TADABBUR SURAT AL-WĀQI’AH —Ayat 33

Oleh Masykur Sarmian

لَّا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ

“Yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang untuk mengambilnya.”

—QS. Al-Wāqi’ah: 33

Penjelasan Tematik

Ayat ini melanjutkan gambaran tentang buah-buahan yang banyak pada ayat sebelumnya. Jika ayat 32 berbicara tentang kelimpahan, maka ayat 33 menjelaskan dua karakter utama dari kelimpahan tersebut: لَّا مَقْطُوعَةٍ—tidak terputus—dan وَلَا مَمْنُوعَةٍ—tidak terhalang atau dilarang untuk mengambilnya. Dengan dua ungkapan singkat ini, Al-Qur’an menggambarkan sebuah kehidupan yang terbebas dari dua kecemasan terbesar manusia: takut kehilangan dan takut tidak mendapatkan.

Di dunia, hampir setiap kenikmatan memiliki batas. Buah ada musimnya, air dapat mengering, kesehatan dapat menurun, kesempatan dapat berlalu, kekayaan dapat berkurang, bahkan orang-orang yang paling kita cintai suatu saat akan meninggalkan dunia. Karena itu, kebahagiaan manusia sering kali memiliki bayangan kecemasan. Ketika mendapatkan sesuatu, muncul ketakutan kehilangan. Ketika belum mendapatkannya, muncul ketakutan tidak akan pernah mendapatkannya. Manusia akhirnya hidup di antara dua kecemasan: fear of loss dan fear of missing out.

Dalam psikologi modern, loss aversion menggambarkan kecenderungan manusia merasakan kehilangan lebih kuat daripada kegembiraan ketika memperoleh sesuatu yang nilainya setara. Kehilangan seratus ribu rupiah dapat terasa lebih menyakitkan daripada kebahagiaan memperoleh seratus ribu rupiah. Karena itu, manusia sering mengambil keputusan bukan karena apa yang paling baik, tetapi karena takut kehilangan apa yang sudah dimiliki. Dalam kehidupan sosial, ketakutan ini dapat melahirkan kecemburuan, posesivitas, penimbunan, bahkan konflik.

Sementara itu, FOMO (fear of missing out) membuat seseorang merasa harus terus mengikuti sesuatu karena takut tertinggal. Ia melihat orang lain memperoleh sesuatu, lalu merasa dirinya kurang. Ia melihat orang lain menikmati kehidupan tertentu, lalu merasa kehidupannya tidak cukup baik. Akibatnya, manusia sulit menikmati apa yang ada di tangannya karena pikirannya terus mengejar sesuatu yang berada di tangan orang lain.

Gambaran surga dalam ayat ini justru meniadakan kedua sumber kecemasan tersebut. لَّا مَقْطُوعَةٍ berarti kenikmatan tidak terputus, sehingga tidak ada ketakutan bahwa suatu hari kenikmatan itu akan berakhir. وَلَا مَمْنُوعَةٍ berarti kenikmatan tidak terhalang dari penghuninya. Tidak ada kelangkaan, tidak ada antrean, tidak ada monopoli, tidak ada kekhawatiran bahwa seseorang akan kehilangan haknya atas kenikmatan yang telah Allah berikan.

Di sinilah kita memahami bahwa gambaran surga dalam Al-Qur’an bukan hanya tentang kemewahan, tetapi tentang kesempurnaan rasa aman. Manusia akhirnya terbebas dari kecemasan yang selama ini menyertai kenikmatan dunia. Ia tidak lagi harus menggenggam erat sesuatu karena takut kehilangan. Ia tidak lagi harus berkompetisi untuk mendapatkan sesuatu sebelum orang lain mengambilnya. Ia tidak lagi hidup dalam tekanan bahwa waktu terus berjalan dan kesempatan akan segera berakhir.

Allah berfirman:

وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيهَا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

“Dan bagi mereka rezekinya di dalamnya pada pagi dan petang.”
(QS. Maryam: 62)

Gambaran ini menunjukkan kesinambungan kenikmatan. Rezeki tidak berhenti hanya karena waktu berlalu.

Lebih jauh lagi, Allah berfirman:

لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُم مِّنْهَا بِمُخْرَجِينَ

“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka tidak akan dikeluarkan darinya.”
(QS. Al-Ḥijr: 48)

Perhatikan bagaimana Al-Qur’an bukan hanya menyebut adanya kenikmatan, tetapi juga meniadakan hal-hal yang dapat merusaknya: tidak ada kelelahan dan tidak ada pengusiran. Kenikmatan itu memiliki security of permanence—kepastian bahwa ia tidak akan dicabut.

Dalam konteks spiritual, ini mengajarkan kepada kita agar tidak menggantungkan kebahagiaan secara mutlak kepada sesuatu yang fana. Dunia memang tempat menikmati karunia Allah, tetapi dunia bukan tempat menetap. Karena itu, hati yang terlalu menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang sementara akan mudah mengalami kecemasan.

Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
(HR. Al-Bukhari)

Hadis ini tidak berarti manusia harus meninggalkan dunia. Seorang musafir tetap menggunakan kendaraan, makan, beristirahat, dan menikmati perjalanan. Tetapi ia tidak menganggap tempat persinggahan sebagai rumah terakhirnya.

Begitulah seorang mukmin hidup. Ia menikmati dunia tanpa memperbudak dirinya kepada dunia. Ia memiliki harta tanpa menjadikan harta sebagai pusat kehidupannya. Ia mencintai manusia tanpa melupakan bahwa semua manusia adalah milik Allah. Ia menikmati kesehatan sambil mempersiapkan diri menghadapi saat kesehatan itu berakhir.

Munāsabah dan Penguatan Dalil

Allah berfirman:

وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ ۝ لَّا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ

“Dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang untuk mengambilnya.”
(QS. Al-Wāqi’ah: 32–33)

Ayat ini memiliki hubungan yang sangat kuat dengan firman Allah:

إِنَّ هَٰذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِن نَّفَادٍ

“Sesungguhnya inilah rezeki Kami; tidak ada habisnya.”
(QS. Ṣād: 54)

Keduanya menunjukkan karakter rezeki akhirat: tidak mengalami kefanaan.

Allah juga berfirman:

عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

“Sebagai pemberian yang tidak terputus.”
(QS. Hūd: 108)

Ini semakin menegaskan bahwa kenikmatan surga tidak dibatasi oleh waktu sebagaimana kenikmatan dunia.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

يُقَالُ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ: إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلَا تَسْقَمُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلَا تَمُوتُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوا فَلَا تَبْأَسُوا أَبَدًا

“Dikatakan kepada penghuni surga: Sesungguhnya kalian akan selalu sehat dan tidak akan sakit selamanya; kalian akan hidup dan tidak akan mati selamanya; kalian akan menikmati kenikmatan dan tidak akan mengalami kesengsaraan selamanya.”
(HR. Muslim)

Hadis ini memperlihatkan bahwa kesempurnaan surga bukan hanya pada banyaknya nikmat, tetapi pada hilangnya kemungkinan nikmat itu berakhir.

Pelajaran Kehidupan

Ayat ini mengajarkan kita untuk membangun hubungan yang sehat dengan dunia. Jangan menggenggam dunia terlalu erat sampai kehilangan ketenangan ketika sesuatu pergi. Jangan pula mengejar semua yang dimiliki orang lain hanya karena takut tertinggal.

Belajarlah berkata dalam hati: Apa yang Allah berikan kepadaku adalah amanah, dan apa yang Allah ambil dariku juga berada dalam ilmu dan hikmah-Nya.

Dengan cara pandang seperti ini, seseorang menjadi lebih stabil secara emosional. Ia tetap berusaha ketika kehilangan, tetapi tidak hancur. Ia tetap bersyukur ketika mendapatkan, tetapi tidak mabuk oleh keberhasilan.

Inilah emotional regulation dalam perspektif spiritual: kemampuan mengelola emosi tanpa membiarkan emosi mengendalikan arah hidup.

Dunia mengajarkan kita untuk menggenggam. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk bersyukur, menggunakan, berbagi, dan melepaskan ketika waktunya tiba.

Renungan Peradaban

Sebuah masyarakat akan menjadi rapuh apabila seluruh sistemnya dibangun di atas rasa takut kekurangan. Ketika orang takut kehilangan pekerjaan, takut kehilangan status, takut kehilangan kekayaan, takut kehilangan kekuasaan, maka kompetisi mudah berubah menjadi saling menjatuhkan.

Karena itu, peradaban Qur’ani harus membangun sistem yang menciptakan rasa aman sosial. Anak tidak boleh takut kelaparan. Orang tua tidak boleh kehilangan harapan ketika usia menua. Orang sakit tidak boleh merasa dirinya menjadi beban. Orang miskin harus memiliki jalan untuk bangkit. Orang yang kehilangan pekerjaan harus memiliki kesempatan untuk memulai kembali.

Kemakmuran yang sejati bukan hanya ketika sebagian manusia memiliki sangat banyak, tetapi ketika tidak ada manusia yang hidup dalam ketakutan bahwa besok ia tidak memiliki apa-apa.

Inilah salah satu makna terdalam dari gambaran surga dalam ayat ini. Allah memperlihatkan kepada manusia sebuah kehidupan tanpa kelangkaan, tanpa monopoli, tanpa ketakutan kehilangan, dan tanpa kecemasan akan masa depan.

Dan mungkin inilah pesan yang paling relevan bagi kehidupan kita: jangan membangun kebahagiaan di atas sesuatu yang pasti berakhir.

Bangunlah kebahagiaan di atas hubungan dengan Allah, karena hanya Dia yang tidak pernah berakhir.

Sebab semua yang ada di dunia akan sampai pada batasnya, sementara pemberian Allah kepada hamba-hamba-Nya di akhirat adalah لَّا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ — tidak terputus dan tidak terhalang.

Wallāhu A’lam
Samarinda, 23 Oktober 2026

Loading