SAMARINDA – Aroma teh panas yang mengepul pada Kamis (28/5/2026) siang, perlahan beradu dengan wangi khas sop tulang dan gulai kambing yang menggugah selera dari arah dapur. Siang itu, Cafe Kompak Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim di Jalan Biola Nomor 8, Samarinda, mendadak berubah menjadi “mesin waktu”. Tempat ini memutar kembali lembar demi lembar kisah klasik yang pernah diukir para jurnalis senior di atas kertas koran dan gelombang udara.

Di sekeliling meja, waktu seolah berjalan melambat. Sejumlah tokoh pers senior Kaltim tampak duduk melingkar. Di antaranya mantan Kabiro Tribun Kaltim, Maturidi; pemilik media Niaga Asia, Intoniswan; serta duet andalan RRI Samarinda, Abdik Riyanto dan Jayadi. Rambut mereka boleh saja mulai memutih ditempa zaman, namun spirit jurnalisme dan ikatan persaudaraan mereka tidak sedikit pun luntur.

Di saat bersamaan, halaman Sekretariat PWI Kaltim tampak riuh. Rekan-rekan wartawan tengah sibuk bergotong-royong mengelola dua ekor sapi kurban. Satu ekor merupakan hasil patungan tujuh wartawan PWI, dan satu ekor lainnya merupakan bantuan dari Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud. Sebuah simbol kepedulian yang menyatukan para kuli tinta hari itu.

Sapi patungan 7 orang wartawan PWI siap dikurbankan.

 

Sapi titipan dari Gubernur Rudi Mas’ud turut di potong di halaman gedung PWI Kaltim.

 

Sang Penyembelih sapi kurban siap melaksanakan tugasnya.

 

Ketika “Sensor” Orde Baru Menjadi Lelucon Ruang Redaksi

Magnet utama siang itu tetaplah cerita masa lalu. Liputan-liputan lawas yang penuh warna, terkadang menegangkan, namun menyisakan rindu yang mendalam, menjadi topik hangat yang memecah suasana.

Gelak tawa para jurnalis senior ini pecah saat Intoniswan memulai cerita jenakanya mengenai era Orde Baru—masa di mana panggung politik tanah air masih didominasi oleh tiga kekuatan: Golkar, PDI, dan PPP.

Dengan gaya khasnya, pria yang akrab disapa Into itu membongkar rahasia dapur redaksi masa lalu. Dialah sosok yang dulu paling rajin menyaring, mengedit, bahkan kerap merombak total berita sebelum naik cetak. Di zaman itu, salah memilih kata dalam produk jurnalistik bisa berujung panjang.

Alih-alih menyisakan kekesalan, kenangan tentang bagaimana ketatnya sensor ruang redaksi di masa lalu justru menjadi lelucon paling renyah siang itu. Abdik, Jayadi, dan Maturidi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, mengamini betapa dinamisnya dunia pers pada masanya.

Menutup Siang dengan Rasa Syukur

Jarum jam bergerak tanpa permisi hingga menunjukkan pukul 12.30 WITA. Obrolan yang melintasi dekade demi dekade itu harus jeda sejenak ketika hidangan makan siang telah siap tersaji di meja.

Menu siang itu terasa istimewa, sop tulang dari sapi kurban bantuan Wali Kota Samarinda Andi Harun yang di potong YSITK—yang diracik oleh pengelola Cafe Kompak PWI Kaltim—serta gulai kambing hasil masakan dapur bang Suriyatman.

Di Jalan Biola siang itu, para jurnalis senior tidak hanya mengenyangkan perut dengan hidangan kaya rempah, tetapi juga mengenyangkan jiwa dengan rasa syukur. Pertemuan tersebut menegaskan satu hal: boleh saja pensiun dari jabatan struktural, tetapi spirit jurnalisme dan ikatan setia kawan akan terus abadi.(*)

Loading