Catatan: Syafruddin Pernyata *)

“Di balik setiap kebijakan besar, selalu ada cerita-cerita kecil yang membuatnya bernapas.”
Suatu pagi saya berkunjung ke MTs Al Misra, di Jalan Emboen Suryana, Kecamatan Sambutan, Samarinda. Lumayan jauh dari pusat kota. Sebagian besar muridnya berasal dari kalangan ekonomi ke bawah. Tidaklah mengherankan, sumbangan 75 ribu sebulan, banyak yang menunggak. Meski begitu, sejak didirikan 20 tahun lalu, muridnya lulus 100 persen.
Beberapa guru di sekolah itu saya kenal. Karena itulah saya tidak sungkan melihat dari dekat bagaimana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dijalankan.
Saya datang bukan untuk menilai. Saya hanya ingin melihat.
Ternyata, dari ruang makan sekolah yang sederhana itu, saya membawa pulang lebih banyak cerita daripada yang saya bayangkan.
Jam istirahat belum lama dimulai ketika anak-anak memasuki ruang makan. Mereka duduk bersama. Di hadapan masing-masing telah tersedia sebuah nampan yang berisi nasi putih, sepotong paha ayam goreng, dua potong tahu berbumbu, tumisan sawi putih, wortel, dan jagung, serta sebiji pisang.
Menu yang sederhana, tetapi telah memenuhi unsur gizi seimbang.

Sebelum satu pun sendok menyentuh nasi, seorang guru berdiri di depan.
“Anak-anak, mari kita berdoa.”
Ruangan yang semula riuh mendadak sunyi. Puluhan anak menundukkan kepala. Mereka berdoa bersama. Usai makan, doa kembali dipanjatkan. Saya memperhatikan semua itu tanpa banyak bicara.
Di sekolah ini saya melihat sesuatu yang sederhana, tetapi penting. Makan ternyata bukan hanya urusan mengisi perut. Ia juga menjadi cara mendidik anak untuk mensyukuri rezeki.
Perhatian saya kemudian beralih kepada Kepala MTs Al Misra, Langkane, S.Pd.

“Apakah makanan selalu habis?” tanya saya. Beliau tersenyum.
“Selalu ada yang berlebih.”
Saya sempat mengira anak-anak tidak menyukai menu yang disediakan. Ternyata dugaan saya keliru.
“Jumlah makanan disiapkan sesuai jumlah siswa. Tetapi setiap hari pasti ada yang izin, sakit, atau tidak masuk sekolah.”
Saya mengangguk. Penjelasan itu masuk akal. Namun beliau melanjutkan.
“Kadang-kadang ada juga anak yang tidak mau makan kalau menunya telur. Memang sejak kecil dia tidak bisa makan telur.”
Saya kembali mengangguk.
Saat itu saya berpikir, selera makan setiap anak rupanya memiliki riwayatnya sendiri. Gizi dapat dihitung dengan angka. Tetapi kebiasaan makan tidak selalu dapat dijelaskan dengan rumus.
“Lalu bagaimana dengan makanan yang tersisa?” tanya saya lagi. Beliau menjawab singkat.
“Semua nampan harus kosong ketika petugas dapur MBG datang mengambilnya.”
Kalimat itu membuat saya terdiam sejenak. Saya penasaran. Langkane kemudian menjelaskan.
“Kalau siswanya tidak hadir sehingga makanannya masih utuh, kami bungkus, lalu kami berikan kepada orang-orang yang membutuhkan.”
Saya terdiam. Seketika saya merasa bahwa di sekolah ini makanan tidak berhenti sebagai sebuah program. Ia berubah menjadi kepedulian.
Seporsi nasi yang tidak termakan ternyata masih dapat menghadirkan senyum di tempat lain.
Seorang guru kemudian ikut bercerita.
“Nasi dan lauk hampir selalu habis tetapi buahnya belum tentu.”
“Mengapa?” tanya saya.
“Karena pisangnya sering masih mentah. Anak-anak enggan memakannya. Kami minta jangan dibuang. Pisang itu kami peram. Dua hari kemudian setelah matang, kami bagikan lagi.”
Saya tersenyum.
Pisang yang belum matang itu tiba-tiba mengajarkan sebuah pelajaran. Tidak semua yang baik harus dinikmati hari ini. Ada yang memang memerlukan waktu sebelum akhirnya memberikan rasa manis.
Saya lalu bertanya tentang satu hal yang mungkin terdengar sepele.
“Selama ada MBG, apakah pernah ada sambal atau kecap?”
Langkane menggeleng.
“Belum pernah.”
Padahal, banyak anak terbiasa makan dengan sambal atau kecap. Lalu apa yang dilakukan sekolah? Para wali kelas membeli sambal dan kecap kemasan menggunakan uang kas kelas.
Bukan keputusan besar. Bukan pula kebijakan yang rumit. Hanya sebuah ikhtiar kecil agar anak-anak makan dengan lahap. Kadang-kadang, kepedulian memang lahir dari hal-hal yang sederhana.
Pertanyaan terakhir saya mungkin sedikit sensitif.
“Pernahkah menerima MBG yang basi?”
“Alhamdulillah, belum pernah,” jawab Langkane mantap.
Beliau menjelaskan bahwa makanan dimasak sejak dini hari, kemudian dibagikan kepada siswa sekitar pukul 10.10 saat jam istirahat.
Beliau lalu tertawa.
“Pernah memang ada makanan yang berlendir tetapi itu bukan makanan yang dimakan murid. Itu sisa MBG yang baru dicicipi seorang guru setelah salat Asar.”
Kami pun tertawa bersama.
Saya memahami maksudnya. Makanan memiliki batas waktu terbaik untuk dinikmati.
Dalam perjalanan pulang, pikiran saya kembali kepada ruang makan sederhana itu. Saya merasa tidak sedang menyaksikan anak-anak menikmati Program Makan Bergizi Gratis. Saya sedang menyaksikan pendidikan dalam bentuk yang lain.
Pendidikan yang mengajarkan syukur sebelum makan. Pendidikan yang mengajarkan agar makanan tidak dibuang. Pendidikan yang mengajarkan bahwa rezeki harus dihormati. Pendidikan yang mengajarkan bahwa persoalan kecil dapat diselesaikan dengan gotong royong.
Guru-guru di MTs Al Misra mungkin tidak pernah menyadarinya. Akan tetapi pagi itu mereka bukan hanya membimbing anak-anak membaca doa. Mereka sedang mengajarkan sebuah pelajaran yang barangkali tidak tertulis di dalam buku.
Bahwa menghargai makanan sama pentingnya dengan menghargai ilmu. Bahwa rasa syukur tidak cukup diucapkan. Ia harus dipraktikkan.
Saya akhirnya memahami bahwa yang harus kosong bukan sekadar nampan. Yang juga harus dikosongkan ialah kebiasaan menyia-nyiakan makanan, sikap memilih-milih rezeki, dan rasa tidak peduli kepada sesama.
Ketika semua nampan kembali dalam keadaan kosong, sesungguhnya sekolah ini sedang mengisinya dengan sesuatu yang jauh lebih berharga: pendidikan karakter.
Karakter yang kelak, mudah-mudahan, akan ikut mengisi negeri ini.
*) Penulis pernah bekerja sebagai wartawan.
![]()

