KAJIAN TEMATIK SURAT AL-QALAM—Ayat 35
Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم
أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ
“Apakah pantas Kami menjadikan orang-orang yang berserah diri seperti orang-orang yang berdosa?”
—QS. Al-Qalam Ayat 35
Penjelasan Tematik
Ayat ini datang sebagai pertanyaan yang mengguncang logika manusia. Setelah Allah menyebutkan balasan indah bagi orang-orang bertakwa, kini Dia menegaskan prinsip keadilan yang sangat mendasar : tidak mungkin yang lurus disamakan dengan yang menyimpang.
Ini bukan sekadar pertanyaan, tetapi penolakan terhadap cara berpikir yang keliru.
أَفَنَجْعَلُ
“Apakah Kami akan menjadikan…”
Pertanyaan ini mengandung penegasan: tentu tidak. Allah tidak memperlakukan semua manusia secara sama tanpa melihat pilihan hidup mereka. Ada perbedaan antara yang menjaga diri dan yang merusak diri.
Keadilan Ilahi Tidak Menyamakan yang Berbeda
الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ
“Orang-orang yang berserah diri seperti orang-orang yang berdosa ?”
Muslimīn adalah mereka yang tunduk, menyerahkan diri kepada Allah, berusaha hidup dalam ketaatan. Sedangkan mujrimīn adalah mereka yang melanggar, yang sadar atau tidak memilih jalan dosa.
Ayat ini menegaskan bahwa hidup bukan tanpa konsekuensi. Pilihan-pilihan kecil yang diulang setiap hari membentuk arah akhir seseorang.
Rasa Tidak Adil yang Sering Muncul di Dunia
Di dunia, sering terlihat sebaliknya. Ada orang baik yang hidupnya sulit. Ada orang curang yang tampak berhasil. Ada yang jujur tetapi tertinggal, dan ada yang licik tetapi melaju cepat.
Ayat ini menjawab kegelisahan itu : dunia bukan tempat pembagian akhir. Ketidakseimbangan yang terlihat di dunia tidak berarti ketidakadilan, melainkan bagian dari ujian dan penundaan.
Apa yang tampak sama di permukaan, tidak sama di sisi Allah.
Bahaya Relativisme Moral
Sebagian manusia mulai berpikir : “Semua orang sama saja… yang penting hasil… semua juga punya salah…”
Ayat ini membongkar pemikiran itu. Tidak, tidak sama. Kebenaran tetap berbeda dari kebatilan. Ketaatan tidak setara dengan pelanggaran.
Dalam psikologi modern, ini bisa dikaitkan dengan moral disengagement— kecenderungan menormalkan kesalahan agar tidak merasa bersalah. Ayat ini memutus pola itu dengan tegas.
Identitas Batin Lebih Penting dari Status Lahir
Menarik bahwa yang dibandingkan bukan kaya dan miskin, bukan kuat dan lemah, tetapi muslim dan mujrim—dua keadaan batin.
Ini mengajarkan bahwa nilai manusia di sisi Allah bukan pada penampilan luar, tetapi pada arah hatinya.
Seseorang bisa sederhana tetapi mulia. Bisa tampak sukses tetapi rapuh di sisi Allah.
Renungan Singkat
Gaya Al-Qur’an di sini bukan memerintah, tetapi bertanya. Namun pertanyaan ini mengandung kekuatan besar. Ia memaksa akal untuk jujur.
Jika orang baik dan orang jahat disamakan, maka hilanglah makna perjuangan, hilanglah makna keadilan, hilanglah makna pilihan hidup.
Pelajaran Kehidupan
Jangan pernah lelah menjadi baik hanya karena melihat yang tidak baik tampak menang. Jangan goyah menjaga prinsip hanya karena dunia tidak selalu memberi imbalan langsung.
Keadilan Allah tidak selalu terlihat cepat, tetapi pasti.
Keadilan Allah tidak selalu datang dengan gemuruh yang segera, tidak pula selalu tampak di permukaan dalam hitungan hari.
Ia sering bekerja dalam sunyi, menenun sebab-sebab dengan ketelitian yang melampaui logika manusia.
Di saat manusia menilai lambat, sebenarnya keadilan itu sedang disusun dengan sempurna—agar ketika ia tiba, tidak menyisakan celah bagi penyangkalan.
Apa yang tampak tertunda bukan berarti diabaikan; ia hanya menunggu waktu yang paling tepat untuk menampakkan hikmahnya.
Ada saat-saat ketika orang baik merasa lelah karena kebaikannya tidak dihargai, dan orang zalim tampak berjalan tanpa hambatan.
Pada titik itu, jiwa diuji : apakah kita percaya pada keadilan yang tak kasat mata, atau hanya pada yang terlihat seketika.
Sebab dunia memang bukan tempat pembalasan yang sempurna.
Ia hanya panggung ujian, tempat niat dan tindakan ditimbang, sementara hasil akhirnya disempurnakan di waktu dan tempat yang Allah tentukan.
Kezaliman mungkin tampak kuat di awal, karena ia sering berjalan dengan cepat dan tanpa ragu.
Tetapi kekuatan itu rapuh, sebab ia berdiri di atas ketidakbenaran. Sementara kebenaran mungkin tampak tertatih, karena ia berjalan dengan kehati-hatian dan kesabaran.
Namun justru itulah yang membuatnya kokoh. Ketika keadilan Allah akhirnya menampakkan diri, ia tidak hanya menjatuhkan yang salah.
Tetapi juga mengangkat yang benar dengan kemuliaan yang tidak bisa direkayasa oleh siapa pun.
Maka tenanglah dalam berbuat baik, meski belum melihat hasilnya.
Bersabarlah dalam kejujuran, meski terasa berat. Jangan tergoda menukar prinsip hanya karena keadilan belum tampak.
Karena pada akhirnya, tidak ada satu pun yang luput dari hitungan-Nya.
Dan ketika keadilan itu tiba, kita akan memahami bahwa setiap detik penantian bukanlah sia-sia, melainkan bagian dari kesempurnaan rencana-Nya.
Saudara…,
Ayat ini seperti menenangkan hati yang pernah bertanya :
“Mengapa aku berusaha jujur, tapi hasilnya biasa saja ?”
“Mengapa yang curang justru terlihat lebih maju dan (bisa) unggul ?”
Jawabannya : karena cerita belum selesai.
Tidak semua perbandingan selesai di dunia.
Tidak semua hasil dibuka di sini.
Ada bab yang hanya terbuka di akhirat.
Maka teruslah berjalan di jalan yang lurus, meski sunyi. Karena Allah tidak pernah menyamakan yang menjaga diri dengan yang merusak diri.
Dan mungkin di dunia perbedaan itu samar, tetapi di akhirat ia akan tampak sangat jelas.
Wallahu A‘lam.
Samarinda, 3 Mei 2026
![]()

