SAMARINDA – Laju inflasi di Kalimantan Timur pada Juni 2026 menunjukkan tren kenaikan, dengan angka mencapai 0,70 persen (month to month). Kondisi ini dipicu oleh kombinasi faktor kebijakan harga BBM nonsubsidi serta tingginya mobilitas masyarakat saat libur sekolah, ditambah kendala cuaca pada sektor pangan.
Menanggapi dinamika tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kalimantan Timur langsung mengambil langkah mitigasi cepat melalui penguatan strategi 4K (Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim, Jajang Hermawan, mengungkapkan bahwa inflasi bulanan terjadi secara merata di seluruh wilayah IHK Kaltim. Balikpapan menjadi daerah dengan inflasi tertinggi (0,86 persen), diikuti Samarinda (0,72 persen), Penajam Paser Utara (0,39 persen), dan Berau (0,27 persen).
Guna mengintervensi kenaikan harga pada komoditas utama seperti bensin, angkutan udara, bawang merah, hingga beras, TPID tidak tinggal diam. Serangkaian operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM) telah digencarkan secara masif di berbagai titik, seperti Samarinda, Kutai Kartanegara, dan Bontang.
“Kami tidak hanya fokus pada pemantauan, tetapi juga aksi nyata di lapangan. Koordinasi antarwilayah diperketat untuk memastikan rantai distribusi pangan tidak terhambat, terutama untuk komoditas strategis,” jelas Jajang.
Menjaga Stabilitas melalui Sinergi
Selain melakukan intervensi fisik melalui distribusi beras SPHP dan Minyakita bersama Bulog, TPID Kaltim juga fokus pada manajemen ekspektasi masyarakat. Rapat koordinasi mingguan menjadi agenda wajib untuk membedah potensi gangguan pasokan lebih dini.
Salah satu fokus mitigasi ke depan adalah penguatan program Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS). Langkah ini diyakini menjadi kunci untuk menyeimbangkan supply dan demand di pasar, terutama saat masyarakat menghadapi tekanan biaya transportasi yang lebih tinggi.
Imbauan Belanja Bijak
Meski harga beberapa komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan sayuran sempat mengalami penurunan harga yang membantu menahan laju inflasi lebih tinggi, pemerintah tetap meminta masyarakat untuk tidak panik.
“Kami terus melakukan komunikasi publik secara intensif. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat adalah fondasi utama agar daya beli warga Kaltim tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi ini,” tutup Jajang.
Melalui langkah mitigasi dini dan penguatan koordinasi yang solid, TPID Kaltim optimistis stabilitas harga di wilayah Benua Etam akan tetap terkendali dan memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.(rls/mn)
![]()

