SAMARINDA – Hipnoterapis klinis Endro S. Efendi mengajak para lanjut usia untuk berdamai dengan pengalaman masa lalu, mengelola emosi, dan membangun hubungan keluarga yang lebih sehat guna memutus mata rantai luka emosional antargenerasi. Pesan tersebut disampaikan dalam Pengajian Senior Aisyiyah ke-17 bertema “Bahagia Lahir Bathin di Usia Emas” di Balai Lansia Aisyiyah Kalimantan Timur, Jalan Wiratama, Samarinda Ulu, Kamis (22/10/2026).
Dalam kegiatan yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Kalimantan Timur bersama Day Care Lansia Husnul Khatimah itu, Endro menyoroti bagaimana pengalaman menyakitkan yang tidak terselesaikan dapat memengaruhi cara seseorang menjalin hubungan, termasuk dalam pola pengasuhan anak. Kegiatan ini dipandu Dr. Santi Yahya, S.T., M.T.

Berdasarkan pengalamannya menjalani praktik hipnoterapi klinis sejak 2015, Endro mengamati berbagai persoalan emosional yang berkaitan dengan pengalaman masa kecil dan dinamika keluarga. Menurut dia, pola komunikasi dan pengasuhan yang diwarnai kemarahan atau luka emosional berisiko terbawa ke hubungan dengan generasi berikutnya.
Pola tersebut, yang ia gambarkan sebagai lingkaran yang perlu diputus, bukanlah alasan untuk menyalahkan orang tua atau generasi sebelumnya. Sebaliknya, kesadaran terhadap pengalaman masa lalu dapat menjadi langkah awal untuk memahami dampaknya dan memilih cara yang lebih sehat dalam membangun hubungan.
Bagi para lansia, refleksi ini penting karena mereka tidak hanya menjalani fase kehidupan pribadi, tetapi juga sering berperan dalam mendampingi anak dan cucu. Berdamai dengan masa lalu, kata Endro, bukan berarti membenarkan semua hal yang pernah terjadi, melainkan menerima kenyataan, memahami luka yang mungkin ditinggalkan, dan tidak membiarkannya terus mengendalikan kehidupan saat ini.
Ia juga mengingatkan bahwa bertambahnya usia tidak mengurangi nilai diri seseorang. Perubahan kondisi fisik, aktivitas, maupun peran sosial tidak seharusnya membuat lansia kehilangan makna hidup. Kebahagiaan di usia emas tetap dapat dibangun melalui pengelolaan emosi, kedekatan spiritual, hubungan yang sehat, dan kesempatan untuk terus berkontribusi bagi keluarga serta lingkungan.
Persoalan hubungan keluarga menjadi salah satu topik yang mengemuka dalam sesi tanya jawab. Sejumlah peserta menyampaikan persoalan yang mereka hadapi, mulai dari cucu yang mengalami perundungan di sekolah hingga kekecewaan terhadap anggota keluarga sendiri.
Seorang peserta menceritakan cucunya yang menangis setiap pagi dan menolak berangkat sekolah setelah mengalami perundungan. Sang nenek telah menyarankan agar anak tersebut dibawa berkonsultasi dengan tenaga profesional kesehatan mental, tetapi usul itu belum mendapat persetujuan dari menantunya.
Menanggapi persoalan tersebut, Endro menyarankan keluarga menyediakan waktu berkualitas untuk membangun percakapan mendalam atau deep talk dengan anak. Percakapan perlu dilakukan pada saat anak merasa nyaman, dengan memberi ruang bagi anak untuk mengungkapkan perasaan dan menceritakan pengalamannya tanpa takut dihakimi.
Anak juga tidak boleh dipaksa menceritakan pengalaman yang belum siap ia ungkapkan. Orang dewasa perlu mendengarkan dengan penuh perhatian dan menunjukkan bahwa anak mendapat dukungan. Mengingat perundungan tersebut telah membuat anak menangis setiap pagi dan menolak sekolah, keluarga juga perlu memastikan keselamatannya, berkomunikasi dengan pihak sekolah, serta mempertimbangkan pendampingan tenaga profesional.
Peserta lain mengungkapkan kesedihannya karena sang cucu berhenti kuliah. Persoalan ini turut memperlihatkan perhatian para lansia terhadap masa depan generasi muda. Dalam menghadapi situasi tersebut, komunikasi yang terbuka dapat membantu keluarga memahami alasan di balik keputusan anak sebelum menentukan langkah selanjutnya.
Sementara itu, seorang peserta mengaku masih menyimpan kejengkelan terhadap saudaranya. Endro menyarankan agar persoalan itu dibicarakan secara langsung apabila situasinya memungkinkan dan aman. Perasaan tidak nyaman dapat disampaikan dengan menjelaskan perilaku yang menjadi persoalan, dampaknya, serta harapan untuk memperbaiki hubungan, tanpa merendahkan pihak lain.
Selain mendorong komunikasi terbuka, Endro memperkenalkan teknik khusus untuk membantu peserta menyikapi persoalan emosional. Materi tersebut mengajak peserta mengenali respons diri dan mempertimbangkan langkah yang lebih bijaksana ketika menghadapi persoalan pribadi maupun keluarga.
Antusiasme peserta dalam menyampaikan pertanyaan menunjukkan bahwa tema kesehatan emosional berkaitan erat dengan pengalaman sehari-hari mereka. Diskusi tidak hanya membahas cara mendampingi anak dan cucu, tetapi juga bagaimana para lansia merawat ketenangan batin dan menyelesaikan persoalan dalam hubungan mereka sendiri.
Dalam penyampaiannya, Endro juga mengajak peserta tetap terbuka terhadap pengetahuan baru tanpa menjadikan usia sebagai ukuran tunggal untuk menilai kemampuan seseorang. “Jangan berpandangan, karena narasumber masih muda, terus bilang, tahu apa soal lansia?” ujarnya.
Suasana pengajian sesekali mencair ketika Endro menyelipkan humor ringan tentang keterbatasan manusia dalam mengetahui kehidupan setelah kematian. Dengan nada berseloroh, ia menyinggung bahwa surga dan neraka merupakan hal yang disampaikan dalam ajaran agama, tetapi bukan pengalaman yang dapat diceritakan langsung oleh orang yang telah mengalaminya. Canda tersebut menghadirkan suasana lebih santai di tengah penyampaian materi.
Kepala Sekolah Lansia, Dr. Nunung Herlina, S.Kp., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas dukungan dan ilmu yang dibagikan Endro kepada para peserta. Ia memandang pengetahuan tersebut sebagai bentuk “sedekah ilmu” yang bermanfaat bagi para lansia.
Melalui pengajian ini, para peserta diajak memandang usia emas bukan sekadar fase menerima perubahan, melainkan juga kesempatan untuk terus belajar, memperbaiki hubungan, dan mewariskan pola komunikasi yang lebih sehat kepada generasi berikutnya.(*/mn)
![]()

