SAMARINDA — Ancaman kejahatan di ruang digital kini sudah berada di ambang pintu rumah warga, mengincar siapa saja tanpa ampun lewat jebakan finansial daring, penipuan licik, hingga sindikat siber yang kian menggurita. Tak ingin berpangku tangan melihat rakyat terus menjadi korban kebiadaban predator dunia maya, Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Kalimantan Timur mengambil langkah komando paling agresif: mendeklarasikan perlawanan total melalui Program Cyber Resilient Community (CRC)!
Diinisiasi langsung oleh Kepala SPN Polda Kaltim, Kombes Pol Pepen Supena Wijaya, S.I.K., gerakan masif ini tidak lagi berjalan setengah-setengah. Merasa penegakan hukum saja tidak cukup untuk meredam tsunami kejahatan siber, Kombes Pepen turun gunung melakukan gerilya politik dan sosial, menyerbu meja-meja kekuasaan hingga kampus terkemuka untuk membangun benteng pertahanan rakyat di ruang digital.

“Cyber Resilient Community merupakan gerakan bersama yang bertujuan membangun budaya sadar keamanan siber di tengah masyarakat. Dengan keterlibatan seluruh stakeholder, kami optimistis masyarakat akan semakin siap menghadapi tantangan di era digital!” tegas Kombes Pepen dengan nada berapi-api.
Aliansi Lintas Instansi Digalang mulai dari Istana Sultan hingga Kursi Parlemen Dibabat Habis!
Gerakan radikal pemberantasan buta digital ini terbukti bukan sekadar slogan kosong. SPN Polda Kaltim secara maraton menggelar operasi silaturahmi dan audiensi tingkat tinggi, merangkul seluruh kekuatan raksasa di Benua Etam tanpa terkecuali:
Dukungan penuh langsung dikunci dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan DPRD Provinsi Kaltim, memaksa para pemegang kebijakan untuk segera mengesahkan literasi siber sebagai program darurat daerah.
Benteng Akademik & Finansial turun yang menggandeng Universitas Mulawarman, Universitas Balikpapan, serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim untuk membongkar celah perampokan uang digital lewat riset, edukasi, dan audit keamanan transaksi finansial rakyat.
Modal Sosial Tokoh Kunci, Gerakan ini turut direstui oleh tokoh-tokoh sentral seperti Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo hingga Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI Sultan H. Adji Muhammad Arifin, demi mengerahkan massa akar rumput agar tidak mudah tertipu bujuk rayu penjahat siber.
Senada dengan langkah progresif tersebut, Kabid Humas Polda Kaltim, Kombes Pol Dr. Tedy Sopandi, S.I.K., M.Si., memperingatkan bahwa kejahatan siber saat ini sudah menjadi musuh bersama yang sangat mematikan bagi perekonomian keluarga.
“Keamanan siber saat ini menjadi tanggung jawab bersama. Sinergi antara Polri, pemda, legislatif, kampus, regulator, hingga tokoh masyarakat adalah fondasi penting dalam membangun masyarakat yang tangguh,” cetus Kombes Tedy.
Melalui Program CRC yang kini disulap menjadi gerakan nasional dari Kaltim, polisi memastikan tidak ada lagi tempat bagi para sindikat penipuan online untuk meraup untung di atas penderitaan rakyat.(rls/mn)
![]()

