KAJIAN TEMATIK SURAT AL-MULK—Ayat 15
Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya kalian akan dibangkitkan.”
—QS. Al-Mulk Ayat 15
Penjelasan Tematik
Setelah Allah menjelaskan bahwa Dia Maha Mengetahui seluruh rahasia manusia, kini Allah mengarahkan perhatian kepada nikmat yang setiap hari manusia pijak tetapi sering dilupakan :
bumi.
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian.”
Ayat ini mengandung keajaiban yang sering luput dari perhatian.
Bumi yang kita pijak sebenarnya adalah benda raksasa yang bergerak sangat cepat.
Namun Allah menjadikannya terasa tenang.
Manusia bisa berjalan. Bertani. Membangun rumah. Beraktivitas.
Seolah semuanya biasa.
Padahal semua itu adalah nikmat yang luar biasa.
Bumi yang Tunduk untuk Kehidupan Manusia
Kata :
ذَلُولًا
berarti sesuatu yang mudah dikendalikan dan dimanfaatkan.
Seperti hewan tunggangan yang jinak dan patuh kepada pemiliknya.
Allah menggambarkan bumi sebagai sesuatu yang ditundukkan bagi manusia.
Gunung menjaga kestabilan. Tanah menumbuhkan tanaman. Air menghidupkan kehidupan. Udara menopang pernapasan.
Semua bekerja dalam keteraturan yang menakjubkan.
Dan sering kali manusia menikmatinya tanpa pernah memikirkannya.
Islam Tidak Mengajarkan Pasif Menunggu Rezeki
Menariknya setelah menyebut bumi yang ditundukkan, Allah langsung berfirman :
فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا
“Maka berjalanlah di segala penjurunya.”
Allah tidak berkata : “Duduklah dan tunggulah rezeki datang.”
Allah berkata : “Berjalanlah.”
Artinya Islam mengajarkan usaha.
Tawakal bukan berarti pasif.
Doa bukan pengganti ikhtiar.
Keimanan tidak menghapus kewajiban bekerja.
Karena Allah menciptakan rezeki, tetapi manusia diperintahkan mencarinya.
Psikologi Pertumbuhan dan Sikap Proaktif
Dalam psikologi modern terdapat konsep proactive behavior yaitu sikap aktif mencari peluang dan solusi, bukan hanya menunggu keadaan berubah.
Orang yang berkembang biasanya memiliki keberanian melangkah.
Mencari ilmu. Mencari pengalaman. Mencari peluang.
Ayat ini mengajarkan semangat yang sama.
Allah telah menyediakan bumi, tetapi manusia tetap harus bergerak.
Karena banyak pintu rezeki dibuka setelah seseorang melangkah.
Rezeki Adalah Karunia, Bukan Semata-Mata Prestasi
Allah melanjutkan :
وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ
“Dan makanlah dari rezeki-Nya.”.
Perhatikan.
Allah tidak mengatakan : “Makanlah dari hasil kalian.”
Tetapi :
“Makanlah dari rezeki-Nya.”
Ini mengajarkan keseimbangan yang sangat indah.
Manusia wajib bekerja keras.
Tetapi jangan sombong.
Karena hasil akhirnya tetap berasal dari Allah SWT.
Ada orang yang bekerja keras tetapi gagal.
Ada yang mendapatkan peluang yang tidak pernah diduga.
Ada yang dipertemukan dengan jalan rezeki yang tidak direncanakan.
Semua itu menunjukkan bahwa usaha penting, tetapi keberhasilan tetap berada dalam kehendak Allah.
Bahaya Merasa Semua Karena Diri Sendiri
Salah satu penyakit hati yang sering muncul ketika berhasil adalah merasa semua keberhasilan lahir dari kemampuan pribadi.
Dalam psikologi modern terdapat istilah self-serving bias yaitu kecenderungan manusia menganggap keberhasilan berasal dari dirinya sendiri, tetapi kegagalan berasal dari faktor luar.
Akibatnya lahirlah kesombongan.
Padahal setiap keberhasilan selalu mengandung campur tangan Allah :
kesehatan yang diberikan-Nya, kesempatan yang dibukakan-Nya, dan kemampuan yang dianugerahkan-Nya.
Karena itu seorang mukmin bekerja keras, tetapi tetap rendah hati.
Jangan Lupa Tujuan Akhir Perjalanan
Menariknya ayat ini ditutup dengan kalimat yang sangat kuat :
وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Dan hanya kepada-Nya kalian akan dibangkitkan.”
Setelah berbicara tentang bumi, usaha, dan rezeki,
Allah mengingatkan :
jangan lupa akhir perjalanan.
Carilah rezeki. Bangun kehidupan. Kembangkan usaha.
Tetapi jangan sampai dunia membuatmu lupa bahwa suatu hari semua manusia akan dibangkitkan.
Karena kesuksesan dunia hanyalah bagian kecil dari perjalanan yang jauh lebih besar.
Bekerja adalah Ibadah, Tetapi Dunia Bukan Tujuan Akhir
Ayat ini mengajarkan keseimbangan luar biasa.
Islam tidak mengajarkan hidup hanya untuk akhirat sambil meninggalkan dunia.
Tetapi juga tidak mengajarkan tenggelam dalam dunia hingga melupakan akhirat.
Bekerjalah. Berkaryalah. Berusahalah.
Namun tetap ingat kepada Allah.
Karena dunia adalah ladang, bukan tujuan akhir.
Pelajaran Kehidupan
Maka jangan malas dalam mencari rezeki.
Karena Allah telah menyediakan bumi yang luas dan memerintahkan manusia untuk bergerak mencari karunia-Nya.
Selain itu, jangan pernah meremehkan langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Sebab sering kali rezeki datang bukan melalui lompatan besar, tetapi melalui konsistensi dalam langkah-langkah sederhana yang terus dilakukan.
Ayat ini juga mengajarkan bahwa keberhasilan harus melahirkan rasa syukur, bukan kesombongan.
Karena semakin tinggi seseorang naik dalam kehidupan, semakin ia perlu menyadari bahwa semua itu adalah karunia Allah SWT.
Kadang manusia terlalu fokus mengejar penghasilan hingga lupa tujuan hidupnya.
Padahal rezeki hanyalah sarana, bukan tujuan utama.
Dan ketika dunia dijadikan tujuan akhir, jiwa akan selalu merasa kurang.
Tetapi ketika Allah menjadi tujuan utama, dunia akan menemukan tempatnya yang proporsional.
Saudara…,
Ayat ini adalah salah satu ayat paling indah tentang hubungan antara ikhtiar dan tawakal.
Allah telah menyiapkan bumi. Allah menyediakan rezeki. Allah membuka peluang.
Tetapi manusia tetap diperintahkan untuk berjalan.
Melangkah. Berusaha. Bekerja.
Namun setelah semua usaha dilakukan, jangan lupa :
rezeki itu tetap milik Allah.
Dan jangan lupa pula bahwa setelah perjalanan panjang mencari nafkah, mengumpulkan harta, dan membangun kehidupan,
ada satu perjalanan terakhir yang pasti akan datang :
وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Hanya kepada-Nya kita akan dibangkitkan.”
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa banyak yang kita kumpulkan di bumi,
tetapi apa yang kita bawa ketika kembali kepada Allah SWT.
Wallahu A‘lam.
Samarinda, 5 Juni 2026
![]()

