TADABBUR SURAT AL-HUJURAT
Ayat 9–10
Oleh Masykur Sarmian
وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِن فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“(9) Dan jika ada dua golongan orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat zalim itu sampai golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali, maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
(10) Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
QS. Al-Hujurat: 9–10
Penjelasan Tematik
Setelah ayat 6 mengajarkan tabayyun agar berita tidak menjadi sumber kerusakan, ayat 9–10 menghadapi kemungkinan berikutnya : bagaimana jika konflik sudah terjadi ?
Al-Qur’an tidak menggambarkan masyarakat beriman sebagai masyarakat yang tidak pernah berselisih. Ini sangat realistis. Manusia memiliki kepentingan, emosi, sudut pandang dan kelemahan. Bahkan orang-orang beriman pun dapat mengalami konflik.
Tetapi Islam memberikan garis yang tegas : perselisihan tidak boleh dibiarkan berubah menjadi permusuhan permanen.
Allah berfirman:
فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا
“Maka damaikanlah antara keduanya.”
Kata ashlihū menunjukkan tindakan aktif. Perdamaian tidak selalu lahir dengan sendirinya. Kadang membutuhkan pihak ketiga yang berani masuk, mendengar kedua pihak dan mengembalikan mereka kepada keadilan.
Dalam psikologi modern terdapat konsep conflict resolution, penyelesaian konflik melalui komunikasi, negosiasi dan pencarian solusi yang adil. Tetapi Al-Qur’an memberikan fondasi yang lebih dalam: tujuan penyelesaian konflik bukan sekadar menghentikan pertengkaran, melainkan mengembalikan hubungan kepada keadilan dan persaudaraan.
Karena itu Allah tidak hanya mengatakan “damaikan.” Allah mengatakan:
بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا
“Dengan adil dan berlaku adillah.”
Perdamaian tanpa keadilan sering hanya menjadi gencatan konflik, bukan penyelesaian konflik.
Jika salah satu pihak melakukan baghy— kezaliman atau agresi —Al-Qur’an tidak meminta masyarakat bersikap netral terhadap kezaliman. Pihak yang zalim harus dihentikan sampai kembali kepada perintah Allah. Setelah itu, proses perdamaian kembali dilakukan dengan adil.
Ini menunjukkan bahwa Islam tidak menyamakan perdamaian dengan membiarkan kezaliman.
Puncak Ayat: Persaudaraan
Kemudian datang ayat 10:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
Perhatikan susunan dan arsitektur ayatnya. Allah tidak mengatakan:
“Orang-orang mukmin seharusnya menjadi saudara.” Tetapi:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
Persaudaraan adalah identitas dasar mereka. Karena itu ketika dua orang mukmin bertikai, sesungguhnya yang sedang terluka bukan hanya hubungan dua individu, tetapi jaringan persaudaraan umat.
Maka :
فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
“Damaikanlah antara kedua saudaramu.”
Allah tidak menyebut mereka sebagai dua musuh. Bahkan ketika sedang bertikai, mereka tetap disebut saudara.
Betapa indah pendidikan Al-Qur’an: konflik tidak boleh menghapus identitas persaudaraan.
Munāsabah
Rangkaian ayat 6–10 sangat sistematis:
Berita —> tabayyun —> potensi konflik —> rekonsiliasi —> keadilan —> persaudaraan.
Ini seperti sebuah arsitektur sosial. Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan bagaimana mencegah konflik, tetapi juga bagaimana menyembuhkan masyarakat ketika konflik telah terjadi.
Penguatan Dalil
Rasulullah SAW bersabda :
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ؟ قَالُوا بَلَى، قَالَ إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ
“Maukah kalian aku beritahu sesuatu yang lebih utama daripada derajat puasa, shalat dan sedekah ?” Mereka menjawab, “Tentu.” Beliau bersabda, “Mendamaikan hubungan di antara manusia.”
HR. Abu Dawud dan Tirmidzi
Ini menunjukkan betapa besar nilai ishlāh—memperbaiki hubungan.
Pelajaran Kehidupan
Dalam sebuah perjuangan, tidak semua orang harus selalu sepakat. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perbedaan dikelola tanpa menghancurkan persaudaraan.
Jangan jadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk menghapus kebaikan seseorang. Maka jangan biarkan satu kesalahan membuat kita melupakan seluruh jasa seseorang. Dan jangan biarkan konflik sesaat menghancurkan hubungan yang dibangun bertahun-tahun.
Renungan Peradaban
Sebuah peradaban tidak akan kokoh hanya karena memiliki banyak orang pintar. Ia membutuhkan manusia yang mampu mendamaikan ketika orang lain bertikai.
Ada orang yang pandai memenangkan perdebatan, tetapi tidak pandai menyatukan manusia. Ada yang hebat mengkritik, tetapi tidak mampu memperbaiki. Ada yang mampu menunjukkan kesalahan, tetapi tidak mampu membuka pintu rekonsiliasi.
Al-Qur’an mengajarkan kualitas yang lebih tinggi : menjadi bagian dari solusi.
Sebab kekuatan sebuah umat bukan hanya terlihat dari seberapa kuat mereka menghadapi musuh, tetapi juga dari seberapa dewasa mereka menyelesaikan perbedaan di antara mereka sendiri.
Dan ayat ini berakhir dengan:
وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
Seakan-akan Allah mengajarkan bahwa rahmat akan turun kepada masyarakat yang mau menjaga persaudaraan.
Maka ketika dua saudara sedang bertikai, jangan buru-buru bertanya:
“Siapa yang harus aku bela ?”
Tanyakan lebih dahulu:
“Apa yang dapat aku lakukan agar persaudaraan mereka kembali utuh ?”
Wallahu A’lam
Samarinda, 24 Agustus 2026
![]()

