Catatan: Syafruddin Pernyata *)

SETIAP kali numpang ke toilet di mal atau perkantoran, saya hampir selalu menjumpai tulisan toilet pria—atau sekadar lambang bergambar. Namun, di Kartu Tanda Penduduk (KTP), pilihannya bukan pria dan wanita, melainkan laki-laki atau perempuan. Di sisi lain, ada pula kata jantan yang lazim dilekatkan pada binatang, tetapi dalam keadaan tertentu justru ditujukan kepada manusia, misalnya, “Kalau kamu memang jantan, hadapi. Jangan lari.” Dari sini tampak bahwa kata-kata yang sepintas sama ternyata memiliki ruang makna yang berbeda.

Bahasa memang unik. Ada beberapa kata yang sekilas tampak sama, padahal tidak sepenuhnya demikian. Ambil contoh empat kata berikut: cowok, pria, laki-laki, dan jantan. Keempatnya sering digunakan untuk merujuk pada sosok yang sama. Namun, jika dicermati, masing-masing memiliki wilayah makna, rasa bahasa, dan konteks pemakaian yang berbeda.

Mari kita mulai dari cowok. Kata ini hidup dalam bahasa pergaulan. Ia akrab, santai, dan tidak resmi. Kita mudah menemukannya dalam percakapan sehari-hari, tetapi hampir tidak pernah dalam karya ilmiah, naskah akademik, atau peraturan perundang-undangan.

Berbeda dengan pria. Kata ini lebih bernuansa formal dan santun. Kita mengenal istilah ruang pria, busana pria, kategori pria, atau majalah pria. Dalam situasi resmi, kata pria lebih lazim digunakan daripada cowok.

Adapun laki-laki merupakan istilah baku yang menunjuk manusia berjenis kelamin laki-laki. Kata inilah yang lazim digunakan dalam sensus penduduk, penelitian, administrasi kependudukan, maupun berbagai dokumen resmi. Karena itu, pasangan yang paling sejajar dengan laki-laki adalah perempuan.

Oh ya, ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita. Laki-laki berbeda dengan laki. Dalam sejumlah bahasa Nusantara, terutama bahasa Melayu, laki berarti suami. Karena itu kita masih mendengar ungkapan berlaki, yang berarti mempunyai suami, atau kalimat lakinya bekerja di luar kota, yang berarti suaminya bekerja di luar kota. Jadi, laki bukan sekadar kependekan dari laki-laki, melainkan kata yang memiliki makna tersendiri.

Lalu, bagaimana dengan jantan?

Menurut makna leksikalnya, jantan berarti hewan yang berkelamin jantan, lawan dari betina. Sampai di sini tidak ada persoalan. Namun, bahasa tidak hanya hidup di dalam kamus. Bahasa hidup bersama masyarakat. Sebuah kata dapat berkembang mengikuti cara masyarakat menggunakannya. Dari sinilah lahir makna kontekstual, yakni makna yang muncul karena pemakaian dalam situasi tertentu.

Perhatikan kalimat, “Kalau kamu memang laki-laki, keluarlah!” Tentu yang dipersoalkan bukan jenis kelaminnya. Yang sedang diuji adalah keberaniannya.

Begitu pula ketika seseorang berkata, “Jadilah laki-laki!” Maksudnya bukan berubah menjadi laki-laki, melainkan bersikap berani, tegas, jujur, dan bertanggung jawab.

Dalam konteks seperti itulah, kata jantan mengalami perluasan makna. Ia tidak lagi sekadar menunjuk jenis kelamin seekor hewan, melainkan menjelma menjadi lambang keberanian, kehormatan, integritas, dan martabat.

Puncak perubahan makna itu dapat kita temukan pada sebuah julukan yang sangat dikenal bangsa ini: Ayam Jantan dari Timur.

Tak seorang pun memahami julukan itu sebagai seekor ayam. Yang hadir dalam benak kita justru sosok Sultan Hasanuddin, raja yang dikenang karena keberaniannya melawan penjajah, keteguhannya memegang prinsip, dan semangatnya yang pantang menyerah. Dalam ungkapan itu, kata jantan telah meninggalkan makna biologisnya. Ia telah berubah menjadi simbol.

Karena kata jantan telah menjelma menjadi lambang keberanian, kehormatan, integritas, dan martabat, maka menjadi laki-laki ternyata belumlah cukup. Seseorang mungkin terlahir sebagai laki-laki, tetapi ketika takut menyuarakan kebenaran, enggan memikul tanggung jawab, atau memilih berlindung di balik jabatan, kekuasaan, maupun kepentingan pribadi, masyarakat sering berujar, “Dia laki-laki, tetapi belum tentu jantan.”

Barangkali di situlah letak perbedaan antara laki-laki dan jantan. Yang pertama adalah kodrat biologis, sedangkan yang kedua adalah kualitas moral. Laki-laki dilahirkan, tetapi kejantanan harus dibuktikan.

Kalau demikian halnya dengan cowok, pria, laki-laki, dan jantan, bagaimana pula dengan cewek, wanita, perempuan, dan betina? Apakah keempatnya juga sekadar sinonim? Ternyata kisahnya tidak kalah menarik.

*) Penulis pernah bekerja sebagai wartawan.

Loading