SAMARINDA — Ancaman nyata Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali meneror warga Kota Samarinda. Tanpa ampun, si jago merah melalap habis lebih dari 20 hektare lahan di kawasan Perumahan Korpri Pelita 8 (RT 6 Kelurahan Sambutan) hingga Jalan Veteran (Kelurahan Pulau Atas), Kecamatan Sambutan, pada Kamis (22/10/2026).

Kebakaran hebat yang pecah sejak pukul 14.37 WITA tersebut dengan cepat menjalar dan mengancam kawasan permukiman akibat tiupan angin kencang serta kondisi lahan yang mengering.

Di tengah gumpalan asap pekat yang membubung tinggi, amukan api tidak hanya melalap vegetasi, tetapi juga memanggang ekosistem lokal secara tragis. Di lokasi kejadian, petugas menemukan berbagai jenis satwa yang terpanggang dan terdampak hebat akibat kehilangan habitatnya.
“Empat jenis satwa yang kami temukan terdiri dari ular, landak, trenggiling, dan burung,” ungkap Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) Satgas Karhutla BPBD Kota Samarinda, Nanang Arifin, di lokasi kejadian.
Petugas Terdesak: Pasokan Air Kritis, Angin Mengamuk
Proses pemadaman berlangsung dramatis dan mencekam. Petugas BPBD bersama gabungan relawan terpaksa bertaruh dengan waktu di tengah keterbatasan pasokan air dan minimnya infrastruktur mitigasi di lokasi.
Sumber air yang berjarak jauh memaksa tim gabungan menerapkan sistem estafet mengandalkan penampungan sementara (flexible tank) agar penyemprotan tak terputus di titik-titik krusial.
“Angin cukup kencang sehingga api cepat menyebar ke area lahan yang terbakar. Jarak sumber air juga cukup jauh,” terang Nanang mengenai ganasnya medan pertempuran memadamkan api.
Alarm Keras Bagi Mitigasi Bencana Samarinda
Peristiwa terbakarnya 20 hektare lahan di jantung Kecamatan Sambutan ini menjadi tamparan keras bagi sistem kesiapsiagaan bencana daerah. Ketika lahan kritis dibiarkan meranggas dan penanganan teknis di lapangan masih terseok-seok akibat minimnya ketersediaan air, publik dihadapkan pada pertanyaan besar: sampai kapan Samarinda dibiarkan menjadi ‘mangkuk asap’ dan mengorbankan ruang hidup warga serta satwa langka?
Jika tidak ada tindakan tegas dan langkah pencegahan permanen dari otoritas terkait, bencana ini dipastikan akan terus berulang dan menelan korban yang lebih besar.(*/mn)
![]()

