SAMARINDA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda mendesak agar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) segera kembali diterapkan di wilayahnya. Langkah darurat ini dibutuhkan untuk menekan eskalasi kebakaran lahan serta memulihkan ketersediaan air baku yang kian kritis akibat kemarau panjang.

Kepala Pelaksana BPBD Samarinda, Suwarso, menyebutkan bahwa hari tanpa hujan yang berkepanjangan memicu maraknya kebakaran lahan, terutama di wilayah rawan seperti Kecamatan Sambutan dan Palaran.

“Operasi modifikasi cuaca sangat kami butuhkan untuk membantu penanganan kekeringan. Kami berharap rekomendasi BMKG dapat menjadi dasar pelaksanaan OMC berikutnya,” kata Suwarso dalam siaran pers rilis Prediksi Musim Hujan 2026/2027 Provinsi Kalimantan Timur via Zoom, Jumat (9/10/2026).

Intrusi Air Laut dan Pertanian Terancam

Dampak kemarau tak hanya membakar lahan, tetapi juga mengancam pasokan air bersih warga. Fenomena intrusi air laut kini telah merambah sejumlah Instalasi Pengolahan Air (IPA) di daerah hilir, seperti IPA Selili, Pulau Atas, Kakap (Kahol), dan Bantuas. Akibatnya, air baku yang terdistribusi mengandalkan air asin dan hanya layak digunakan untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK).

Di sektor pangan, sekitar 500 hektare lahan persawahan di Samarinda terancam gagal panen. Meski pemanfaatan air dari lubang bekas tambang (void) mulai dikerahkan sebagai sumber irigasi alternatif, jangkauannya baru mampu mengairi separuh dari total luas sawah yang ada.

“Pemanfaatan sumber air alternatif dilakukan setelah melalui uji kualitas oleh Dinas Lingkungan Hidup Samarinda,” jelasnya.

Kondisi kekeringan juga memicu penurunan kualitas udara akibat maraknya asap. Guna melindungi kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak, Pemerintah Kota Samarinda telah memberlakukan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Selain itu, penyemprotan bahan kimia pada tumpukan batu bara yang mengeluarkan asap turut direncanakan untuk menekan pencemaran udara.

Mengingat musim hujan diperkirakan baru turun bertahap pada akhir Oktober hingga awal November, Suwarso mengingatkan pentingnya kewaspadaan ganda. Transisi cuaca dari kemarau ekstrem ke hujan deras berpotensi memicu bencana hidrometeorologi baru, seperti tanah longsor, pohon tumbang, dan banjir.

Untuk merespons ancaman tersebut, BPBD Samarinda berencana menggandeng BPBD Kaltim, BMKG, dan Balai Wilayah Sungai (BWS) guna menggelar apel kesiapsiagaan serta simulasi penanganan bencana lintas instansi dalam waktu dekat.(*/mn)

Loading