KAJIAN TEMATIK SURAT AL-QALAM—Ayat 30
Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم
فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَلَاوَمُونَ
“Maka sebagian mereka saling berhadapan kepada sebagian yang lain sambil saling mencela.”
—QS. Al-Qalam Ayat 30
Penjelasan Tematik
Ayat ini menggambarkan tahap yang sangat manusiawi setelah kegagalan datang. Setelah mereka mengakui kesalahan kepada Allah, kini muncul sisi lain dari jiwa manusia: konflik horizontal. Hati yang baru saja luluh, kini berhadapan dengan sesama pelaku dalam keadaan emosi yang belum stabil.
فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Maka sebagian mereka saling berhadapan kepada sebagian yang lain…”
Mereka mulai saling menatap. Bukan lagi melihat kebun yang hancur, tetapi melihat orang-orang yang bersama-sama menyusun rencana itu. Saat kerugian terjadi, perhatian manusia sering berpindah dari masalah menuju siapa yang bisa disalahkan.
SAAT GAGAL, PERSATUAN PALSU MULAI RETAK
Ketika rencana masih tampak menguntungkan, mereka kompak. Mereka berjalan bersama, berbisik bersama, sepakat menutup hak orang miskin. Namun ketika hasil berubah menjadi kerugian, kebersamaan itu mulai pecah.
Ini menunjukkan satu hukum sosial : “persatuan yang dibangun di atas kepentingan semata biasanya rapuh.” Selama untung ada, semua tampak solid. Saat rugi datang, retakannya muncul.
Saling Menyalahkan adalah Reaksi Jiwa yang Belum Selesai
يَتَلَاوَمُونَ
“Saling mencela.”
Kata ini menunjukkan saling menyalahkan, saling melempar tuduhan, saling mengungkit peran masing-masing.
Dalam psikologi modern, ini dekat dengan blame shifting — mekanisme memindahkan beban kesalahan kepada pihak lain agar diri terasa lebih ringan.
Padahal kesalahan kolektif tidak selesai dengan mencari kambing hitam.
Mengaku Salah kepada Allah Lebih Mudah daripada kepada Sesama
Menarik bahwa pada ayat sebelumnya mereka berkata, “Kami zalim.” Namun pada ayat ini mereka masih saling mencela.
Ini menggambarkan kenyataan jiwa : kadang seseorang mudah menangis di hadapan Tuhan, tetapi sulit rendah hati di hadapan manusia. Mudah berkata “aku salah” secara umum, tetapi berat berkata “aku salah kepadamu.”
Karena ego sering bersembunyi dalam hubungan antar manusia.
Luka Membuka Watak Asli
Saat keadaan nyaman, banyak karakter buruk tersembunyi. Ketika tekanan datang, sifat asli sering muncul ke permukaan: siapa yang dewasa, siapa yang egois, siapa yang tenang, siapa yang mudah menyalahkan.
Krisis adalah alat pembuka topeng.
Banyak hubungan rusak bukan karena masalahnya besar, tetapi karena masalah itu menyingkap kualitas batin yang sebenarnya.
Kesalahan Bersama Butuh Tanggung Jawab Bersama
Mereka semua ikut dalam rencana. Maka yang dibutuhkan bukan saling caci, tetapi saling sadar dan memperbaiki.
Betapa banyak tim, keluarga, komunitas, dan organisasi hancur dua kali : pertama karena kesalahan, kedua karena cara mereka merespons kesalahan.
Kesalahan mungkin masih bisa diperbaiki.
Namun saling menghancurkan setelah kesalahan sering membuat luka makin dalam.
Pelajaran Kehidupan
Saat musibah atau kegagalan datang, jangan terlalu cepat mencari siapa yang salah. Tanyakan dulu : apa yang harus diperbaiki ?
Mencari kambing hitam memuaskan emosi sesaat.
Mencari hikmah menyelamatkan masa depan.
Mencari kambing hitam adalah jalan tercepat untuk menenangkan ego yang terluka.
Saat kegagalan datang, manusia sering tergoda menunjuk orang lain agar beban malu terasa lebih ringan.
Ada kepuasan sesaat ketika kesalahan berhasil dipindahkan ke pundak orang lain. Amarah terasa punya sasaran, harga diri seakan terselamatkan, dan hati mendapat pelarian sementara. Namun kepuasan itu rapuh seperti buih di atas ombak—besar sesaat, lalu hilang tanpa menyelesaikan apa pun.
Sejarah pribadi maupun sejarah bangsa menunjukkan bahwa budaya saling menyalahkan tidak pernah melahirkan kemajuan. Ia hanya menunda perbaikan, merusak kepercayaan, dan menambah luka baru di atas masalah lama.
Rumah tangga retak karena masing-masing sibuk menuduh. Organisasi runtuh karena energi habis untuk intrik. Negara tertinggal karena elite lebih gemar mencari musuh daripada memperbaiki sistem.
Kambing hitam mungkin memuaskan nafsu sesaat, tetapi ia sering mencuri masa depan secara diam-diam. Sebaliknya, mencari hikmah membutuhkan kedewasaan yang lebih tinggi.
Ia menuntut keberanian menatap cermin, mengakui kekurangan, membaca pesan di balik kegagalan, dan bertanya : “Apa yang harus diperbaiki agar ini tidak terulang ?”
Hikmah mengubah luka menjadi pelajaran, krisis menjadi kurikulum, dan jatuh menjadi pijakan untuk bangkit lebih kokoh.
Orang yang mencari hikmah tidak sibuk menyelidiki siapa yang harus dipermalukan, tetapi apa yang harus dibenahi. Karena itu, perbedaan antara jiwa kecil dan jiwa besar sering tampak saat badai datang. Jiwa kecil mencari siapa yang bisa disalahkan. Jiwa besar mencari apa yang bisa dipelajari.
Yang satu memelihara dendam, yang lain menanam kebijaksanaan.
Dan pada akhirnya, masa depan hampir selalu berpihak kepada mereka yang memilih hikmah di saat orang lain sibuk berebut kambing hitam.
Saudara…
Ayat ini seperti cermin yang sangat nyata :
Betapa sering manusia bersatu saat mengejar dunia, tetapi berpecah saat dunia hilang. Selama hasil ada, mereka tertawa bersama. Saat hasil lenyap, mereka saling menuding. Maka ukurlah hubungan bukan saat lapang, tetapi saat sempit.
Jika suatu hari kita berada dalam kegagalan bersama orang lain, jagalah lisan. Karena satu musibah sudah cukup berat, jangan ditambah dengan kata-kata yang merusak hati. Dan kadang orang yang paling matang bukan yang paling keras menyalahkan, tetapi yang paling tenang mencari jalan pulang.
Wallahu A‘lam.
Samarinda, 28 April 2026
![]()

