Dr. Hartono
Sekretaris Masjelis Ta’lim Al Ihsan dan Dosen STAIS Kutai Timur
Sebuah rumah tidak selalu dibangun dari batu bata, semen, dan kayu. Ada rumah yang dibangun dari doa, persaudaraan, ketulusan, serta harapan. Rumah semacam itu mungkin tidak selalu tampak megah secara fisik, tetapi ia hidup dalam ingatan banyak orang. Ia menjadi tempat untuk pulang, tempat untuk bertemu, tempat untuk belajar, sekaligus tempat untuk menanam harapan tentang masa depan. Dalam pengertian seperti itulah Majelis Ta’lim Al Ihsan layak disebut sebagai sebuah rumah besar. Didirikan pada 1993, Majelis Ta’lim Al Ihsan telah melewati perjalanan lebih dari tiga dekade. Tiga puluh tiga atau tiga puluh empat tahun bukanlah rentang waktu yang pendek.
Di dalamnya ada pergantian generasi, perubahan sosial, dinamika masyarakat, perubahan zaman, serta berbagai tantangan yang menyertai perjalanan sebuah lembaga. Namun, sejarah panjang Al Ihsan tidak hanya dapat dihitung dari usianya namun yang jauh lebih penting adalah apa yang telah ditanam selama perjalanan tersebut dan apa yang kini dapat dirasakan sebagai buahnya.
Al Ihsan pada mulanya tumbuh sebagai ruang pengajian dan silaturahmi. Namun seiring perjalanan waktu, ia berkembang menjadi wadah yang lebih luas, terbuka bagi berbagai unsur dan golongan tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan, maupun perbedaan lainnya. Keterbukaan inilah yang menjadikan Al Ihsan bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang bersama yang mempertemukan manusia dalam satu semangat: belajar, beribadah, bersilaturahmi, dan membangun kebaikan.
Di tengah masyarakat yang semakin kompleks, prinsip semacam ini menjadi semakin penting. Kita hidup dalam zaman ketika perbedaan sering kali lebih mudah dilihat daripada sebuah narasi persamaan. Identitas dapat menjadi alasan untuk mendekat, tetapi pada saat yang sama dapat pula menjadi alasan untuk menjauh serta mencoba menjadi sejuta alasan ketidak sesuaian. Perbedaan pilihan, latar belakang, cara berpikir, bahkan perbedaan dalam memahami persoalan keagamaan terkadang membuat manusia lupa bahwa sebelum semua identitas itu melekat, kita adalah sesama manusia yang membutuhkan ruang untuk saling menghormati, menghargai, menghadirkan kasih sayang serta nilai dan energi positif lainya.
Dalam konteks inilah Al Ihsan menemukan salah satu kekuatannya. Ia berusaha menjadi rumah yang pintunya terbuka oleh semua kalangan, rumah yang tidak bertanya terlebih dahulu dari mana seseorang berasal sebelum menerimanya sebagai bagian dari persaudaraan. Rumah yang tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membangun sekat. Sebab rumah besar memang seharusnya memiliki pintu yang lebar. Sebab itu, prinsip keterbukaan tersebut berjalan beriringan dengan nilai equality atau kesetaraan yang terus dan tak pernah Lelah untuk diejawantahkan dalam jalan panjangnya.
Senyatanya, setiap orang memiliki martabat yang harus dihormati, tidak ada manusia yang lebih tinggi dan sebaliknya tidak ada manusia yang rendahan jika sumbernya adalah kesamaan menuju pribadi-pribadu tattaquen. Kesetaraan bukan berarti menghilangkan perbedaan, tetapi memastikan bahwa perbedaan tidak menjadi alasan untuk merendahkan satu sama lain. Justru dalam kemampuan mengelola perbedaan itulah kedewasaan sebuah komunitas dapat dilihat dan paripurna untuk selamanya.
Karena itu, Al Ihsan memiliki kesempatan untuk terus menjadi ruang sosial-ruang keagamaan yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat. Di tengah kehidupan yang kadang mudah terfragmentasi oleh kepentingan dan identitas, kepentingan kelompok, kepentingan kapital, kepentingan politik praktis serta ego-ego sectoral majelis ta’lim dapat mengambil peran sebagai jembatan. Agama tidak dijadikan tembok yang memisahkan, tetapi jembatan yang menghubungkan.
Pengajian tidak menjadi ruang untuk mempertajam perbedaan, tetapi menjadi tempat untuk memperluas wawasan dan memperkuat persaudaraan. Namun religiusitas yang menjadi fondasi Al Ihsan tentu tidak cukup jika hanya berhenti pada ritual dan symbol keagamaan semata.
Nilai-nilai agama harus mampu turun dari mimbar menuju kehidupan nyata, pengajian harus melahirkan akhlak, nasihat harus melahirkan kepedulian, pengetahuan keagamaan harus mendorong manusia untuk menjadi lebih jujur, lebih sabar, lebih bertanggung jawab, dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Pada titik ini, keberhasilan sebuah majelis tidak semestinya hanya diukur dari seberapa banyak orang yang hadir dalam sebuah kegiatan. Ukuran yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah jamaah meninggalkan majelis. Apakah mereka menjadi lebih baik dalam keluarga? Apakah mereka lebih peduli kepada tetangga? Apakah mereka lebih menghargai perbedaan? Apakah mereka lebih bersedia membantu orang lain?
Jika pengajian mampu melahirkan perubahan tersebut, maka majelis telah bergerak melampaui kegiatan seremonial. Ia telah menjadi kekuatan moral dan sosial di tengah masyarakat. Perjalanan lebih dari tiga dekade juga memperlihatkan bahwa Al Ihsan tidak berhenti pada aktivitas keagamaan.
Nilai-nilai yang dibangun perlahan diterjemahkan menjadi karya nyata. Salah satu capaian pentingnya berada di bidang pendidikan melalui berdirinya MTs Mangku Alam dan SMA Islam Al Ihsan. Kehadiran dua lembaga pendidikan tersebut merupakan bukti bahwa Al Ihsan tidak hanya memikirkan kebutuhan generasi hari ini, tetapi juga berusaha menyiapkan generasi yang akan datang.
Pendidikan pada hakikatnya adalah cara sebuah generasi berbicara kepada masa depan. Ketika sebuah lembaga mendirikan sekolah, ia sesungguhnya sedang menanam sesuatu yang hasilnya mungkin tidak seluruhnya dapat dinikmati oleh mereka yang menanamnya. Anak-anak yang belajar hari ini akan tumbuh menjadi manusia yang menjalani kehidupannya bertahun-tahun kemudian. Karena itu, mendirikan lembaga pendidikan adalah sebuah bentuk keberanian untuk berpikir melampaui usia dan kepentingan generasi sendiri.
MTs Mangku Alam dan SMA Islam Al Ihsan tidak hanya penting sebagai institusi pendidikan formal, tetapi juga memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari proses pembentukan karakter generasi. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, pendidikan tidak cukup hanya memberikan pengetahuan. Generasi muda membutuhkan akhlak, kemampuan berpikir kritis, keterampilan, kemandirian, sekaligus kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Zaman telah berubah. Teknologi telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan membentuk cara berpikir. Karena itu, pendidikan yang dikembangkan Al Ihsan juga dituntut untuk terus bergerak.
Nilai-nilai keislaman tetap menjadi fondasi, tetapi cara menyampaikannya harus mampu menjawab kebutuhan zaman. Di sinilah semangat progresivitas menemukan maknanya: menjaga nilai tanpa membekukan cara.
Selain pendidikan, Al Ihsan juga mengembangkan ikhtiar di bidang ekonomi melalui perkebunan sawit. Kehadiran perkebunan tersebut dapat dipandang sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian dan keberlanjutan lembaga.
Sebuah organisasi yang ingin bertahan dalam jangka panjang membutuhkan fondasi ekonomi yang sehat. Pendidikan membutuhkan biaya, kegiatan sosial membutuhkan sumber daya, pengembangan dakwah membutuhkan dukungan, dan kelembagaan membutuhkan pengelolaan yang berkesinambungan. Ada filosofi sederhana dalam kegiatan menanam: seseorang menanam hari ini, tetapi belum tentu ia yang akan menikmati seluruh buahnya. Ia menanam karena percaya bahwa ada masa depan dan ada generasi setelahnya. Demikian pula sebuah lembaga. Generasi terdahulu menanam, generasi sekarang merawat, dan generasi berikutnya diharapkan menikmati sekaligus mengembangkan hasilnya.
Dalam konteks itu, perkebunan sawit menjadi bagian dari perjalanan Al Ihsan menuju kemandirian. Tentu, setiap aset dan kegiatan ekonomi menuntut amanah, profesionalitas, transparansi, dan tata kelola yang baik. Semakin besar aset sebuah lembaga, semakin besar pula tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa keberadaannya memberikan manfaat yang luas dan berkelanjutan. Perjalanan membangun Al Ihsan juga terus menemukan bentuknya melalui pembangunan sekretariat yang hingga kini masih berproses. Sekilas, sekretariat mungkin hanya terlihat sebagai bangunan fisik.
Namun bagi sebuah organisasi, sekretariat memiliki makna yang jauh lebih besar. Ia merupakan rumah kelembagaan, tempat administrasi dikelola, perencanaan disusun, program dirumuskan, pertemuan dilakukan, dan gagasan-gagasan baru dikembangkan. Karena itu, proses pembangunan sekretariat sesungguhnya bukan hanya pembangunan sebuah gedung. Ia merupakan bagian dari proses membangun kelembagaan yang semakin kuat. Rumah fisiknya sedang dibangun, sementara rumah organisasinya juga terus ditata. Keduanya harus berjalan beriringan. Sebab lembaga yang besar tidak hanya membutuhkan semangat dan loyalitas, tetapi juga membutuhkan tata kelola yang baik, regenerasi, profesionalitas, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Kini, setelah lebih dari tiga dekade, Al Ihsan berada pada sebuah fase penting. Ia memiliki sejarah, memiliki jamaah, memiliki lembaga pendidikan, memiliki ikhtiar ekonomi, dan terus membangun sekretariat sebagai pusat kelembagaan. Semua itu merupakan capaian yang patut disyukuri, tetapi sekaligus menjadi tanggung jawab untuk terus dikembangkan.
Sebab menjadi besar bukan berarti selesai. Justru semakin besar sebuah rumah, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaganya. Semakin banyak orang yang berada di dalamnya, semakin luas pula ruang yang harus disediakan. Semakin panjang sejarahnya, semakin penting pula regenerasi dipersiapkan. Karena itu, masa depan Al Ihsan sangat bergantung pada kemampuannya menjaga tiga nilai utama yang telah menjadi fondasinya: religiusitas, keterbukaan dan kesetaraan, serta progresivitas. Religiusitas memberikan akar agar Al Ihsan tidak kehilangan ruh. Keterbukaan dan kesetaraan memastikan rumah ini tetap menjadi milik bersama. Sementara progresivitas memberikan arah agar Al Ihsan tidak tertinggal oleh perubahan zaman.
Generasi muda harus menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Mereka tidak cukup hanya hadir sebagai peserta kegiatan. Mereka perlu diberi ruang untuk menjadi pelaku, penggerak, dan pemilik masa depan. Generasi terdahulu adalah akar yang memberikan kekuatan. Generasi hari ini adalah batang yang menjaga kehidupan. Sementara generasi muda adalah tunas yang kelak akan menentukan ke mana pohon besar Al Ihsan tumbuh. Dengan demikian, tiga puluh tiga atau tiga puluh empat tahun perjalanan Al Ihsan bukan sekadar cerita tentang panjang usia. Ia adalah cerita tentang ketekunan menanam. Tentang bagaimana sebuah majelis yang bermula dari ruang spiritual kemudian berkembang menjadi ruang pendidikan, ekonomi, sosial, dan kelembagaan.
Pada akhirnya, kebesaran Al Ihsan tidak ditentukan semata oleh seberapa lama ia berdiri atau seberapa banyak orang yang hadir dalam kegiatannya. Kebesaran sebuah lembaga lebih layak diukur dari seberapa banyak manfaat yang ditinggalkannya. Berapa banyak anak yang memperoleh pendidikan.
Berapa banyak generasi yang tumbuh dengan nilai agama. Berapa banyak orang yang menemukan persaudaraan. Berapa banyak karya yang lahir. Dan seberapa jauh manfaat tersebut dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Al Ihsan telah menanam sejak 1993. Kini pohon itu telah memiliki akar yang panjang, cabang yang mulai melebar, dan buah yang mulai dapat dirasakan melalui pendidikan, ikhtiar ekonomi, dan penguatan kelembagaan.
Tugas generasi hari ini bukan sekadar menikmati teduhnya, tetapi memastikan pohon itu terus tumbuh. Akarnya harus semakin kuat, tetapi cabangnya harus semakin luas. Pintu rumahnya harus tetap terbuka, tetapi arah jalannya harus semakin jelas.
Tradisinya harus tetap dijaga, tetapi masa depannya harus berani dibaca. Sebab rumah besar bukanlah rumah yang hanya dibangun untuk satu generasi. Ia adalah rumah yang disiapkan agar generasi demi generasi dapat menemukan tempat untuk pulang. Dan Rumah Besar Majelis Ta’lim Al Ihsan harus terus menjadi rumah semacam itu: rumah yang berakar pada religiusitas, berdiri di atas keterbukaan dan kesetaraan, diperkuat oleh pendidikan dan kemandirian, serta memiliki keberanian untuk menatap masa depan.
![]()

