KAJIAN TEMATIK SURAT AL-MULK— Ayat 26
Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم
قُلْ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِندَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُّبِينٌ
“Katakanlah, sesungguhnya ilmu (tentang hari Kiamat itu) hanya ada di sisi Allah, dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas.”
—QS. Al-Mulk Ayat 26
Penjelasan Tematik
Pada ayat sebelumnya, orang-orang kafir bertanya dengan nada mengejek :
“Kapankah janji itu akan terjadi jika kalian memang benar ?”
Kini Allah memerintahkan Rasulullah SAW untuk memberikan jawaban yang sangat tegas dan penuh hikmah.
قُلْ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِندَ اللَّهِ
“Katakanlah, sesungguhnya ilmu tentang itu hanya ada di sisi Allah.”
Jawaban ini mengandung pelajaran besar tentang batas pengetahuan manusia.
Tidak semua hal diketahui manusia.
Tidak semua rahasia dibuka kepada makhluk.
Dan tidak semua pertanyaan harus dijawab dengan rincian yang manusia inginkan.
Ada wilayah ilmu yang Allah simpan hanya untuk diri-Nya sendiri.
Belajar Menerima Keterbatasan Pengetahuan
Manusia pada dasarnya ingin mengetahui segalanya.
Ingin mengetahui masa depan.
Ingin mengetahui apa yang akan terjadi besok.
Ingin mengetahui kapan kematian datang.
Ingin mengetahui kapan kiamat tiba.
Namun Allah mengajarkan bahwa salah satu bentuk kebijaksanaan adalah menerima bahwa manusia memiliki keterbatasan.
Karena tidak semua yang tidak diketahui harus diketahui.
Dan tidak semua rahasia kehidupan dibuka untuk manusia.
Mengapa Allah Menyembunyikan Waktunya?
Jika manusia mengetahui secara pasti kapan kematian datang, mungkin ia akan menunda taubat hingga menjelang waktu itu.
Jika manusia mengetahui kapan kiamat terjadi, mungkin ia hanya akan bersiap sesaat sebelum kedatangannya.
Karena itu Allah menyembunyikan waktunya agar manusia selalu hidup dalam kesiapan.
Bukan siap satu hari.
Tetapi siap setiap hari.
Inilah pendidikan spiritual yang sangat dalam.
Ilusi Kepastian dalam Psikologi Modern
Dalam psikologi modern terdapat konsep certainty bias, yaitu kecenderungan manusia merasa nyaman ketika segala sesuatu dapat diprediksi dan diketahui dengan pasti.
Ketidakpastian sering membuat manusia gelisah.
Padahal kehidupan memang diciptakan dengan unsur ketidakpastian.
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari.
Tidak ada yang tahu berapa sisa umurnya.
Dan justru di situlah letak ujian keimanan.
Apakah manusia tetap percaya kepada Allah meskipun tidak mengetahui seluruh detail masa depannya?
Fokus pada Tugas, Bukan pada Rahasia Allah
Setelah menjelaskan bahwa ilmu tentang hari kiamat hanya milik Allah, Rasulullah SAW diperintahkan berkata :
وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُّبِينٌ
“Dan sesungguhnya aku hanyalah pemberi peringatan yang jelas.”
Perhatikan.
Rasulullah SAW tidak diperintahkan menjelaskan sesuatu yang tidak beliau ketahui.
Beliau hanya diperintahkan menjalankan tugasnya.
Yaitu menyampaikan peringatan dengan jelas.
Ini mengajarkan prinsip penting :
fokuslah pada amanah yang diberikan Allah kepada kita.
Bukan pada hal-hal yang berada di luar wilayah kita.
Kerendahan Hati Seorang Nabi
Ayat ini menunjukkan akhlak luar biasa Rasulullah SAW.
Beliau tidak mengaku mengetahui yang gaib.
Beliau tidak berpura-pura memiliki pengetahuan yang tidak diberikan Allah.
Beliau dengan jujur menyatakan batas tugasnya.
Inilah teladan besar tentang integritas.
Bahwa orang yang benar-benar berilmu tidak malu mengatakan :
“Saya tidak tahu.”
Karena mengakui keterbatasan adalah bagian dari kejujuran ilmiah dan spiritual.
Obsesi terhadap Hal yang Tidak Penting
Banyak manusia menghabiskan energi untuk mencari jawaban atas hal-hal yang tidak menjadi tugasnya.
Kapan kiamat?
Bagaimana detail masa depan?
Apa yang akan terjadi puluhan tahun lagi?
Sementara ia melupakan pertanyaan yang jauh lebih penting :
Apakah aku sudah menjalankan kewajibanku hari ini?
Apakah aku sudah memperbaiki diriku?
Apakah aku sudah mendekat kepada Allah?
Kadang manusia terlalu sibuk mengejar rahasia Allah hingga lalai menjalankan amanahnya sendiri.
Psikologi Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan
Dalam psikologi modern terdapat konsep locus of control.
Orang yang sehat secara mental belajar membedakan antara hal yang dapat ia kendalikan dan hal yang berada di luar kendalinya.
Ia memusatkan energi pada apa yang bisa dilakukan.
Dan menyerahkan hal yang berada di luar kuasanya.
Ayat ini mengajarkan prinsip yang sama dalam perspektif spiritual.
Waktu kiamat bukan urusan manusia.
Tetapi mempersiapkan diri untuk menghadapinya adalah urusan manusia.
Pelajaran Kehidupan
Maka jangan habiskan hidup untuk mengejar hal-hal yang memang tidak Allah buka kepada manusia.
Karena tidak semua pertanyaan memiliki jawaban yang perlu diketahui sekarang.
Selain itu, belajarlah menerima bahwa keterbatasan pengetahuan adalah bagian dari hakikat sebagai makhluk.
Semakin seseorang berilmu, semakin ia menyadari betapa luasnya hal-hal yang belum diketahuinya.
Ayat ini juga mengajarkan pentingnya fokus pada tanggung jawab pribadi.
Karena banyak kegelisahan lahir ketika manusia terlalu memikirkan hal yang tidak berada dalam kendalinya.
Kadang manusia ingin mengetahui masa depan secara detail.
Padahal yang lebih penting adalah memastikan bahwa dirinya hidup dengan benar hari ini.
Dan semakin seseorang berserah diri kepada Allah, semakin ia mampu hidup tenang di tengah berbagai ketidakpastian kehidupan.
Saudara…,
Ayat ini mengajarkan sebuah kedewasaan yang sangat penting :
Tidak semua rahasia harus kita ketahui.
Ada wilayah ilmu yang menjadi hak Allah semata.
Dan ada wilayah amal yang menjadi tanggung jawab manusia.
Sering kali manusia ingin mengetahui apa yang akan terjadi esok.
Padahal yang lebih penting adalah apa yang ia lakukan hari ini.
Karena masa depan berada di tangan Allah.
Sedangkan amal berada di tangan kita.
Maka jangan sibuk mengejar sesuatu yang tidak menjadi tugasmu.
Fokuslah pada apa yang Allah amanahkan kepadamu.
Perbaiki ibadahmu. Perbaiki akhlakmu. Perbaiki hubunganmu dengan Allah dan sesama manusia.
Sebab ketika hari yang dijanjikan itu benar-benar datang,
Allah tidak akan bertanya :
“Apakah engkau tahu kapan ia datang ?”
Tetapi :
“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya ?”
Dan itulah pertanyaan yang sesungguhnya paling penting untuk dijawab selama kita masih hidup di dunia.
Wallahu A‘lam.
Samarinda, 16 Juni 2026
![]()

