Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA

PERADABAN besar selalu dimulai dari tradisi membaca. Namun, ia tidak pernah berhenti pada membaca. Peradaban lahir ketika membaca melahirkan berpikir, berpikir melahirkan penelitian, penelitian melahirkan inovasi, dan inovasi menghadirkan kemaslahatan bagi umat manusia.

Karena itu, ketika kita memimpikan pesantren sebagai New Baitul Hikmah, pusat lahirnya ilmu pengetahuan dan peradaban seperti sering saya sampaikan, maka madrasah harus menjadi kawah candradimuka.

Madrasah sebagai tempat menempa generasi pembelajar, peneliti, penulis, inovator, sekaligus pemimpin masa depan. Bangsa yang ingin unggul tidak cukup hanya memiliki kekayaan alam. Yang jauh lebih menentukan adalah kekayaan pengetahuan dan kualitas manusianya, berakhlak dan memiliki kesadaran ketuhanan yang tinggi.

Sejarah Islam memberikan pelajaran yang sangat berharga. Kejayaan pada masa keemasan sekitar abad 7-8 Masehi, tidak datang secara tiba-tiba. Ia dibangun melalui budaya membaca, menulis, menerjemahkan, meneliti, dan berdialog dengan berbagai tradisi ilmu. Negara hadir memberi dukungan, ulama menjadi pelopor, lembaga pendidikan menjadi pusat pengembangan ilmu, dan masyarakat menghargai para ilmuwan. Ekosistem seperti itulah yang melahirkan peradaban.

Hari ini, tantangan kita berbeda, tetapi semangatnya harus sama.
Literasi tidak lagi sebatas kemampuan membaca buku. Literasi adalah kemampuan membaca kehidupan, memahami perubahan zaman, mengolah informasi, berpikir kritis, dan menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat. Madrasah tidak cukup melahirkan peserta didik yang menguasai ilmu, tetapi juga mereka yang mampu menghasilkan ilmu dan memberi manfaat bagi sesama.

Karena itu, budaya literasi tidak boleh berhenti menjadi kegiatan seremonial. Madrasah harus menjadi rumah bagi tradisi ilmu. Perpustakaan harus hidup. Ruang diskusi harus tumbuh. Kegiatan menulis, riset, dan kolaborasi perlu menjadi kebiasaan sehari-hari. Literasi harus menjadi budaya, bukan sekadar program.

Di era kecerdasan buatan, makna literasi menjadi semakin luas. Generasi madrasah harus mampu membaca Al-Qur’an dan kitab turats, sekaligus memahami ilmu pengetahuan modern, data, media digital, dan perkembangan teknologi. Artificial Intelligence bukan untuk ditakuti, tetapi juga tidak boleh diterima tanpa sikap kritis. Manusia tetap harus menjadi penentu arah. AI hanyalah alat, akal, hati nurani, dan etika tetap menjadi milik manusia.

Di tengah banjir informasi, tantangan terbesar bukan lagi kurangnya pengetahuan, melainkan kemampuan membedakan antara fakta dan hoaks, antara ilmu dan opini, antara kebenaran dan manipulasi. Karena itu, literasi harus melahirkan nalar kritis sekaligus akhlak yang mulia. Ilmu tanpa etika dapat menyesatkan, sementara etika tanpa ilmu akan kehilangan daya untuk menjawab tantangan zaman.

Ukuran keberhasilan literasi bukanlah berapa banyak buku yang selesai dibaca, melainkan berapa banyak gagasan yang lahir, penelitian yang dilakukan, karya yang dihasilkan, inovasi yang diciptakan, dan solusi yang diberikan kepada masyarakat. Perintah Iqra’ sesungguhnya mengajak kita membangun tradisi berpikir dan berkarya. Dalam Islam, ilmu terbaik adalah ilmu yang memberi manfaat (ilmun nafi).

Saya percaya, dari ruang-ruang kelas madrasah akan lahir generasi yang tidak hanya mampu membaca dunia, tetapi juga menulis masa depan Indonesia. Generasi yang berakar kuat pada nilai-nilai agama, unggul dalam ilmu pengetahuan, adaptif terhadap teknologi, dan menghadirkan kemaslahatan bagi kemanusiaan.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya mampu mewarisi peradaban. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melahirkan peradaban baru. Dan madrasah Indonesia harus menjadi salah satu lokomotif lahirnya peradaban itu.(*)

Loading