BALIKPAPAN — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. menegaskan bahwa penanaman mangrove yang digelar Pimpinan Wilayah Aisyiyah Kalimantan Timur bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari pelaksanaan ibadah. Hal itu disampaikannya saat menghadiri penanaman mangrove dan peluncuran Gerakan Seribu Cahaya Aisyiyah serta Sekolah Asri di SMA Negeri 8 Balikpapan, Jumat, dalam rangka Milad Aisyiyah ke-109.

“Kita tahu kalau kita baca kitab Bulughul Maram, di antaranya disebutkan hadis-hadis yang berkaitan dengan menghidupkan lahan yang mati dengan menanam berbagai tanaman yang bermanfaat. Mangrove ini lebih dari sekadar memberikan buah yang kita nikmati, tapi menyelamatkan alam,” ujar Mu’ti.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.

Mu’ti yang juga menjabat Sekretaris Umum PP Muhammadiyah itu menyebut mangrove memiliki fungsi strategis: menciptakan lingkungan yang bersih, mencegah abrasi, serta menjaga ekosistem laut termasuk plankton dan ikan.

Sekolah Asri Jadi Percontohan Nasional

Mu’ti berharap SMA Negeri 8 Balikpapan dapat menjadi model bagi sekolah-sekolah lain di seluruh Indonesia. Menurutnya, sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan kecerdasan ekologis dan tanggung jawab sosial.

“Semoga SMA Negeri 8 Balikpapan ini dapat menjadi sekolah yang Asri dan menjadi model bagi sekolah-sekolah lain yang ada di Indonesia,” katanya.

Gerakan Sekolah Asri, kata Mu’ti, selaras dengan Permendiknas Nomor 6 Tahun 2026 tentang sekolah yang aman dan nyaman. Ia mengajak seluruh warga sekolah untuk memulai dari hal sederhana: mengurangi sampah plastik, menanam pohon, dan menggunakan sumber daya secara bijak.

Seribu Cahaya: Jangan Kabur, Nyalakan Terang

Mu’ti turut menjelaskan makna Gerakan Seribu Cahaya yang digagas PP Muhammadiyah melalui Majelis Lingkungan Hidup. Gerakan ini mendorong efisiensi energi dan pemanfaatan energi terbarukan seperti panel surya, sebagai respons atas ancaman krisis energi dan pemanasan global.

Ia mengutip slogan gerakan tersebut yang dinilainya sarat makna: “Jika sekitarmu gelap, engkaulah yang menyalakan terang bagi sekitarmu.”

“Jadi kalau ada yang punya prinsip kemudian kabur ke luar negeri, itu tidak cocok dengan gerakan Seribu Cahaya. Slogannya: jika sekitarmu gelap, engkaulah yang menyalakan terang. Inilah prinsip gerakan berkemajuan,” tegasnya.

Perdamaian Dimulai dari Lingkungan

Mu’ti juga mengaitkan seluruh rangkaian kegiatan dengan tema Milad Aisyiyah ke-109, yakni “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian.” Ia menekankan bahwa perdamaian bukan hanya absennya perang, melainkan kondisi di mana masyarakat memperoleh ketenangan, kebahagiaan, dan kecukupan dalam berbagai aspek kehidupan.
“Mewujudkan perdamaian itu tidak sebatas kita berusaha agar tidak terjadi perang. Damai adalah keadaan di mana kita mendapatkan ketenangan, kebahagiaan, dan berkecukupan dalam berbagai aspek kehidupan,” jelasnya.

Acara juga dihadiri Gubernur Kalimantan Timur Rudi Mas’ud dan Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian. Sebanyak 2.026 bibit mangrove ditanam sebagai simbol komitmen Aisyiyah terhadap pelestarian lingkungan sekaligus pembangunan karakter generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.

Loading