NUSANTARA – Posko Pemadam Kebakaran Sepaku baru saja merayap ke angka 22.00 Wita, Minggu malam (11/10/2026). Di tengah keheningan malam yang menyelimuti kawasan Ibu Kota, sebuah laporan darurat mendadak memecah kesunyian, si jago merah mengamuk di semak belukar Gunung Tengkorak, Desa Suko Mulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara.
Tanpa buang waktu, empat petugas pemberani—Bangun Sucita, Vansyah, Nur Fauji, dan Novan Ardiansyah—langsung melompat ke kendaraan penyelamatan dan truk fire truck berkapasitas 5.000 liter. Di bawah komando Kepala Seksi Penanggulangan Kebakaran DPKP PPU Muhammad Said, mereka tahu betul apa yang dipertaruhkan. Jarak 23 kilometer dari posko menuju titik api harus mereka tempuh di tengah gulita malam.
Perjalanan panjang itu menguji keteguhan. Sekitar pukul 23.10 Wita, armada pemadam akhirnya tiba di lokasi. Di hadapan mereka, kobaran api melahap vegetasi semak belukar, memantulkan cahaya merah membara di kegelapan malam Gunung Tengkorak.
Tanpa menunggu fajar menyingsing, operasi pemadaman langsung dimulai tepat pukul 23.15 Wita. Berjibaku bersama personel Polsek Sepaku dan aparat Kecamatan Sepaku, tim gabungan bahu-membahu melumpuhkan amukan api yang mengancam meluas.
Malam itu, dinginnya udara Sepaku berubah menjadi panas oleh kepulan asap dan percikan bara. Selama berjam-jam, di tengah keterbatasan pandangan malam hari, petugas terus menyemprotkan air hingga detik-detik menjelang subuh. Perjuangan panjang di kegelapan malam itu akhirnya membuahkan hasil manis ketika operasi pemadaman resmi ditutup pada pukul 04.30 Wita, Senin dini hari.
“Kami langsung mengerahkan petugas menuju lokasi untuk melakukan pemadaman setelah menerima laporan adanya kebakaran lahan,” ujar Muhammad Said mengenang detik-detik menegangkan tersebut.
Dari hasil penyisiran pasca-pemadaman, amukan api tercatat telah menghanguskan sekitar 2 hektare lahan kosong yang dipenuhi semak belukar. Hingga kini, siapa pemilik lahan tersebut masih gelap, sementara misteri penyebab kebakaran tengah diselidiki mendalam oleh jajaran kepolisian sektor setempat. Untungnya, berkat kesigapan tim di lapangan, dipastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden mencekam ini.
Setelah memastikan seluruh bara api benar-benar padam dan tidak ada potensi titik api susulan, seluruh personel kembali bergegas pulang ke posko menjelang pagi hari, bersiap siaga kembali menyambut panggilan darurat berikutnya.
Peristiwa di Gunung Tengkorak ini meninggalkan pesan telak bagi warga PPU: di tengah musim kemarau yang rentan, api kecil bisa berubah menjadi teror mengerikan jika dibiarkan. Kewaspadaan dan laporan cepat dari masyarakat tetap menjadi benteng utama agar malam-malam mencekam seperti di Sepaku tak terulang kembali.(*/mn)
![]()

