TADABBUR SURAT AL-WĀQI’AH—Ayat 34
Oleh Masykur Sarmian
وَفُرُشٍ مَّرْفُوعَةٍ
“Dan kasur-kasur yang ditinggikan.”
—QS. Al-Wāqi’ah: 34
Penjelasan Tematik
Setelah menggambarkan pepohonan, buah-buahan, naungan dan air yang mengalir, Al-Qur’an membawa kita memasuki sisi lain dari kenikmatan surga: وَفُرُشٍ مَّرْفُوعَةٍ “dan kasur-kasur yang ditinggikan.” Kata furush adalah bentuk jamak dari firāsy, sesuatu yang digunakan sebagai tempat berbaring, beristirahat, atau tidur. Sedangkan marfū’ah berarti ditinggikan. Para mufasir menjelaskan bahwa ungkapan ini menggambarkan tempat istirahat yang mulia, tinggi, indah, dan nyaman, sesuai dengan kemuliaan kehidupan surga.
Menarik bahwa setelah berbicara tentang kelimpahan makanan dan kesegaran alam, Allah berbicara tentang istirahat. Seakan-akan Al-Qur’an sedang mengingatkan bahwa manusia bukan hanya membutuhkan sesuatu untuk dikejar, tetapi juga membutuhkan tempat untuk berhenti. Dunia modern membuat manusia sangat terampil bergerak, tetapi sering kehilangan kemampuan untuk beristirahat. Manusia bekerja, mengejar target, membangun karier, mengurus keluarga, mengejar informasi, mengikuti perkembangan teknologi, lalu terus merasa bahwa dirinya belum cukup produktif. Bahkan ketika tubuh berhenti, pikiran tetap bekerja.
Dalam psikologi modern terdapat istilah burnout, yaitu kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional yang muncul akibat tekanan berkepanjangan, terutama ketika tuntutan terus melebihi kapasitas pemulihan seseorang. Burnout tidak selalu terjadi karena seseorang terlalu banyak bekerja secara fisik. Ia juga dapat muncul karena seseorang merasa harus terus memenuhi ekspektasi, terus membuktikan diri, terus mengejar pencapaian, dan tidak pernah merasa memiliki izin untuk berhenti.
Karena itu, gambaran furush marfū’ah memiliki pesan psikologis yang dalam: kehidupan yang sempurna bukan kehidupan yang terus bergerak tanpa henti, tetapi kehidupan yang memiliki ruang untuk pemulihan. Istirahat bukan lawan produktivitas. Istirahat justru bagian dari keberlanjutan produktivitas.
Allah sendiri menciptakan malam sebagai ruang ketenangan:
وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا
“Kami menjadikan malam sebagai pakaian, dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.”
(QS. An-Naba’: 10–11)
Ada waktu untuk bergerak dan ada waktu untuk berhenti. Ada waktu untuk bekerja dan ada waktu untuk memulihkan diri. Bahkan alam semesta berjalan dalam ritme yang tidak monoton.
Tetapi kata مَرْفُوعَةٍ “ditinggikan”, memberikan dimensi tambahan. Istirahat di surga bukan sekadar berhenti karena kelelahan, tetapi sebuah kenaikan martabat. Dunia sering membuat manusia beristirahat karena tubuhnya sudah tidak mampu bekerja. Di surga, istirahat menjadi bagian dari kemuliaan yang Allah berikan.
Ini mengingatkan kita bahwa manusia tidak diciptakan hanya untuk menjadi mesin produksi. Nilai manusia tidak ditentukan oleh seberapa banyak ia bekerja, seberapa tinggi jabatannya, atau seberapa besar pendapatannya. Di hadapan Allah, ukuran kemuliaan adalah ketakwaan.
Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Ḥujurāt: 13)
Ayat ini membongkar salah satu penyakit masyarakat modern: productivity-based identity, yaitu kecenderungan menilai harga diri berdasarkan produktivitas dan pencapaian. Seseorang merasa berharga ketika berhasil, lalu merasa tidak berarti ketika gagal atau ketika tidak lagi produktif. Padahal manusia memiliki nilai karena ia adalah makhluk yang dimuliakan Allah, bukan karena ia selalu menghasilkan sesuatu.
Munāsabah dan Penguatan Dalil
Allah berfirman:
مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ سُرُرٍ مَّصْفُوفَةٍ
“Mereka bersandar di atas dipan-dipan yang tersusun.”
(QS. At-Ṭūr: 20)
Ayat ini memberikan gambaran serupa tentang tempat istirahat penghuni surga. Mereka tidak lagi berada dalam kondisi tertekan atau dikejar kebutuhan.
Allah juga berfirman:
فِيهَا سُرُرٌ مَّرْفُوعَةٌ
“Di dalamnya ada dipan-dipan yang ditinggikan.”
(QS. Al-Ghāsyiyah: 13)
Kesamaan ungkapan ini memperlihatkan bahwa tempat istirahat yang mulia merupakan salah satu gambaran penting dalam kenikmatan surga.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ خَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ مُجَوَّفَةٍ طُولُهَا فِي السَّمَاءِ سِتُّونَ مِيلًا
“Sesungguhnya di surga terdapat sebuah kemah dari mutiara yang berongga, tingginya di langit enam puluh mil.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Gambaran tersebut kembali memperlihatkan bahwa kehidupan akhirat memiliki kemuliaan dan keluasan yang tidak dapat disamakan dengan kehidupan dunia.
Pelajaran Kehidupan
Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak merasa bersalah ketika membutuhkan istirahat. Ada orang yang begitu sibuk mengejar keberhasilan sampai lupa bahwa tubuh juga memiliki hak. Ada yang menganggap tidur sebagai kemalasan, padahal tubuh membutuhkan pemulihan. Ada yang merasa harus selalu tersedia bagi semua orang, sampai akhirnya dirinya sendiri kehilangan tenaga.
Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan:
وَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Istirahat yang benar bukan berarti lari dari tanggung jawab. Justru dengan beristirahat secara sehat, seseorang mempersiapkan dirinya agar mampu kembali menjalankan amanah dengan lebih baik.
Renungan Peradaban
Peradaban yang manusiawi tidak boleh menjadikan manusia sebagai mesin produksi. Sistem ekonomi yang sehat harus memberikan ruang bagi keluarga, kesehatan, pendidikan, ibadah, dan pemulihan mental. Teknologi seharusnya membantu manusia memperoleh waktu, bukan justru membuat manusia bekerja dua puluh empat jam tanpa batas.
Kita perlu membangun budaya yang memahami bahwa manusia membutuhkan ritme. Ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk belajar, ada waktu untuk keluarga, ada waktu untuk beribadah, dan ada waktu untuk diam.
Peradaban yang hanya mengejar produktivitas akhirnya akan menghasilkan manusia yang kaya tetapi kelelahan, maju tetapi kehilangan kedamaian, dan sibuk tetapi tidak tahu untuk apa ia hidup.
Al-Wāqi’ah mengajarkan visi yang berbeda. Setelah kerja dunia selesai, manusia tidak lagi dikejar target, tidak lagi dibebani kecemasan, dan tidak lagi harus membuktikan dirinya. Ia dipersilakan beristirahat dalam kemuliaan.
Maka ayat وَفُرُشٍ مَّرْفُوعَةٍ seakan berbisik kepada manusia yang terlalu lama mengejar dunia:
Berhentilah sejenak. Engkau bukan mesin.
Istirahatlah dengan benar, pulihkan dirimu, lalu kembali berjalan menuju Allah.
Karena tujuan hidup bukanlah menjadi manusia yang paling sibuk, melainkan menjadi manusia yang paling bermakna di hadapan Allah.
Wallāhu A’lam
Samarinda, 24 Oktober 2026
![]()

