JAKARTA – Badan meteorologi terus memantau pergerakan dinamika cuaca ekstrem di wilayah barat Samudra Pasifik. Sebuah sistem bibit siklon tropis yang dinamai Tropical Depression (Depresi Tropis) Jangmi dilaporkan sedang berkembang pesat di sebelah timur Filipina dan diprediksi berpotensi menguat menjadi badai topan (typhoon) dalam beberapa hari ke depan.
Meskipun posisi pusaran badai ini berada jauh di laut terbuka dan diproyeksikan tidak akan menghantam daratan (landfall) Filipina, dampaknya terhadap wilayah Indonesia tetap patut diwaspadai.
Indonesia dipastikan tidak terkena dampak langsung dari amukan badai, namun efek tidak langsung (indirect effect) terhadap dinamika atmosfer dan eskalasi kondisi perairan nasional tetap memerlukan pemantauan intensif.
Potensi Menguat Jadi Topan dalam 48 Jam
Berdasarkan analisis permodelan cuaca terbaru, sistem Depresi Tropis Jangmi berada dalam fase lingkungan yang sangat mendukung untuk tumbuh secara masif.
Dalam periode kritis antara 29 hingga 30 Mei 2026, sistem ini berpotensi besar naik kelas menjadi Typhoon. Kondisi ini dipicu oleh dua faktor alam utama di Samudra Pasifik saat ini:
Suhu Muka Laut yang Hangat: Menjadi pasokan energi utama bagi pertumbuhan awan-awan konvektif badai.
Shear Angin (Geser Angin) yang Rendah: Membantu struktur badai tetap tegak dan tidak mudah buyar, sehingga mempercepat proses penguatan intensitasnya.
Satelit Rekam Pusaran Unik Mirip Jemaah Thawaf
Ada fenomena menarik yang tertangkap oleh radar cuaca. Berdasarkan pantauan citra satelit terkini, pola pusaran awan Depresi Tropis Jangmi di Samudra Pasifik barat menunjukkan struktur yang mulai terorganisir dengan sangat rapi.
Uniknya, gumpalan awan pekat tersebut berputar melingkari pusat sistem dengan pola spiral yang solid, sepintas terlihat sangat mirip dengan kerumunan lautan manusia jemaah haji yang sedang bergerak melingkar melakukan prosesi Thawaf di sekeliling Ka’bah.
Otoritas keselamatan pelayaran dan masyarakat diimbau untuk tidak lengah. Efek tidak langsung dari badai sebesar Jangmi biasanya berupa daya tarik massa udara yang kuat.
Hal ini berpotensi memicu gelombang tinggi di beberapa wilayah perairan utara Indonesia yang berbatasan langsung dengan Samudra Pasifik, serta perubahan pola angin yang dapat menyebabkan hujan lebat secara tiba-tiba di wilayah intertropis sekitarnya. Warga pesisir diimbau untuk terus memperbarui informasi dari rilis resmi meteorologi berkala.(rls/mn)
![]()

