KAJIAN TEMATIK SURAT NUH—Ayat 26
Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم
وَقَالَ نُوحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا
“Dan Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.'”
—QS. Nuh Ayat 26
Penjelasan Tematik
Setelah menggambarkan perjalanan panjang dakwah Nabi Nuh dan bagaimana kaumnya terus mempertahankan kesombongan, menolak kebenaran, bahkan menyesatkan banyak manusia, pada ayat ini Al-Qur’an membawa kita memasuki satu momen yang sangat dalam : doa Nabi Nuh setelah perjuangan yang sangat panjang.
Allah berfirman:
وَقَالَ نُوحٌ رَّبِّ
“Dan Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku…'”
Ungkapan ini memperlihatkan kedekatan seorang nabi kepada Rabb-nya.
Nabi Nuh tidak mengadu kepada manusia. Ia tidak mencari pembenaran dari makhluk. Ia membawa seluruh beban perjuangannya kepada Allah.
Di balik doa ini terdapat perjalanan panjang seorang utusan Allah yang telah menghabiskan waktu, tenaga, kesabaran, dan kasih sayang untuk menyelamatkan manusia.
Kesabaran yang Memiliki Batas Ketetapan
Nabi Nuh dikenal sebagai salah satu nabi yang memiliki kesabaran luar biasa.
Al-Qur’an menggambarkan bahwa beliau berdakwah kepada kaumnya dalam waktu yang sangat panjang.
Allah berfirman dalam surat Al-‘Ankabut ayat 14 bahwa Nabi Nuh tinggal bersama kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.
Bayangkan sebuah perjuangan yang berlangsung hampir satu milenium.
Bukan satu atau dua tahun. Juga bukan satu atau dua generasi, —namun selama itu pula ia mendapat penolakan yang terus menerus.
Meskipun demikian, Nabi Nuh tidak segera menyerah. Beliau terus mengajak dengan berbagai cara, sebagaimana dijelaskan pada ayat-ayat sebelumnya: dengan sembunyi-sembunyi, terang-terangan, memberikan kabar gembira, dan memberikan peringatan.
Namun ketika penolakan telah berubah menjadi sistem yang menghalangi generasi berikutnya untuk mengenal Allah, maka datanglah keputusan.
Doa Nabi Nuh Bukan Karena Kebencian Pribadi
Jika dibaca sekilas, ayat ini mungkin tampak seperti doa yang keras. Namun kita harus memahami konteksnya.
Nabi Nuh bukan berdoa karena sakit hati pribadi.
Beliau bukan meminta kehancuran karena hinaan yang diterimanya.
Seorang nabi memiliki kasih sayang yang sangat besar kepada manusia.
Namun Nabi Nuh telah mengetahui bahwa masalah yang dihadapi bukan lagi sekadar perbedaan pendapat, melainkan sebuah sistem kesesatan yang terus diwariskan dan menghalangi manusia dari petunjuk Allah.
Hal ini dijelaskan dalam ayat berikutnya bahwa mereka bukan hanya sesat untuk diri sendiri, tetapi juga menyesatkan keturunan mereka.
Dalam perspektif keadilan, terkadang penghentian terhadap sebuah kerusakan besar adalah bentuk perlindungan bagi kehidupan yang lebih luas.
Ketika Kerusakan Menjadi Warisan
Bagian yang sangat penting dari ayat ini adalah perhatian Nabi Nuh terhadap masa depan manusia.
Beliau tidak hanya melihat orang-orang yang hidup saat itu, tetapi melihat bagaimana kesesatan mereka akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ini menunjukkan bahwa sebuah pemikiran memiliki dampak yang panjang.
Kebaikan yang ditanam dapat menjadi cahaya bagi generasi berikutnya.
Namun kesalahan yang diwariskan dapat menjadi beban yang terus berulang.
Dalam psikologi modern, hal ini berkaitan dengan konsep :
intergenerational transmission, yaitu bagaimana nilai, pola pikir, trauma, atau perilaku tertentu dapat diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Karena itu, memperbaiki satu generasi bukan hanya menyelamatkan hari ini, tetapi juga menjaga masa depan.
Ketika Manusia Kehilangan Kemampuan Menerima Kebenaran
Doa Nabi Nuh juga menunjukkan bahwa ada kondisi tertentu ketika manusia begitu jauh dari kebenaran sehingga hatinya kehilangan kepekaan.
Masalah terbesar mereka bukan kurangnya bukti.
Mereka telah melihat tanda-tanda Allah.
Mereka telah mendengar seruan Nabi Nuh.
Mereka telah diberi kesempatan yang panjang. Namun kesombongan membuat mereka tidak mampu menerima.
Inilah bahaya terbesar dalam perjalanan manusia : bukan ketika seseorang belum mengetahui kebenaran, tetapi ketika ia mengetahui lalu memilih untuk menolaknya.
Pelajaran Kehidupan
Ayat ini mengajarkan bahwa kesabaran tidak berarti membiarkan semua kerusakan tanpa batas.
Ada saat untuk bersabar, juga ada kesempatan untuk memperbaiki.
Ada pula waktu untuk bertahan. Dan ada saat untuk menyerahkan hasil akhir kepada keputusan Allah.
Manusia memiliki tugas untuk berusaha, tetapi tidak memiliki kekuasaan mutlak atas hati manusia lain.
Terkadang kita sudah memberikan nasihat terbaik. Sudah pula menunjukkan jalan yang benar. Juga sudah berusaha dengan kasih sayang.
Namun jika seseorang tetap memilih jalan yang salah, maka kita belajar menyerahkan urusan tersebut kepada Allah.
Saudara…
Ayat ini mengajarkan satu pelajaran tentang beratnya menjadi pembawa kebenaran.
Tidak semua kebaikan langsung diterima. Sebagaimana tidak semua perjuangan langsung dihargai.
Tidak semua orang yang kita cintai mau mengikuti jalan yang kita harapkan.
Namun jangan pernah berhenti menjadi sumber kebaikan.
Nabi Nuh telah memberikan contoh bahwa tugas manusia adalah menyampaikan, berjuang, dan menjaga keikhlasan.
Adapun perubahan hati, berada dalam kuasa Allah.
Maka ketika perjuangan terasa panjang dan melelahkan, ingatlah Nabi Nuh.
√ Beliau tidak berhenti karena penolakan.
√ Beliau tidak pernah mundur karena hinaan.
√ Beliau terus berjalan sampai Allah sendiri yang menetapkan akhir perjalanan.
Karena terkadang kemenangan bukan selalu ketika semua orang mengikuti kita.
Kadang kemenangan adalah ketika kita tetap setia menjalankan amanah Allah meskipun jalan terasa panjang dan sunyi.
Wallahu A’lam.
Samarinda, 17 Juli 2026
![]()

