KAJIAN TEMATIK SURAT AL-MULK—Ayat 29

Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم

قُلْ هُوَ الرَّحْمَٰنُ آمَنَّا بِهِ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Katakanlah : Dialah Allah Yang Maha Pengasih. Kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya kami bertawakal. Maka kelak kalian akan mengetahui siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata.”
—QS. Al-Mulk Ayat 29

 

Penjelasan Tematik

Setelah pada ayat sebelumnya Allah mengingatkan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat melindungi orang-orang kafir dari azab-Nya, kini Allah memerintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan fondasi utama kehidupan seorang mukmin.

Bukan kekuatan.

Bukan jumlah pengikut.

Bukan kekayaan.

Tetapi tiga hal besar :

Mengenal Allah.

Beriman kepada Allah.

Dan bertawakal kepada Allah.

قُلْ هُوَ الرَّحْمَٰنُ
“Katakanlah: Dialah Ar-Rahman.”

Menariknya, Allah tidak memulai ayat ini dengan nama Al-Jabbar (Yang Maha Perkasa), atau Al-Qahhar (Yang Maha Menundukkan).

Tetapi dengan nama :

Ar-Rahman.

Yang Maha Pengasih.

Seolah Allah ingin menunjukkan bahwa hubungan antara hamba dan Tuhannya pertama-tama dibangun di atas kasih sayang.

Mengapa Allah Memperkenalkan Diri-Nya sebagai Ar-Rahman?

Nama Ar-Rahman berasal dari kata rahmah yang berarti kasih sayang yang luas dan meliputi segala sesuatu.

Kasih sayang-Nya diberikan kepada orang beriman maupun yang belum beriman.

Kepada yang taat maupun yang masih sering lalai.

Udara yang dihirup.

Mata yang melihat.

Jantung yang berdetak.

Matahari yang terbit.

Semua adalah bukti rahmat-Nya.

Karena itu fondasi keimanan yang sehat bukan hanya rasa takut kepada Allah.

Tetapi juga rasa cinta kepada-Nya.

Iman : Kepercayaan yang Melahirkan Ketenangan

امنا به
“Kami beriman kepada-Nya.”

Iman bukan sekadar pengakuan lisan.

Iman adalah keyakinan yang menetap di hati dan tercermin dalam kehidupan.

Ketika seseorang benar-benar beriman kepada Allah, ia memiliki tempat kembali saat dunia membuatnya lelah.

Ia memiliki pegangan ketika manusia mengecewakannya.

Ia memiliki harapan ketika keadaan tampak gelap.

Dalam psikologi modern terdapat konsep secure attachment, yaitu keterikatan yang aman sehingga seseorang merasa tenang karena memiliki tempat bergantung yang dapat dipercaya.

Pada tingkat spiritual, keimanan kepada Allah melahirkan rasa aman terdalam karena sandarannya adalah Zat Yang tidak pernah mengecewakan.

Setelah Iman, Lalu Tawakal

وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا
“Dan kepada-Nya kami bertawakal.”

Iman melahirkan tawakal.

Karena seseorang tidak mungkin bertawakal kepada pihak yang tidak ia percayai.

Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha.

Tawakal adalah mengerahkan ikhtiar terbaik lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Karena manusia hanya mengendalikan usaha.

Sedangkan hasil berada dalam kehendak Allah.

Inilah salah satu sumber ketenangan terbesar dalam hidup.

Mengapa Banyak Orang Sulit Tawakal ?

Karena manusia ingin mengendalikan segala sesuatu.

Ia ingin memastikan semua rencana berhasil.

Semua orang menyukainya.

Semua keadaan sesuai harapannya.

Padahal hidup tidak bekerja seperti itu.

Dalam psikologi modern terdapat istilah illusion of control, yaitu kecenderungan manusia merasa mampu mengendalikan lebih banyak hal daripada yang sebenarnya dapat ia kendalikan.

Ketika realitas tidak sesuai harapan, muncullah kecemasan.

Tawakal mengajarkan bahwa tidak semua hal harus berada dalam genggaman manusia.

Sebagian harus diserahkan kepada Allah.

Iman dan Tawakal Adalah Pasangan yang Tidak Terpisahkan

Ada orang yang mengaku beriman tetapi hidupnya selalu dipenuhi ketakutan.

Ada pula yang berbicara tentang tawakal tetapi malas berusaha.

Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan.

Beriman dengan hati.

Berusaha dengan sungguh-sungguh.

Kemudian bertawakal dengan penuh kepercayaan.

Inilah keseimbangan spiritual yang melahirkan ketenangan jiwa.

Siapa yang Sesungguhnya Tersesat ?

Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya :

فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
“Maka kelak kalian akan mengetahui siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata.”

Selama di dunia, orang-orang kafir menganggap kaum beriman berada di jalan yang salah.

Mereka merasa diri mereka yang paling benar.

Namun Allah menegaskan :

suatu hari seluruh tabir akan terbuka.

Dan saat itu kebenaran tidak lagi menjadi bahan perdebatan.

Karena semuanya akan terlihat dengan jelas.

Kesesatan Sering Kali Tidak Terasa sebagai Kesesatan

Salah satu bahaya terbesar dalam hidup adalah ketika seseorang tersesat tetapi merasa dirinya baik-baik saja.

Dalam psikologi modern terdapat konsep blind spot bias, yaitu kecenderungan seseorang mudah melihat kesalahan orang lain tetapi sulit melihat kesalahannya sendiri.

Karena itu manusia membutuhkan wahyu.

Membutuhkan petunjuk Allah.

Membutuhkan Al-Qur’an.

Agar ia tidak menjadikan dirinya sendiri sebagai ukuran kebenaran.

Pelajaran Kehidupan

Maka kenalilah Allah melalui nama-nama-Nya yang indah. Karena semakin seseorang mengenal Allah, semakin mudah ia mencintai dan mempercayai-Nya.

Selain itu, bangunlah kehidupan di atas fondasi iman dan tawakal.

Sebab dunia tidak pernah menjanjikan kepastian, tetapi Allah selalu menjanjikan pertolongan bagi hamba yang bersandar kepada-Nya.

Ayat ini juga mengajarkan bahwa ketenangan bukan lahir dari kemampuan mengendalikan segala sesuatu.

Melainkan dari keyakinan bahwa Allah mengendalikan segala sesuatu dengan sempurna.

Kadang manusia terlalu sibuk mengatur masa depan hingga lupa memperkuat hubungan dengan Allah.

Padahal sumber kekuatan terbesar bukan terletak pada rencana manusia, tetapi pada kedekatannya dengan Tuhan.

Dan semakin kuat iman seseorang, semakin ringan ia menghadapi perubahan, kehilangan, kegagalan, dan berbagai ketidakpastian kehidupan.

Saudara…,

Ayat ini seperti ringkasan kehidupan seorang mukmin.

Ketika ditanya siapa sandarannya, ia menjawab :

“Dialah Ar-Rahman.”

Ketika ditanya apa keyakinannya, ia menjawab :

“Kami beriman kepada-Nya.”

Ketika ditanya kepada siapa ia menyerahkan hidupnya, ia menjawab :

“Kepada-Nya kami bertawakal.”

Tiga kalimat sederhana.

Tetapi mampu membuat hati tetap tenang saat badai datang.

Karena orang yang mengenal kasih sayang Allah tidak mudah putus asa.

Orang yang beriman kepada Allah tidak mudah kehilangan arah.

Dan orang yang bertawakal kepada Allah tidak mudah hancur oleh keadaan.

Maka ketika dunia terasa berat, ingatlah ayat ini.

Peganglah iman.

Perkuat tawakal.

Dan sandarkan hati kepada Ar-Rahman.

Sebab di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, tidak ada tempat bersandar yang lebih kokoh daripada Allah SWT.

Wallahu A‘lam.
Samarinda, 19 Juni 2026

Loading