SAMARINDA – Menanggapi insiden kecelakaan lalu lintas di Jalan Poros Samarinda-Bontang, Kelurahan Sungai Siring, pada Sabtu (18/7/2026), seorang Praktisi Keselamatan dan Penyelamatan, Prima P. Lesmana, menekankan pentingnya prosedur khusus dalam menangani korban yang terjepit di dalam kabin kendaraan. Menurut Prima, upaya penyelamatan tidak bisa dilakukan sembarangan karena menyangkut keselamatan korban serta petugas penolong.
Prima menyoroti risiko fatal jika tim penyelamat keliru dalam melakukan teknik evakuasi, seperti melakukan penarikan hanya pada daun pintu kendaraan. Ia menjelaskan beberapa alasan mengapa metode penarikan pintu secara paksa dinilai tidak efektif dan berbahaya:
1. Pintu bukan struktur utama: Daun pintu dirancang untuk membuka-tutup, bukan menahan beban tarik berton-ton, sehingga berisiko terlipat, robek, atau terlepas dari engsel tanpa menciptakan ruang evakuasi.
2. Energi tidak terdistribusi: Menarik pintu tidak akan memperbaiki deformasi pada pilar-pilar kendaraan (A-pillar atau B-pillar) yang menjepit korban.
3. Risiko snap-back: Jika engsel patah, rantai penarik dapat terlepas secara tiba-tiba dan membahayakan petugas serta masyarakat di sekitar.
4. Memperburuk cedera: Tarikan yang tidak terkontrol dapat memicu pergerakan kabin yang berisiko memperparah cedera korban, terutama cedera tulang belakang.
“Bicara ideal atau tidaknya, tentu jawabannya tidak ideal mengingat kondisi case seperti ini sudah seharusnya menggunakan peralatan TEA Ekstrikasi yang proper,” ujar Prima.
Ia menegaskan bahwa metode tarik hanya boleh dijadikan langkah terakhir (last resort) apabila peralatan penyelamatan hidrolik (spreader/cutter) tidak tersedia dan nyawa korban dalam kondisi terancam. Jika terpaksa menggunakan metode tarik, titik penarikan harus dipindahkan ke bagian struktur yang kuat seperti pilar A, pilar B, atau bagian rangka kendaraan lainnya.
Sebagai rekomendasi, Prima menyarankan urutan penyelamatan yang lebih aman dan sesuai standar praktisi rescue:
1. Melakukan stabilisasi kendaraan.
2. Memberikan perlindungan pada korban, termasuk stabilisasi tulang belakang secara manual.
3. Menggunakan peralatan hidrolik (spreader/cutter/ramp) untuk membuka pintu atau memotong engsel jika tersedia.
4. Jika pilar terdeformasi, lakukan prosedur dash roll, dash lift, atau pemotongan pada pilar A atau B.
4. Gunakan metode tarik hanya pada struktur kendaraan yang kokoh, bukan pada daun pintu.
“Jika memang harus menggunakan alat tarik karena keterbatasan peralatan, titik penarikan sebaiknya dipindahkan ke A-pillar, B-pillar, atau struktur rangka agar gaya tarik bekerja pada struktur utama kendaraan,” pungkas Prima.(mn)
![]()

