TADABBUR SURAT AL-WĀQI’AH —Ayat 10
Oleh Masykur Sarmian
وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ
_”Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman dan berbuat kebajikan), mereka itulah yang paling dahulu (masuk surga).”_
—QS. Al-Wāqi’ah: 10
Penjelasan Tematik
Setelah Allah menyebut golongan kanan dan golongan kiri, tiba-tiba muncul satu kelompok dengan ungkapan yang sangat istimewa:
وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ
Ada pengulangan kata as-sābiqūn,
“orang-orang yang terdahulu atau paling depan”.
Pengulangan ini bukan tanpa makna. Ia memberikan kesan penegasan sekaligus pengagungan: mereka bukan hanya orang yang berhasil, tetapi orang-orang yang berada di barisan terdepan dalam kebaikan.
Jika _Ashābul-Maimanah_ menggambarkan orang-orang yang memperoleh keselamatan, maka As-Sābiqūn menggambarkan mereka yang tidak puas hanya dengan selamat. Mereka ingin berada di depan dalam ketaatan. Mereka tidak menunggu kebaikan menjadi mudah, tidak menunggu orang lain bergerak lebih dahulu, dan tidak menjadikan amal sebagai sesuatu yang dilakukan sekadar untuk memenuhi batas minimal kewajiban. Mereka memiliki dorongan untuk selalu mendahului dalam kebaikan.
Di sinilah Al-Qur’an memperkenalkan sebuah mentalitas keunggulan spiritual. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk puas dengan keadaan yang biasa-biasa saja dalam kebaikan. Ada manusia yang sekadar tidak melakukan kejahatan, ada yang melakukan kebaikan, dan ada yang berlomba-lomba menjadi yang pertama dalam kebaikan. Tingkatan ini memperlihatkan bahwa kualitas manusia tidak hanya ditentukan oleh apa yang ia hindari, tetapi juga oleh seberapa besar kontribusinya terhadap kebaikan.
Psikologi modern mengenal konsep proactive behavior, yaitu kecenderungan seseorang untuk mengambil inisiatif sebelum keadaan memaksanya. Orang yang proaktif tidak menunggu masalah menjadi besar baru bertindak. Ia melihat kebutuhan, kemudian bergerak. Dalam konteks spiritual, As-Sābiqūn memiliki mentalitas seperti itu: mereka tidak menunggu diperintah untuk berbuat baik dalam setiap keadaan; hati mereka telah terlatih untuk mencari ruang bagi kebaikan.
Ada pula konsep intrinsic motivation, yaitu dorongan yang muncul dari dalam diri karena seseorang menganggap aktivitas itu bernilai, bukan semata-mata karena hadiah atau tekanan dari luar. Orang yang memiliki motivasi intrinsik dalam kebaikan tidak selalu membutuhkan pujian. Ia berbuat baik karena kebaikan itu sendiri telah menjadi bagian dari nilai hidupnya dan, lebih dalam lagi, karena ia mencari keridaan Allah.
Inilah perbedaan antara orang yang sekadar menjalankan kewajiban dan orang yang memiliki kerinduan untuk mendekat kepada Allah. Yang pertama bertanya, “Apa batas minimal yang harus aku lakukan ?” Yang kedua bertanya, “Apa lagi yang bisa aku lakukan agar hidupku lebih bermanfaat di hadapan Allah?”
Al-Qur’an sendiri memberikan dorongan untuk berlomba dalam kebaikan:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.”
(QS. Al-Baqarah: 148)
Perintah fastabiqu bukan sekadar melakukan kebaikan, tetapi berlomba untuk menjadi yang terdepan. Ini menunjukkan bahwa kompetisi tidak selalu buruk. Yang berbahaya adalah kompetisi untuk mengalahkan manusia demi ego. Islam mengubah orientasi kompetisi: berlomba bukan untuk menjatuhkan orang lain, tetapi untuk memperbanyak manfaat dan mendekat kepada Allah.
Ayat lain memberikan gambaran tentang karakter orang yang memiliki mentalitas tersebut:
أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ
“Mereka itu bersegera dalam mengerjakan kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.”
(QS. Al-Mu’minun: 61)
Kata يُسَارِعُونَ menunjukkan gerak yang cepat dan penuh kesungguhan. Ada energi di dalam diri mereka. Mereka tidak menunda kebaikan tanpa alasan.
Secara psikologis, penundaan kebaikan dapat berkaitan dengan procrastination, yaitu kecenderungan menunda sesuatu yang sebenarnya penting meskipun kita tahu penundaan itu dapat merugikan. Banyak manusia berkata, “Nanti saya berubah,” “Nanti saya lebih rajin ibadah,” “Nanti saya lebih banyak membantu,” atau “Nanti kalau sudah tua saya akan mendekat kepada Allah.” Masalahnya, manusia tidak pernah diberi jaminan bahwa “nanti” itu akan datang.
As-Sābiqūn memiliki kesadaran yang berbeda. Mereka memahami bahwa kesempatan adalah sesuatu yang harus segera dimanfaatkan. Ketika pintu kebaikan terbuka, mereka masuk. Ketika ada kebutuhan yang bisa dibantu, mereka bergerak. Ketika ada ilmu yang bisa dipelajari, mereka belajar. Ketika ada kesalahan yang harus diperbaiki, mereka tidak menunggu keadaan memaksa.
Munāsabah dan Penguatan Dalil
Allah berfirman:
وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَ
“Dan orang-orang yang paling dahulu, merekalah yang paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah.”
(QS. Al-Wāqi’ah: 10–11)
Ayat berikutnya memberikan penjelasan langsung bahwa keutamaan As-Sābiqūn bukan sekadar karena mereka banyak beramal, tetapi karena mereka memperoleh kedekatan dengan Allah.
Allah juga berfirman:
سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”
(QS. Al-Hadid: 21)
Ayat ini memperlihatkan bahwa kehidupan seorang mukmin seharusnya memiliki energi untuk mengejar ampunan dan surga, bukan hanya mengejar pencapaian dunia.
Rasulullah Muhammad SAW juga bersabda:
سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ
Para sahabat bertanya, “Siapakah orang-orang yang menyendiri dalam keutamaan itu, wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab:
الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ
“Yaitu laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah.”
(HR. Muslim)
Hadis ini memperlihatkan bahwa keunggulan spiritual tidak selalu berbentuk pencapaian yang terlihat manusia. Banyak orang yang “menang” di hadapan Allah justru karena kualitas batin yang tidak terlihat oleh manusia.
Pelajaran Kehidupan
Jangan puas hanya karena kita tidak melakukan keburukan. Tingkatkan diri menuju manusia yang aktif menghadirkan kebaikan. Jangan selalu menunggu orang lain memulai. Dalam keluarga, jadilah yang lebih dahulu meminta maaf. Dalam pekerjaan, jadilah yang lebih dahulu memberikan solusi. Dalam masyarakat, jadilah yang lebih dahulu membantu. Dalam ibadah, jangan menunggu hati sempurna untuk mulai mendekat kepada Allah.
Menjadi As-Sābiqūn bukan berarti harus menjadi manusia paling terkenal. Seseorang bisa menjadi pelopor kebaikan dalam ruang yang sangat kecil dan tidak dikenal siapa pun, tetapi sangat dikenal oleh Allah.
Renungan Peradaban
Peradaban besar tidak dibangun oleh manusia yang hanya bertanya, “Apa yang menjadi hak saya ?” Ia dibangun oleh manusia yang bertanya, “Apa yang bisa saya berikan?”
Inilah mentalitas As-Sābiqūn. Mereka tidak menunggu masyarakat berubah untuk berbuat baik. Mereka menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Mereka tidak menunggu sistem sempurna untuk berlaku jujur. Mereka memulai kejujuran dari dirinya. Mereka tidak menunggu orang lain peduli kepada bangsa, karena mereka sendiri telah lebih dahulu memberikan tenaga, ilmu, waktu, dan pikiran untuk kemaslahatan.
Peradaban yang kehilangan manusia-manusia seperti ini akan menjadi peradaban yang reaktif. Ia baru bergerak setelah krisis terjadi. Baru memperbaiki setelah kerusakan meluas. Baru peduli setelah kehilangan. Sebaliknya, peradaban yang dihuni oleh As-Sābiqūn memiliki energi proaktif: melihat masalah sebelum menjadi bencana, menanam sebelum membutuhkan panen, mendidik sebelum generasi kehilangan arah, dan membangun sebelum kehancuran datang.
Karena itu, ayat ini bukan hanya berbicara tentang siapa yang paling dahulu masuk surga. Ia sedang membentuk mentalitas pelopor.
Dan mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri bukan, “Apakah aku sudah menjadi orang baik ?” tetapi lebih tinggi dari itu:
“Dalam kebaikan apa aku berani menjadi yang pertama ?”
Wallahu A’lam
Samarinda 30 September 2026
![]()

