KAJIAN TEMATIK SURAT NUH—Ayat 24
Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم
وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا ۖ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا
“Dan sungguh, mereka telah menyesatkan banyak orang. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.”
—QS. Nuh Ayat 24
Penjelasan Tematik
Ayat ini merupakan kelanjutan dari perjalanan panjang dakwah Nabi Nuh yang penuh kesabaran.
Setelah Allah menggambarkan bagaimana para pemuka kaumnya mempertahankan berhala-berhala mereka dan mengajak masyarakat untuk tetap mempertahankannya dan tak terasa justeru mereka semakin hanyut dalam kesesatan.
Kini Allah menunjukkan akibat terbesar dari sikap mereka : bukan hanya tersesat untuk diri sendiri, tetapi menjadi penyebab banyak orang lain kehilangan jalan.
Allah berfirman :
وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا
“Dan sungguh, mereka telah menyesatkan banyak orang.”
Ada perbedaan besar antara seseorang yang melakukan kesalahan untuk dirinya sendiri dengan seseorang yang membangun sistem agar orang lain ikut berada dalam kesalahan.
Kesalahan pribadi masih mungkin diperbaiki melalui kesadaran.
Namun kesalahan yang disebarkan menjadi lebih berbahaya karena ia berubah menjadi budaya, pola pikir, dan warisan yang terus berulang.
Bahaya Pemimpin yang Kehilangan Arah
Ayat ini memberikan pelajaran bahwa pengaruh manusia adalah amanah besar.
Seseorang yang memiliki pengikut, kekuasaan, ilmu, atau posisi sosial memiliki tanggung jawab yang lebih berat.
Sebab perkataan dan tindakannya tidak hanya berdampak kepada dirinya, tetapi juga kepada orang-orang yang mengikutinya.
Para pemimpin kaum Nabi Nuh memiliki pengaruh. Mereka bukan hanya menyembah kesalahan, tetapi juga menjaga agar masyarakat tetap berada dalam kesalahan tersebut.
Mereka menggunakan kedudukan bukan untuk membimbing manusia menuju kebenaran, tetapi untuk mempertahankan kebiasaan yang keliru.
Dalam psikologi sosial modern, fenomena ini berkaitan dengan konsep :
social influence, yaitu kemampuan seseorang atau kelompok dalam memengaruhi cara berpikir dan perilaku orang lain.
Pengaruh adalah kekuatan. Namun kekuatan tanpa tanggung jawab dapat menjadi sumber kerusakan yang besar.
Kesalahan yang Diwariskan Lebih Sulit Diperbaiki
Salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan manusia adalah ketika sebuah kesalahan tidak lagi dianggap sebagai kesalahan.
Ia berubah menjadi sesuatu yang normal. Masyarakat mulai berkata :
“Semua orang melakukan ini, sejak dahulu kala sudah begini. Bukankah ini sudah menjadi tradisi kakek nenek kita.”
Padahal sesuatu tidak menjadi benar hanya karena sudah lama dilakukan.
Kebenaran tidak diukur dari usia sebuah kebiasaan, tetapi dari kesesuaiannya dengan petunjuk Allah.
Karena itu, para nabi selalu datang membawa misi yang sama : mengembalikan manusia dari kebiasaan yang membelenggu menuju kesadaran yang membebaskan.
Doa Nabi Nuh dan Keadilan Allah
Pada bagian akhir ayat Allah berfirman :
وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا
“Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.”
Sekilas ungkapan ini tampak seperti permohonan agar Allah menambah kesesatan mereka.
Namun para ulama menjelaskan bahwa maksudnya adalah ketika seseorang terus memilih kezaliman, menolak kebenaran, dan menutup dirinya dari petunjuk, maka Allah membiarkan mereka berjalan dalam akibat dari pilihan mereka sendiri.
Allah tidak menzalimi manusia. Tetapi Allah memberikan konsekuensi dari sikap manusia.
Seperti seseorang yang terus menutup matanya dari cahaya, akhirnya ia berjalan dalam kegelapan bukan karena cahaya tidak ada, tetapi karena ia memilih untuk tidak melihat.
Hati yang Menolak Kebenaran Akan Semakin Jauh
Salah satu hukum spiritual yang sering disebutkan dalam Al-Qur’an adalah bahwa hati manusia dapat mengalami perubahan sesuai dengan pilihan yang terus-menerus dilakukan.
Jika seseorang terus membuka diri terhadap kebenaran, hatinya akan semakin mudah menerima cahaya.
Namun jika seseorang terus menolak, membantah, dan mempertahankan kesombongan, maka kepekaan hatinya dapat semakin melemah.
Dalam psikologi modern, hal ini memiliki kemiripan dengan konsep :
cognitive dissonance reduction, yaitu kecenderungan manusia mencari pembenaran ketika keyakinan atau perilakunya bertentangan dengan kenyataan.
Jika seseorang terlalu lama mempertahankan kesalahan, ia sering kali justru membangun alasan baru untuk memperkuat kesalahannya.
Pelajaran Kehidupan
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki pengaruh, sekecil apa pun.
Seorang ayah memengaruhi keluarganya. Seorang guru memengaruhi muridnya.
Seorang pemimpin memengaruhi masyarakatnya. Seorang tokoh memengaruhi pengikutnya.
Karena itu, jangan pernah meremehkan dampak dari sebuah keteladanan.
Bisa jadi satu kebaikan yang kita lakukan menjadi jalan kebaikan bagi banyak orang.
Dan bisa jadi satu kesalahan yang kita sebarkan menjadi sebab banyak orang menjauh dari kebenaran.
Maka gunakanlah pengaruh sebagai jalan menghadirkan cahaya, bukan memperluas kegelapan.
Saudara…
Ayat ini seakan mengajak kita bertanya :
Apakah kehadiran kita membuat orang lain semakin dekat kepada Allah ?
Ataukah justru membuat orang lain semakin jauh dari nilai kebaikan ?
Sebab manusia tidak hanya akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia lakukan.
Ia juga akan dimintai pertanggungjawaban atas pengaruh yang ia tinggalkan.
Nabi Nuh telah mengajarkan bahwa perjuangan kebenaran membutuhkan kesabaran yang panjang, karena yang dilawan bukan hanya kesalahan individu, tetapi juga sistem pemikiran yang telah mengakar.
Namun kebenaran tetap harus disampaikan.
Karena tugas manusia bukan memastikan semua orang menerima.
Tugas manusia adalah menjadi pembawa cahaya.
Adapun hati yang terbuka atau tertutup, semuanya berada dalam ilmu dan keadilan Allah.
Maka jadilah manusia yang ketika dikenang, bukan karena banyaknya orang yang mengikuti kita, tetapi karena banyaknya kebaikan yang tumbuh melalui kehadiran kita.
Wallahu A’lam.
Samarinda, 15 Juli 2026
![]()

