KAJIAN TEMATIK SURAT AL-MULK—Ayat 10

Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Dan mereka berkata : ‘Sekiranya dahulu kami mau mendengar atau menggunakan akal, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.’”
—QS. Al-Mulk Ayat 10

Penjelasan Tematik

Ayat ini adalah lanjutan dari penyesalan penghuni neraka.

Setelah mereka mengakui bahwa para pemberi peringatan memang telah datang, kini mereka menyadari akar masalah sebenarnya :

لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ
“Andai dahulu kami mau mendengar atau berpikir…”

Kalimat ini sangat menyentuh.

Karena ternyata masalah terbesar mereka bukan kurang ilmu, tetapi tidak mau membuka hati untuk mendengar dan berpikir dengan jujur.

Banyak Manusia Mendengar, Tetapi Tidak Benar-Benar Mau Mendengar

Secara fisik manusia bisa mendengar nasihat, ceramah, ayat Al-Qur’an, dan pengingat.

Tetapi belum tentu hatinya benar-benar mendengarkan.

Karena mendengar yang dimaksud dalam Al-Qur’an bukan hanya suara masuk ke telinga, tetapi kesediaan hati menerima kebenaran.

Dalam psikologi modern, ada istilah selective hearing — kecenderungan manusia hanya mau mendengar hal-hal yang sesuai dengan keinginannya sendiri.

Akibatnya nasihat yang bertentangan dengan hawa nafsu sering langsung ditolak sebelum direnungkan.

“Au Na‘qil” : Atau Kami Mau Menggunakan Akal

أَوْ نَعْقِلُ
“Atau kami mau berpikir.”

Ayat ini sangat menarik karena Al-Qur’an menghubungkan keselamatan dengan dua hal : mau mendengar dan mau berpikir.

Artinya Islam bukan agama yang mematikan akal.

Justru Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia : merenung, berpikir, dan menggunakan kesadarannya.

Karena akal yang sehat seharusnya membawa manusia mengenal Allah, bukan menjauhi-Nya.

Masalahnya Bukan Tidak Pintar, Tetapi Tidak Jujur kepada Diri Sendiri

Banyak orang cerdas secara intelektual, tetapi gagal secara spiritual.

Karena kecerdasan tidak otomatis melahirkan kebenaran jika ego menguasai hati.

Dalam psikologi modern, kondisi ini dekat dengan motivated reasoning — ketika seseorang menggunakan pikirannya bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk membenarkan apa yang sudah ingin ia percayai sejak awal.

Akibatnya akal kehilangan kejujuran.

Manusia tidak lagi mencari kebenaran, tetapi hanya mencari pembelaan bagi dirinya sendiri.

Penyesalan Selalu Datang Belakangan

Ayat ini menunjukkan sesuatu yang tragis : mereka baru sadar setelah semuanya terlambat.

Di dunia mereka punya waktu. Punya kesempatan. Punya peringatan.

Tetapi mereka tidak memanfaatkannya.

Dan ketika kebenaran menjadi nyata, yang tersisa hanyalah penyesalan.

Karena salah satu sifat manusia adalah sering meremehkan sesuatu sebelum kehilangan kesempatan atasnya.

Hati yang Tertutup Membuat Akal Tidak Sehat

Al-Qur’an menunjukkan bahwa masalah manusia bukan hanya pada akal, tetapi juga pada hati.

Karena hati yang dipenuhi kesombongan akan membuat akal kehilangan kejernihan.

Nasihat dianggap ancaman. Teguran dianggap penghinaan. Kebenaran dianggap gangguan kenyamanan.

Padahal orang yang dewasa secara spiritual adalah orang yang tetap mau menerima kebenaran meski pahit bagi dirinya.

Mengapa Banyak Orang Sulit Berubah ?

Karena berubah membutuhkan kerendahan hati.

Dan ego manusia sering lebih suka mempertahankan citra diri daripada mengakui kesalahan.

Dalam psikologi modern, ini berkaitan dengan ego defensiveness — mekanisme ketika seseorang menolak kritik atau kebenaran demi melindungi harga dirinya.

Akibatnya ia terus mengulang kesalahan yang sama, meski sebenarnya hatinya tahu bahwa dirinya salah.

Islam Mengajarkan Keseimbangan Hati dan Akal

Ayat ini sangat indah karena menyandingkan : mendengar dan berpikir.

Hati tanpa akal bisa mudah tersesat oleh emosi. Akal tanpa hati bisa menjadi dingin dan sombong.

Karena itu Islam mendidik manusia agar : hatinya lembut, tetapi pikirannya tetap jernih.

Dan salah satu tanda hidayah adalah ketika seseorang masih mampu mendengar nasihat dengan rendah hati.

Pelajaran Kehidupan

Maka jangan biasakan menolak nasihat hanya karena tidak sesuai dengan keinginan diri sendiri.

Karena bisa jadi yang paling menyelamatkan hidup manusia justru adalah nasihat yang paling berat diterima egonya.

Selain itu, manusia perlu belajar jujur kepada dirinya sendiri.

Sebab sering kali hati sebenarnya tahu mana yang benar, tetapi hawa nafsu membuat manusia mencari alasan untuk menundanya atau menghindarinya.

Ayat ini juga mengajarkan bahwa kecerdasan sejati bukan sekadar kemampuan berpikir cepat atau berbicara hebat.

Tetapi kemampuan menggunakan akal untuk mendekat kepada kebenaran dan menggunakan hati untuk tunduk kepada Allah SWT.

Kadang manusia terlalu bangga dengan pengetahuannya, tetapi lupa melatih kerendahan hati dalam menerima kebenaran.

Padahal orang yang paling dekat kepada hidayah bukan selalu yang paling pintar, tetapi yang paling jujur dalam mencari petunjuk.

Dan sering kali, yang menghancurkan manusia bukan kebodohan, tetapi kesombongan yang membuatnya tidak mau mendengar.

Saudara…,

Ayat ini adalah suara penyesalan dari manusia yang terlambat sadar :

“Andai dahulu kami mau mendengar… andai dahulu kami mau berpikir…”

Tetapi waktu sudah habis.

Karena itu jangan tunggu terlambat untuk membuka hati terhadap petunjuk Allah SWT.

Selama masih ada kesempatan, selama hati masih hidup, dan selama napas masih berjalan, belajarlah untuk mau mendengar, mau berpikir, dan mau tunduk kepada kebenaran.

Sebab salah satu nikmat terbesar dalam hidup bukan sekadar memiliki akal, tetapi memiliki hati yang mau menggunakan akal itu untuk mencari Allah.

Wallahu A‘lam.
Samarinda, 31 Mei 2026

Loading