Ekky Yudistira
Founder Konsorsium Media Politika
GEMURUH angin menggambarkan liarnya aliran udara yang menguatkan bau busuk tanah yang tercampur dengan kemunafikan, kedengkian, egoisme dan seribu macam hal yang menggambarkan minusnya perilaku manusia yang berbalutkan jubah keimanan dan topeng ketabahan.
Kasarnya gemerisik dahan pohon yang bergoyang berpadu dengan gugurnya dedaunan dalam terpaan topan menyiratkan makna mendalam bahwa yang rapuh akarnya akan tumbang lebih dahulu, sementara yang berpura-pura kokoh hanya menunggu giliran. Begitu pula manusia. Ia mengira dirinya pohon besar yang tak tergoyahkan, padahal akar keimanannya hanya tertanam di permukaan, mudah dicabut oleh angin fitnah, mudah lapuk oleh hujan kepentingan.
Manusia lupa, bahwa di atas segala kesombongannya ada Yang Maha Kuasa yang cukup menghembuskan satu tiupan saja untuk merobohkan istana yang dibangunnya dari hasil menindas, menjarah, dan mengkhianati amanah. Tuhan tidak pernah tergesa, namun tak pernah pula lupa. Ia membiarkan manusia berlari sejauh mungkin dalam keangkuhannya, sebab semakin jauh ia berlari, semakin keras pula ia akan dibanting kembali ke tanah asal-muasal ia bermula yakni debu yang fana, fitrah yang telanjang.
Begitulah bangsa ini bergerak dari masa ke masa, bukan sebagai barisan yang berjalan maju, melainkan sebagai lingkaran yang berputar pada luka yang sama. Di zaman penjajahan, tanah ini dijarah oleh tangan asing yang mengangkut rempah dan hasil bumi ke seberang lautan sementara anak negeri kelaparan di atas tanahnya sendiri.
Ketika kemerdekaan direbut dengan darah dan air mata para pejuang, kita mengira penjajahan telah usai. Nyatanya ia hanya berganti wajah, dari kompeni bermeriam menjadi konglomerat berdasi, dari penjajah bertopi baja menjadi pejabat berjas rapi yang menandatangani izin usaha di atas tanah rakyat yang tak pernah ditanya pendapatnya.
Hutan-hutan yang dahulu menjadi saksi perjuangan kini ditebang demi tumpukan angka di neraca perusahaan. Tambang-tambang yang menyimpan kekayaan bumi pertiwi kini menjelma lubang menganga, meninggalkan air beracun bagi anak cucu yang bahkan belum sempat menikmati hasilnya. Sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan kini keruh oleh limbah, seperti keruhnya hati para pemegang kuasa yang lebih mencintai rente ketimbang rakyatnya. Inilah bentuk penjajahan baru. Bukan lagi oleh bangsa asing, melainkan oleh saudara sebangsa yang menjual ibu pertiwi kepada siapa saja yang berani membayar paling tinggi.
Yang paling menyayat bukanlah kerusakan alamnya, sebab alam masih bisa dipulihkan oleh waktu dan kesungguhan. Yang paling menyayat adalah merosotnya moralitas yang membuat semangat perjuangan tak lagi terwariskan. Dahulu, para pendahulu berjuang dengan darah demi anak cucu yang bahkan belum lahir, demi kemerdekaan yang belum tentu bisa mereka rasakan sendiri. Kini, banyak dari kita berjuang hanya demi kursi, demi proyek, demi nama yang tercantum dalam dokumen tender, tanpa peduli anak cucu akan mewarisi apa dari tanah yang telah habis dikeruk.
Generasi tua mewariskan kekayaan yang telah menyusut dan utang moral yang menggunung. Generasi muda, alih-alih diwarisi semangat juang, justru diwarisi sinisme bahwa segala sesuatu bisa dibeli, bahwa idealisme hanyalah barang mewah yang tak laku dijual di pasar kekuasaan. Maka jangan heran jika kelak sejarah mencatat generasi ini bukan sebagai generasi yang membangun, melainkan generasi yang menghabiskan.
Namun di tengah badai ini, tak ada gunanya hanya menanti pelangi datang dengan sendirinya. Pelangi tidak pernah muncul bagi mereka yang berdiam diri menunggu badai reda. Ia hanya hadir bagi yang berani menegakkan kepala di tengah hujan, yang berani berkata jujur ketika kejujuran adalah barang langka, yang berani menulis dan menyuarakan kebenaran meski harus berhadapan dengan kekuasaan yang lebih besar.
Tuhan memiliki kuasa untuk menghancurkan, tetapi Ia juga memiliki kuasa untuk membentuk ulang segala sesuatu kembali kepada fitrahnya yang suci. Bangsa ini pun demikian, masih bisa dibentuk ulang, asal ada keberanian untuk mengakui bahwa kita telah jauh tersesat dari cita-cita para pendiri bangsa. Perbaikan tidak akan datang dari langit tanpa usaha manusia yang mau merunduk, mengaku salah, dan kembali menanam akar-akar keimanan serta kejujuran yang dahulu sempat dicabut oleh keserakahan.
Sebab pada akhirnya, badai bukan untuk ditakuti, melainkan untuk disadari sebagai peringatan. Dan pelangi, seindah apapun ia nanti muncul, hanya akan menjadi milik mereka yang mau berbenah, bukan mereka yang hanya menunggu keajaiban datang tanpa mengubah apa pun dari dirinya sendiri.
![]()

