BOGOR — Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI Mochamad Irfan Yusuf menekankan pentingnya kesiapan fisik dan mental calon jemaah haji Indonesia sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci. Menurutnya, syarat istitha’ah (kemampuan) ibadah haji tidak cukup hanya dinilai dari kemampuan finansial semata.

Pernyataan tersebut disampaikan Menhaj dalam acara Konsolidasi Penyelenggaraan Kesehatan Haji yang berlangsung di Bogor, Jawa Barat, Kamis (8/10/2026).

Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI Mochamad Irfan Yusuf bersama peserta Konsolidasi Penyelenggaraan Kesehatan Haji di Bogor, Kamis (8/10/2026). 

“Saya ingin jemaah haji kita benar-benar siap. Bukan hanya punya uang untuk membayar dan berangkat, tetapi semuanya siap. Situasi di sana siap, secara fisik juga siap,” ujar Irfan dalam arahannya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Menhaj menginstruksikan para tenaga kesehatan (nakes) agar memantau kondisi calon jemaah sejak dini melalui pemeriksaan intensif dan pendampingan berkelanjutan.

Irfan juga meminta tim medis untuk bersikap jujur dan objektif dalam mengeluarkan rekomendasi kelayakan terbang, tanpa ragu menunda keberangkatan jemaah yang secara medis belum siap.

“Jangan ragu, jangan takut, jangan khawatir. Kalau memang tidak bisa berangkat, sampaikan. Kalau hasil datanya, Bapak tidak bisa berangkat, mohon maaf, mungkin bisa dialihkan atau menunggu perbaikan tahun depan,” tegasnya.

Ia menegaskan bahwa transparansi hasil pemeriksaan kesehatan bukan untuk menyulitkan calon jemaah, melainkan demi menjamin keselamatan dan kelancaran pelaksanaan ibadah selama di Arab Saudi. Oleh karena itu, integritas dan profesionalisme tenaga kesehatan dipandang sebagai bagian dari ibadah.

Dalam kesempatan yang sama, Kementerian Haji dan Umrah memperkuat sinergi lintas kementerian bersama Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri. Kolaborasi ini difokuskan pada optimalisasi fasilitas rumah sakit daerah serta integrasi operasional layanan kesehatan jemaah secara menyeluruh.(rls/mn)

Loading