Oleh: Ekky Yudistira
Ada yang aneh dari cara kita menghadapi rasa sakit. Ketika gigi kita ngilu berdenyut di tengah malam, kita berlari ke kotak obat, merogoh paracetamol atau ibuprofen, lalu kembali tidur dengan keyakinan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Nyeri mereda. Kita lega. Kita lupa.
Tapi gigi itu tidak sembuh.
Di balik keheningan yang palsu itu, infeksi terus bekerja, diam, tekun, dan tidak kenal kompromi. Pulpa membusuk perlahan. Bakteri membangun koloni. Abses tumbuh seperti kota kecil di bawah gusi, dengan jalan-jalannya sendiri, dengan logikanya sendiri. Dan suatu hari, ketika bengkak sudah merambat ke rahang, ketika demam mulai membakar, ketika mulut tak bisa lagi dibuka dengan sempurna barulah kita sadar bahwa “selama ini kita hanya mematikan alarm, bukan memadamkan apinya”,
Di banyak daerah di negeri ini, tata kelola pemerintahan menyerupai pasien gigi yang keras kepala. Tahu ada yang sakit, tapi memilih obat yang paling mudah ditelan.
Ketika anggaran pembangunan bocor di meja pengadaan, dikeluarkanlah pernyataan pers yang menenangkan. Ketika proyek infrastruktur mangkrak setengah jalan, digelarlah rapat koordinasi yang protokoler. Ketika dana aspirasi menguap tanpa jejak pertanggungjawaban, diterbitkanlah laporan keuangan yang secara ajaib selalu dinyatakan “Wajar Tanpa Pengecualian”.
Paracetamol. Ibuprofen. Pernyataan sikap. Surat edaran. Rapat evaluasi.
Semua itu adalah pil pereda nyeri yang diminum oleh institusi yang sesungguhnya membutuhkan operasi saluran akar.
Dalam dunia kedokteran gigi, ada yang disebut Cracked Tooth Syndrome, atau lebih mudahnya adalah sindrom gigi retak. Retakannya halus, tak terlihat di rontgen biasa, dan nyerinya datang-pergi secara misterius: sakit saat digigit, lalu menghilang, lalu kembali lagi. Pasien bingung. Dokter awam pun bingung.
Korupsi di tubuh pemerintah daerah bekerja dengan mekanisme yang hampir identik.
Ia tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasar dan kasat mata. Ia hadir dalam retakan-retakan halus. Kontrak yang dipecah-pecah agar lolos dari ambang batas lelang, honorarium yang mengalir ke rekening yang tidak ada wajahnya, media massa fiktif yang menerima kucuran anggaran publikasi tanpa satu pun berita yang bisa diverifikasi pembacanya. Retakan itu tidak selalu terdeteksi audit biasa. Tapi siapa pun yang mau menggigit sedikit lebih keras akan merasakan ngilu yang mengkhawatirkan.
Dan seperti gigi retak yang dibiarkan, ia tidak akan sembuh sendiri. Ia akan patah, pada waktu yang paling tidak terduga.
Yang paling berbahaya dari sakit gigi bukanlah nyerinya, melainkan abses yang tumbuh tanpa suara.
Abses adalah infeksi yang sudah menemukan rumahnya yakni kantong nanah yang memiliki batas, memiliki tekanan, dan memiliki ambisi untuk menyebar. Ia tidak menunggu izin. Ia tidak peduli dengan agenda rapat. Ia tumbuh di sela-sela rutinitas kita yang sibuk.
Di tubuh pemerintahan daerah, abses itu bernama banyak hal, diantaranya adalah jaringan koordinator fee yang tumbuh subur di balik program-program resmi, kolusi pengadaan yang beroperasi dengan keanggunan dan ketepatan waktu yang justru mencurigakan, loyalitas anggaran yang lebih tunduk pada kedekatan personal daripada pada regulasi yang tertulis di atas kertas.
Ia tidak berbunyi. Ia tidak berdemonstrasi. Ia hanya tumbuh sampai suatu hari ia menekan saraf yang benar, dan seluruh sistem meraung kesakitan.
Pada titik itulah biasanya baru ada yang berteriak “Ini darurat!”. Padahal ia sudah ada sejak lama. Hanya tidak ada yang mau memeriksa.
Dokter yang Takut Mendiagnosis
Ada paradoks yang menyedihkan dalam dunia kedokteran, dokter yang tahu pasiennya sakit parah, tapi memilih untuk tidak menuliskan diagnosis yang sebenarnya, karena diagnosis yang jujur akan menyinggung, akan menyulitkan, akan mengganggu hubungan baik yang selama ini terjaga dengan nyaman.
Di ekosistem pemerintahan daerah, “para dokternya” adalah aparat pengawas internal yang laporan auditnya lebih mirip surat cinta daripada temuan independen, legislatif daerah yang fungsi pengawasannya lebih sering tidur daripada terjaga, dan mari kita jujur “pers lokal” yang sebagian di antaranya lebih memilih menjadi apotek pil pereda nyeri ketimbang dokter yang berani menyebut nama penyakit dengan tepat.
Ketika semua pihak yang seharusnya mendiagnosis justru sibuk meresepkan obat penenang, maka infeksi di dalam itu akan terus tumbuh dengan tenang, dilindungi oleh kolaborasi diam-diam antara yang sakit dan yang seharusnya menyembuhkan.
Dokter gigi yang baik tidak akan puas hanya karena pasiennya tidak lagi mengerang. Ia akan bertanya dan mencari, “mengapa bisa sampai begini? Di mana sumber infeksinya? Sudah seberapa dalam kerusakannya?”
Pemerintahan yang sehat membutuhkan pertanyaan yang sama, bukan dari konferensi pers yang terencana, bukan dari laporan yang dipesan dari dalam, tapi dari “pengawasan yang sungguh-sungguh independen”. Audit forensik yang tidak takut menemukan sesuatu, investigasi jurnalistik yang tidak dijual sebelum terbit, dan masyarakat sipil yang cukup melek untuk membaca tanda-tanda abses sebelum wajah kota ini bengkak tak karuan.
Perawatan saluran akar itu menyakitkan. Mahal. Butuh waktu. Tapi ia adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan gigi yang masih bisa diselamatkan.
Mencabut gigi yang sudah terlanjur mati itu pilihan terakhir yang juga tersedia. Tapi ia meninggalkan lubang. Dan lubang itu, jika dibiarkan, akan menggeser gigi-gigi di sekitarnya.
Demikian pula dengan institusi yang membusuk dari dalam.
Kita adalah bangsa yang mahir minum obat. Kita terampil mengelola nyeri. Kita ahli dalam membuat situasi yang mengkhawatirkan terlihat terkendali, setidaknya sampai foto rapat koordinasi berikutnya diunggah ke media sosial resmi pemerintah daerah, dengan tagar semangat dan senyum yang seragam.
Tapi gigi itu tidak sembuh hanya karena kita sudah tidak mengerang.
Dan pemerintahan yang koruptif tidak bersih hanya karena tidak ada yang cukup berani, atau cukup bebas untuk menyebut nama penyakitnya dengan lantang.
“Obat pereda nyeri adalah belas kasihan sementara. Diagnosis yang jujur adalah permulaan dari harapan.”
Pertanyaannya tinggal satu. Kita mau pilih yang mana?
Nb:
Ditulis sebagai cermin, bukan sebagai tuduhan. Karena cermin yang baik tidak memilih wajah mana yang boleh ia pantulkan.
![]()

