SORONG – Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops Kapolri), Komjen Pol. Dr. M. Fadil Imran, M.Si., melontarkan kritik keras terhadap pola kerja kepolisian yang dinilai terlalu terjebak pada statistik administrasi ketimbang hasil nyata di lapangan. Dalam kunjungan kerjanya ke Polresta Sorong Kota, Papua Barat Daya, Kamis (16/7/2026), Fadil menegaskan bahwa keberhasilan polisi tidak bisa diukur dari seberapa banyak panggilan telepon 110 yang dijawab.

“Telepon terjawab adalah awal dari pelayanan, bukan akhir. Jangan hanya bertanya berapa telepon yang kita jawab. Mulai bertanya, berapa masyarakat yang benar-benar kita bantu. Itu ukuran pelayanan yang jauh lebih penting,” ujar Fadil dengan nada tegas di hadapan jajaran Polresta Sorong Kota.
Dalam arahannya, jenderal bintang tiga ini juga menyentil kecenderungan kepolisian yang terlalu fokus membangun Command Center dengan teknologi mahal dan layar besar, namun minim aksi operasional. Fadil menegaskan bahwa esensi pusat komando bukanlah pada kecanggihan perangkat keras, melainkan kecepatan pengambilan keputusan di lapangan.
“Command Center jangan selalu dibayangkan sebagai ruangan besar dengan banyak layar atau teknologi yang mahal. Hakikat Command Center adalah bagaimana kita menerima informasi, memahami masalah, mengambil keputusan, menggerakkan anggota, dan memastikan masalah masyarakat ditangani,” tegasnya.

Sentil Birokrasi Internal
Fadil juga menyoroti hambatan struktural yang sering kali menyulitkan masyarakat. Ia memperingatkan agar masyarakat tidak lagi dipingpong dengan alasan fungsi internal organisasi. Baginya, ketika warga memanggil polisi, mereka tidak peduli apakah itu urusan SPKT, Samapta, atau Reskrim.
“Masyarakat tidak perlu memikirkan ini urusan fungsi yang mana. Bagi masyarakat sederhana: saya membutuhkan polisi. Tugas kitalah memastikan kebutuhan itu diteruskan kepada personel yang paling tepat dan paling cepat,” katanya.
Data Bukan Sekadar Pajangan
Merespons tren kejahatan di wilayah hukum Polresta Sorong Kota—di mana tercatat 1.503 kasus sepanjang Januari hingga Juni 2026 dengan dominasi curanmor—Fadil mendesak jajarannya untuk berhenti memperlakukan data sebagai laporan administratif semata. Ia menuntut data tersebut segera diterjemahkan menjadi pemetaan operasional yang presisi.
Fadil memerintahkan agar patroli tidak lagi dilakukan secara acak tanpa arah. Ia menuntut polisi untuk hadir secara preventif di lokasi dan jam rawan berdasarkan data real-time.
“Data harus bisa menjawab: kejahatan paling sering terjadi di mana, jam berapa paling rawan, bagaimana pola kejadiannya, dan patroli mana yang paling dekat. Dari situ kita bisa menggerakkan anggota dengan lebih tepat,” perintahnya.
Di akhir arahannya, Fadil kembali menegaskan bahwa masyarakat tidak akan memuji polisi karena kecanggihan alat. Rakyat hanya akan menilai polisi dari seberapa cepat mereka hadir saat dibutuhkan dan seberapa tuntas masalah yang diselesaikan.
“Masyarakat tidak menilai seberapa canggih teknologi yang kita miliki ataupun seberapa besar layar yang ada di Command Center. Masyarakat menilai apakah ketika membutuhkan pertolongan, polisi dapat hadir dengan cepat dan membantu menyelesaikan masalahnya,” pungkasnya.
![]()

