SURAT AL-HUJURAT
Ayat 11–12
Oleh Masykur Sarmian
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“(11) Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang direndahkan lebih baik daripada mereka. Jangan pula perempuan-perempuan merendahkan perempuan lain, boleh jadi mereka yang direndahkan lebih baik daripada mereka. Janganlah kamu saling mencela dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan fasik setelah beriman. Barang siapa tidak bertobat, mereka itulah orang-orang yang zalim. (12) Wahai orang-orang yang beriman, Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
QS. Al-Hujurat: 11–12
Penjelasan Tematik
Setelah Al-Qur’an berbicara tentang mendamaikan konflik, kini ia masuk lebih jauh ke akar konflik yang sering dianggap kecil : lisan, ejekan, prasangka dan kebiasaan membicarakan aib orang lain.
Allah memulai:
لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ
“Janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain.”
Mengapa?
عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ
“Boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka.”
Inilah terapi Al-Qur’an terhadap kesombongan sosial. Manusia cenderung menilai orang lain berdasarkan apa yang tampak: harta, pendidikan, jabatan, penampilan, status sosial atau kelompoknya. Padahal Allah melihat sesuatu yang tidak mampu kita lihat: kedalaman hati dan ketakwaan.
Dalam psikologi modern terdapat social comparison, kecenderungan manusia membandingkan dirinya dengan orang lain. Jika tidak dikendalikan, perbandingan ini dapat melahirkan rasa superior, iri, rendah diri bahkan permusuhan.
Al-Qur’an memutus siklus itu dengan satu kesadaran:
“Boleh jadi dia lebih baik darimu.”
Kalimat sederhana, tetapi sangat ampuh menghancurkan kesombongan.
Kemudian Allah melarang:
وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ
“Janganlah kamu saling mencela.”
Menariknya, Allah mengatakan “jangan mencela dirimu sendiri”, bukan “jangan mencela orang lain”. Karena dalam perspektif iman, mencela saudaramu pada hakikatnya adalah melukai bagian dari tubuh sosialmu sendiri.
Kemudian:
وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
“Janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”
Lisan dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat. Sebuah ejekan mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi dapat tersimpan dalam ingatan seseorang selama bertahun-tahun.
Dari Lisan Menuju Prasangka
Ayat 12 kemudian bergerak dari sesuatu yang keluar dari mulut menuju sesuatu yang tersembunyi di dalam hati:
اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ
“Jauhilah banyak dari prasangka.”
Tidak semua prasangka adalah dosa, karena sebagian dugaan memang muncul tanpa disengaja. Tetapi Al-Qur’an meminta kita menjauhi banyak prasangka, sebab prasangka yang dibiarkan tumbuh dapat berubah menjadi keyakinan palsu.
Dalam psikologi dikenal istilah fundamental attribution error, kecenderungan menilai kesalahan orang lain sebagai cerminan karakter buruknya, sementara kesalahan diri sendiri sering dianggap akibat keadaan.
Seseorang terlambat datang, kita berkata, “Dia memang tidak disiplin.” Ketika kita terlambat, kita berkata, “Tadi ada urusan.”
Al-Qur’an mendidik kita untuk berhati-hati dalam menilai manusia.
Kemudian larangan itu semakin dalam:
وَلَا تَجَسَّسُوا
“Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain.”
Dan akhirnya:
وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا
“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”
Al-Qur’an memberikan gambaran yang sangat keras:
أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا
“Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?”
Gambaran ini begitu menggetarkan karena orang yang digunjingkan tidak berada di sana untuk membela dirinya. Ia seperti orang yang sudah mati—tidak mampu menjawab.
Munāsabah
Rangkaian ayat ini sangat indah:
Ayat 9–10: menjaga persaudaraan dari konflik besar.
Ayat 11–12: menjaga persaudaraan dari konflik kecil yang sering menjadi besar.
Al-Qur’an seakan mengetahui bahwa keretakan masyarakat tidak selalu dimulai dari perang. Kadang ia dimulai dari sebuah ejekan kecil, prasangka kecil, komentar kecil, kemudian berkembang menjadi kebencian.
Penguatan Dalil
Rasulullah SAW bersabda:
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ
“Tahukah kalian apa itu ghibah ?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia tidak sukai.”
HR. Muslim
Bahkan jika apa yang kita katakan itu benar, ia tetap dapat menjadi ghibah.
Pelajaran Kehidupan
Jangan mudah merasa lebih baik hanya karena kita melihat kekurangan orang lain. Bisa jadi dosa yang ia lakukan membuatnya menangis dan bertobat, sementara kebaikan yang kita lakukan membuat kita bangga dan sombong.
Bisa jadi manusia yang kita rendahkan justru memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Karena itu, semakin seseorang mengenal Allah, seharusnya semakin hati-hati ia menilai manusia.
Renungan Peradaban
Sebuah masyarakat tidak akan menjadi besar jika lisannya dipenuhi penghinaan, prasangka dan pembicaraan tentang aib.
Peradaban membutuhkan trust—kepercayaan sosial. Dan kepercayaan akan hancur ketika manusia merasa bahwa di belakangnya orang lain sedang membicarakannya, merendahkannya atau mencari kesalahannya.
Maka Surat Al-Hujurat sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar sopan santun.
Ia sedang membangun budaya saling menjaga kehormatan. Sebab masyarakat yang beradab bukan masyarakat yang tidak memiliki kekurangan.
Masyarakat beradab adalah masyarakat yang tidak menjadikan kekurangan saudaranya sebagai bahan untuk merendahkannya.
Dan mungkin inilah salah satu bentuk kemenangan yang paling sulit:
“Mampu menahan lisan ketika kita memiliki kesempatan untuk menjatuhkan orang lain.”
Wallahu A’lam
Samarinda, 25 Agustus 2026
![]()

