjaga hubungan.
Renungan Peradaban
Sebuah peradaban membutuhkan trust, dan kepercayaan dibangun melalui kata-kata yang dapat dipercaya. Ketika masyarakat dipenuhi fitnah, propaganda, manipulasi, penghinaan, dan informasi yang tidak bertanggung jawab, yang rusak bukan hanya hubungan antar individu, tetapi juga fondasi kehidupan bersama. Masyarakat mulai curiga kepada institusi, keluarga mulai curiga kepada anggota keluarganya sendiri, dan manusia akhirnya hidup dalam ruang sosial yang penuh ketidakpercayaan.
Karena itu, peradaban Qur’ani tidak cukup hanya membangun gedung, ekonomi, teknologi, dan institusi. Ia harus membangun budaya lisan yang beradab. Kata-kata harus kembali menjadi jembatan, bukan senjata; menjadi pembawa kebenaran, bukan alat manipulasi, menjadi sumber ketenangan, bukan penyebab luka.
Dan menariknya, ketika Al-Qur’an menggambarkan surga, salah satu ciri kesempurnaannya justru adalah tidak adanya kata-kata yang sia-sia dan berdosa. Seolah-olah Allah ingin mengajarkan kepada manusia bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya ketika kita memperoleh apa yang kita inginkan, tetapi juga ketika kita hidup dalam lingkungan yang tidak saling melukai.
Maka sebelum kita berharap memasuki tempat yang di dalamnya tidak terdengar laghw dan ta’tsīm, marilah kita belajar menghadirkan suasana itu di rumah kita, di majelis kita, di tempat kerja kita, bahkan di ruang digital kita. Jangan jadikan lisan sebagai sumber kegelisahan bagi orang lain. Jadikan kata-kata kita sebagai tempat orang menemukan kejujuran, penghormatan, dan keteduhan.
Sebab mungkin salah satu bentuk paling nyata dari membangun surga di dunia adalah membuat orang lain merasa aman ketika berada di dekat lisan dan tangan jahil kita.
Wallāhu A’lam
Samarinda, 15 Oktober 2026
![]()

