KAJIAN TEMATIK SURAT AL-MULK—Ayat 9

Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم

قَالُوا بَلَىٰ قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ

“Mereka menjawab : ‘Benar, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, tetapi kami mendustakannya dan kami mengatakan : Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun; kalian hanyalah berada dalam kesesatan yang besar.’”
—QS. Al-Mulk Ayat 9

Penjelasan Tematik

Pada ayat sebelumnya para penjaga neraka bertanya :

أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ
“Apakah belum pernah datang kepada kalian seorang pemberi peringatan ?”

Dan pada ayat ini para penghuni neraka akhirnya menjawab dengan penuh penyesalan :

قَالُوا بَلَىٰ
“Mereka berkata : benar…”

Ini adalah pengakuan yang sangat menyakitkan.

Karena mereka sebenarnya sudah tahu. Sudah mendengar. Sudah diperingatkan.

Tetapi mereka memilih menolak.

Masalah Manusia Sering Kali Bukan Kurang Bukti

Ayat ini menunjukkan bahwa problem terbesar manusia sering kali bukan kurangnya tanda-tanda kebenaran.

Bukan karena Allah tidak mengirim petunjuk. Bukan karena tidak ada nasihat.

Tetapi karena hati tidak mau tunduk.

فَكَذَّبْنَا
“Lalu kami mendustakannya.”

Manusia kadang menolak bukan karena tidak paham, tetapi karena ego dan hawa nafsu lebih ingin dipertahankan.

Ketika Kebenaran Mengganggu Kenyamanan

Mengapa banyak orang sulit menerima nasihat ?

Karena kebenaran sering kali menuntut perubahan.

Dan perubahan terasa tidak nyaman.

Dalam psikologi modern, ada istilah cognitive resistance — kecenderungan manusia menolak informasi yang mengganggu keyakinan atau kenyamanan hidupnya.

Akibatnya manusia lebih mudah mencari pembenaran daripada melakukan perbaikan.

Lebih mudah menyangkal daripada mengakui kesalahan.

Penolakan yang Diulang Akan Menjadi Karakter

Awalnya seseorang mungkin hanya menolak satu nasihat.

Tetapi ketika penolakan terus diulang, lama-kelamaan hati menjadi keras.

Nasihat terasa mengganggu. Kebenaran terasa menyebalkan. Dan dosa mulai terlihat biasa.

Inilah yang disebut Al-Qur’an sebagai hati yang tertutup.

Bukan karena Allah langsung menutupnya sejak awal, tetapi karena manusia sendiri terus-menerus menolak cahaya.

“Maa Nazzalallaahu Min Syai’”

مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ
“Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun.”

Kalimat ini menunjukkan bentuk penolakan total terhadap wahyu dan petunjuk Allah.

Padahal manusia tanpa petunjuk wahyu sangat mudah tersesat oleh hawa nafsunya sendiri.

Karena akal manusia memiliki keterbatasan. Perasaan manusia berubah-ubah. Dan standar manusia sering bergeser mengikuti zaman.

Itulah sebabnya manusia membutuhkan petunjuk dari Allah SWT.

Kesombongan Intelektual Manusia

Sebagian manusia merasa dirinya cukup dengan logika dan pikirannya sendiri.

Merasa tidak membutuhkan wahyu. Tidak membutuhkan petunjuk Tuhan.

Padahal semakin manusia hanya mengikuti dirinya sendiri, semakin mudah ia tersesat oleh kepentingan dan hawa nafsunya.

Dalam psikologi modern, kondisi ini dekat dengan overconfidence bias — kecenderungan manusia merasa keyakinannya selalu benar meski sebenarnya sangat terbatas.

Dan kesombongan intelektual sering membuat manusia sulit menerima kebenaran.

Yang Didustakan Sering Kali Justru Membawa Keselamatan

Ironisnya, para nabi datang bukan untuk merugikan manusia.

Mereka datang membawa petunjuk, rahmat, dan keselamatan.

Tetapi manusia justru menuduh mereka sesat.

Ini menunjukkan bahwa hati yang sudah dipenuhi ego sering kali membalik kenyataan : kebenaran dianggap ancaman, sedangkan hawa nafsu dianggap kebebasan.

Penyesalan yang Datang Terlambat

Ayat ini sangat menyentuh karena pengakuan itu terjadi setelah semuanya terlambat.

Di dunia mereka menolak. Di akhirat mereka mengakui.

Tetapi pengakuan setelah kesempatan habis tidak lagi mengubah keadaan.

Karena itu salah satu tragedi terbesar hidup adalah : menyadari kebenaran ketika waktu sudah selesai.

Pelajaran Kehidupan

Maka jangan biasakan menolak nasihat hanya karena terasa tidak nyaman bagi ego.

Karena bisa jadi kalimat yang paling menyakitkan hari ini justru adalah yang paling menyelamatkan hidup kita.

Selain itu, manusia perlu belajar membedakan antara menjaga harga diri dan mempertahankan kesombongan.

Sebab kadang seseorang terlihat kuat di luar, tetapi sebenarnya terlalu keras kepala untuk mengakui kesalahan dirinya sendiri.

Ayat ini juga mengajarkan bahwa hati yang sehat adalah hati yang masih mau mendengar kebenaran meski bertentangan dengan keinginannya.

Karena semakin seseorang mudah menerima nasihat, semakin besar peluangnya untuk terus bertumbuh menjadi lebih baik.

Kadang manusia terlalu takut terlihat salah di hadapan orang lain, hingga akhirnya memilih menyangkal kebenaran demi mempertahankan gengsi.

Padahal mengakui kesalahan bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kedewasaan jiwa dan kerendahan hati.

Dan sering kali, orang yang paling sulit berubah bukan yang paling bodoh, tetapi yang paling sombong terhadap nasihat.

Saudara…,

Ayat ini adalah gambaran penyesalan yang sangat dalam :

mereka sebenarnya sudah diperingatkan, tetapi memilih mendustakan.

Dan ketika kebenaran akhirnya terlihat jelas, yang tersisa hanyalah pengakuan tanpa kesempatan kembali.

Karena itu jangan tunggu terlambat untuk menerima petunjuk Allah SWT.

Jangan tunggu hati menjadi keras. Jangan tunggu dosa terasa biasa. Dan jangan tunggu hidup hancur baru mencari Allah.

Sebab selama hati masih mau mendengar, masih mau tunduk, dan masih mau berkata :

“Ya Allah, bimbing aku…”

maka jalan kembali itu sebenarnya masih selalu terbuka.

Wallahu A‘lam.
Samarinda, 30 Mei 2026

Loading