TADABBUR SURAT AL-WĀQI’AH —Ayat 9
Oleh Masykur Sarmian
وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ
_”Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu.”_
—QS. Al-Wāqi’ah: 9
Penjelasan Tematik
Setelah memperkenalkan Ashābul-Maimanah, Allah memperkenalkan kelompok yang berlawanan dengannya, yaitu Ashābul-Masy’amah. Jika golongan kanan digambarkan dengan keberuntungan dan kemuliaan, maka golongan kiri adalah mereka yang berada dalam kesengsaraan dan kerugian. Menariknya, Al-Qur’an kembali menggunakan pola pertanyaan yang sama:
مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ
Ini bukan pertanyaan untuk mencari informasi, tetapi gaya bahasa yang menggambarkan betapa dahsyat keadaan mereka sehingga manusia perlu berhenti dan merenungkannya.
Kata al-masy’amah berasal dari akar kata yang berkaitan dengan syu’m, yaitu kesialan, keburukan, atau keadaan yang membawa kerugian. Dengan demikian, istilah ini bukan sekadar menunjukkan posisi “kiri”, tetapi menggambarkan sebuah keadaan manusia yang kehilangan keberuntungan akhirat. Mereka telah memilih jalan yang salah dan pada hari itu harus menyaksikan konsekuensi dari pilihan tersebut.
Di sinilah kita menemukan prinsip penting dalam pendidikan Al-Qur’an: kehidupan manusia dibentuk oleh pilihan yang terus-menerus diulang. Seseorang tidak tiba-tiba menjadi baik atau buruk pada hari kiamat. Karakter terbentuk jauh sebelumnya, melalui cara berpikir, keputusan, kebiasaan, dan respons terhadap berbagai keadaan yang diberikan Allah dalam kehidupan.
Psikologi modern mengenal konsep habit formation, yaitu proses ketika perilaku yang dilakukan berulang kali menjadi pola otomatis dalam diri seseorang. Apa yang pada awalnya membutuhkan pertimbangan lama-kelamaan menjadi kebiasaan, kemudian menjadi bagian dari karakter. Seseorang yang berulang kali memilih kejujuran akan semakin mudah bersikap jujur; demikian pula seseorang yang terus membenarkan kebohongan akan semakin mudah berdusta. Begitu pula dengan kesabaran, keserakahan, kedermawanan, kesombongan, pengendalian diri, dan berbagai sifat lainnya.
Karena itu, ayat ini sebenarnya sedang mengajak manusia membaca arah hidup, bukan sekadar menunggu hasil akhir. Jangan hanya bertanya, “Apakah aku akan selamat ?” tetapi lihatlah kebiasaan yang sedang kita bangun setiap hari. Sebab arah kecil yang terus diulang akhirnya menjadi perjalanan yang panjang.
Ada konsep lain dalam psikologi yang relevan, yaitu self-justification, kecenderungan manusia untuk mencari pembenaran terhadap pilihan yang telah dibuatnya. Ketika seseorang melakukan kesalahan, sering kali ia tidak langsung mengakui bahwa dirinya salah. Ia mencari alasan, menyalahkan keadaan, atau meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukannya sebenarnya wajar. Jika proses ini terus berlangsung, hati menjadi semakin sulit menerima koreksi. Di sinilah bahaya terbesar bukan sekadar melakukan kesalahan, tetapi kehilangan kemampuan untuk merasa bahwa dirinya perlu berubah.
Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan bahwa manusia dapat sampai pada keadaan ketika keburukan tidak lagi terasa sebagai keburukan. Allah berfirman:
فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Maka ketika mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”
(QS. Ash-Shaff: 5)
Ayat ini menunjukkan adanya hubungan antara pilihan manusia dan keadaan batinnya. Ketika seseorang terus memilih penyimpangan setelah datangnya kebenaran, penyimpangan itu dapat semakin menguasai hati.
Namun di sini kita juga harus memahami luasnya pintu taubat. Selama manusia masih hidup, belum ada seorang pun yang boleh memastikan dirinya termasuk golongan kiri. Bahkan orang yang memiliki masa lalu yang buruk masih memiliki kesempatan untuk mengubah arah hidupnya. Karena itu, ayat ini bukan alasan untuk berputus asa, tetapi alarm agar kita tidak terus berjalan menuju arah yang salah.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.'”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini penting agar kita tidak memahami Ashābul-Masy’amah secara fatalistik. Golongan kiri adalah hasil akhir bagi mereka yang tetap memilih jalan keburukan hingga akhir kehidupannya. Selama hayat belum berakhir, manusia masih memiliki kesempatan untuk membalik arah.
Munāsabah dan Penguatan Dalil
Allah memberikan gambaran lain tentang orang yang menerima catatan amal dari sebelah kiri:
وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ مَا أَغْنَىٰ عَنِّي مَالِيَهْ ۜ هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kirinya, dia berkata, ‘Alangkah baiknya jika kitabku ini tidak diberikan kepadaku, dan aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku. Wahai, kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Telah hilang kekuasaanku dariku.'”
(QS. Al-Hāqqah: 25–29)
Munāsabah ini sangat kuat karena memperlihatkan bahwa tragedi _Ashābusy-Syimāl_ bukan sekadar kehilangan kenikmatan akhirat. Mereka juga menyadari bahwa harta dan kekuasaan yang dahulu menjadi kebanggaan ternyata tidak mampu menyelamatkan mereka.
Rasulullah Muhammad SAW memberikan sebuah pelajaran yang sangat relevan tentang pentingnya konsistensi dalam amal:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling terus-menerus, meskipun sedikit.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan hanya berbicara tentang banyaknya amal, tetapi tentang konsistensi pembentukan diri. Kehidupan seseorang pada akhirnya merupakan akumulasi dari pilihan-pilihan kecil yang terus diulang. Karena itu, jalan menuju keselamatan tidak selalu dimulai dari perubahan yang spektakuler. Ia dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dijaga dengan istiqamah.
Pelajaran Kehidupan
Jangan menunggu perubahan besar untuk mulai memperbaiki diri. Perhatikan kebiasaan kecil yang setiap hari kita ulang. Cara kita berbicara, cara menggunakan waktu, cara memperlakukan orang lain, cara mencari rezeki, cara merespons kesalahan, dan cara menjaga hubungan dengan Allah semuanya sedang membentuk siapa diri kita.
Yang perlu ditakuti bukan hanya dosa yang besar, tetapi dosa yang terus dibiasakan sampai hati tidak lagi merasa perlu bertaubat. Dan yang perlu disyukuri bukan hanya amal besar, tetapi kebaikan kecil yang terus dipelihara dengan ikhlas.
Renungan Peradaban
Sebuah masyarakat juga dapat mengalami proses yang sama. Keburukan yang pada awalnya dianggap memalukan, jika terus dibiarkan, lama-kelamaan menjadi normal. Korupsi yang awalnya dianggap aib dapat berubah menjadi “budaya”. Kebohongan yang dahulu membuat orang malu dapat berubah menjadi “strategi”. Ketidakadilan yang dahulu memicu kemarahan dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa.
Inilah normalization of deviance, ketika penyimpangan yang berulang akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang normal karena masyarakat terbiasa melihatnya. Pada titik itu, masalah peradaban bukan lagi sekadar adanya orang yang berbuat salah, tetapi hilangnya sensitivitas kolektif terhadap kesalahan.
Al-Wāqi’ah mengingatkan bahwa masyarakat tidak boleh membiarkan keburukan menjadi kebiasaan. Sebab apa yang terus-menerus ditoleransi hari ini dapat menjadi karakter masyarakat pada masa depan.
Dan ayat kesembilan seakan mengajukan pertanyaan yang sangat serius kepada kita: jangan-jangan kita terlalu sibuk menentukan siapa yang termasuk golongan kiri, sementara kita sendiri sedang membangun kebiasaan yang perlahan membawa kita ke sana?
Wallahu A’lam
Samarinda, 29 September 2026
![]()

